Showing posts with label Princessa. Show all posts
Showing posts with label Princessa. Show all posts

Monday, February 05, 2018

A Mother's Tears

Kepada bintang aku ingin bercerita. Tentang buah hati yang menitikkan air mataku. Ketika sabdaku dianggapnya hembusan angin semata. Sedih mengalir sampai ke ulu hati. Kecewa sungguh.

Mengapa ia seperti itu? Seusai kusampaikan pesan dengan lembut dan sepenuh hati? Saat kucoba ajarkan padanya tentang persaudaraan, tentang menahan kesenangan sendiri demi membagi kebahagiaan dengan saudara. Mengapa ia tak paham? Mengapa kisahku tak menyentuh hatinya? Mengapa? Dan berjuta mengapa bagai riak sungai, hanyutkanku dalam kecewa.

Aku pun enggan bicara padanya. Entah untuk berapa lama. Gemuruh di dadaku ini sungguh mengusik relung jiwa. Ku harus menepi.

Kelak semoga proses kedewasaanmu sempat kusaksikan  Nak. Semoga akan datang masa kau membuatku bangga. Kelak. Semoga.

~ Jejak Bintang ~

Monday, February 29, 2016

Kepada Puteriku

Sudah hampir satu dasawarsa usiamu, Nak. Begitu pesat pertumbuhanmu, dalam pendampingan kami, orangtuamu. Begitu banyak sudah kami mencoba mengajarkan padamu tentang hakikat hidup ini. Bahwa hidup adalah perjuangan dan meniti pengalaman.

Beruntunglah kamu lahir ke dunia ini tanpa ikut merasakan perihnya perjuangan kedua orangtuamu dalam upaya mencukupkan semua kebutuhanmu. Kamu hanya tinggal menikmati kesenangan yang kami sajikan. Insya Allah tak kekurangan sesuatu apa.

Mama menyadari, pada beberapa fase penting usiamu, kehadiran Mama tidaklah maksimal sebab harus menyesuaikan waktu dalam tuntutan pekerjaan. Dan waktu tak pernah menunggu siapa pun, Nak. Usiamu terus beranjak, pun usia Mama dan Papa.

Dalam hadir dan alpa Mama, dalam kelembutan dan kerasnya Mama mendidikmu, dalam terang dan gelap sisi kehidupan yang kita lalui, terkadang cahaya mentari menghangatkan, terkadang ombak menggulung mendatangkan badai. Ini hanyalah sebagian hal yang belum kamu pahami, Nak.

Maafkan bila Mama selama ini terlalu membuaimu dalam segala kesenangan, sehingga Mama lupa mengajakmu melihat sisi lain dunia yang keras dan penuh perjuangan. Bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung kita, yang hidupnya serba kekurangan.

Kini, tak lagi kami turuti semua keinginanmu, agar kau belajar, bahwa hidup tak selalu indah. Namun rasanya kami sedikit terlambat, Nak. Kamu telah terbiasa mendapatkan segala keinginan, dari berbagai penjuru yang menyayangimu.

Begitu sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan, sebab lantas kau abaikan. Hati ini menangis. Bukan karena kamu, Nak. Lebih menangisi diri sendiri yang tak sempurna dalam mendidikmu, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.

Kini kau Mama dorong keras untuk belajar, rajin membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hidup prihatin, rajin mengaji, dan lain-lain. Mama mulai membandingkan dan mengukur kamu dengan Mama saat seusiamu dulu. Mengapa kamu tak bisa seperti Mama, Nak? Mama dulu begini dan begitu.

Begitu sulitnya mendisiplinkan kamu, Nak. Mengajarkan padamu bagaimana rutinitas keseharian semestinya berjalan dalam keteraturan. Ah, kamu sudah terbentuk sedemikian rupa, Nak. Betapa sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan. Maka aku pun mulai mendidikmu dengan tegas.

Memupuk semangat belajarmu dengan motivasi ternyata tidaklah semudah itu. Kuajak kamu menonton film-film dengan pesan moral, namun kamu belum memahami. Aku pun menghela nafas panjang. Sebab memahami semua ini lebih salahku dibanding salahmu, Nak. Aku mulai merenungkan begitu banyak hal.

Mari kita samakan persepsi dulu tentang pentingnya rutinitas belajar di rumah, Nak. Sesuatu yang dulu begitu aku senangi. Bisakah kamu juga? Seiring usiamu nanti, Nak. Aku tak ingin kamu menyesali sesuatu tentang belajar. Bahwa ketika kelak kamu melihat "dunia" dalam pandangan luas. Sekeras apapun upaya kita yang belajar dalam banyaknya keterbatasan (fasilitas, dll), belumlah sanggup bersaing dengan "mereka" yang memiliki segalanya. Ketika "dunia" sudah banyak "menuntut" peranmu kelak, Nak.. kamu akan merindukan usia dimana kamu hanya perlu belajar dan belajar saja..

Kemudian kamu akan ingat bagaimana aku "memaksamu" untuk belajar dengan ikhlas hati, bahwa belajar adalah perbekalanmu kelak di masa depan. Haruskah menunggu hingga saat itu tiba, untuk mengajarkan padamu bahwa pembelajaran hidup dimulai sejak usia sekolah, Nak. Dimulai dari menguasai pelajaran-pelajaran di sekolah, Nak. Kamu akan menghadapi pelajaran kehidupan kelak. Bagaimana agar kamu memahami ini, Nak?

~ Jejak Bintang ~


Monday, October 07, 2013

Kertas Kosong

Secarik kertas ini hendak kuisi dengan bait-bait yang 'kan kuwariskan kepada putriku. Agar kelak ia membacanya dengan penuh haru, dan mengingatku dalam gemerincing kepingan waktu yang riuh mengiring langkahnya.

Putri kecilku memang tak cukup mengenalku. Mungkin aku juga demikian adanya, belum cukup mengenalnya sejauh ini. Semacam ada sekat-sekat waktu yang membatas, menjeda. Antara aku dengannya. Mungkin aku yang menutup diri, ataukah ia yang takut mendekat...? Entahlah...

Semoga seiring waktu, kedekatan hati 'kan hadirkan lebih banyak percakapan denganmu, Nak... yang mungkin 'kan menumbuhkan pemahaman mendalam antara kita... Amin...



~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 14, 2013

Menyederhanakan Pikiran


Aku ingin menyederhanakan cara berpikirku yang selama ini begitu rumitnya. Entah mengapa, begitu sulit bagiku untuk berpikir pragmatis. Padahal, rata-rata orang di sekelilingku cenderung memiliki pola pikir demikian. Hmmm, wajar saja jika aku kerap stuck dalam mengambil keputusan atau mencari solusi. Sebab seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiranku sendiri. 

Contoh sederhananya, aku bisa tiba-tiba speechless dihadapan putri kecilku yang mendatangiku dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tentang hal-hal yang baru dilihat atau didengarnya. Ya ampuuunn...!! Aku pernah terbengong-bengong dihadapannya saat dia bertanya, “Ma, pacaran itu apa, sih...? Boleh ngga kalau aku pacaran sama Kakak (maksudnya adalah kakak sepupu laki-lakinya)...?”. 

Kini aku menyadari, ternyata kerumitan pikirankulah yang membuatku tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Sebab belum apa-apa aku sudah ambil pusing duluan dengan pikiran “mengapa” ia bertanya demikian, dimana seharusnya aku lebih fokuskan pada “bagaimana” menjelaskan dengan cara yang paling sederhana sesuai dengan pemahaman putriku yang ketika itu baru berusia tiga setengah tahun. 

Menjadi seorang ibu memang bukanlah amanah yang sepele. Menurutku, seorang ibu di zaman hi-tech ini, hukumnya "wajib" untuk cerdas. Tidak semata-mata dalam hal mengurus rumah tangga, namun dari segi wawasan, karena seorang ibu "harus bisa" menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh anak, minimal secara mendasar. Agar anak mendapatkan informasi yang pertama dari ibunya, sebelum nanti ia menyerap informasi dari luar yang lebih luas lagi. 

Sesungguhnya seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiran, maka marilah jadi pemikir yang sederhana untuk menemukannya.

Jika kita bisa mengerti hal-hal yang orang lain tidak mengerti, berarti kita adalah orang yang penuh pengertian.

Bila kita mampu menjelaskan sesuatu yang pelik dengan sederhana, itulah tandanya kita telah cukup memahami.




~ Jejak Bintang ~

Thursday, April 25, 2013

menjadi temanmu...

teruntuk anakku;

Tumpukan buku mewarnai, buku kreativitas, buku cerita dongeng, krayon, sampai spidol... tentu saja takkan pernah cukup bagimu...

Iya kan, Nak...?

Kau pasti rindukan hadirku,
mendampingi dalam setiap kegiatanmu,
entah di sekolah, apalagi di rumah...

Sudah terlalu banyak masa-masa keemasanmu yang kulewatkan,
ditengah hentakan waktu yang menyita banyak enerjiku...

Dan kini usiamu semakin bertambah,
kemana saja aku selama ini...?

Hei, Nak, maafkan mamamu, yaa...
saat ini dan seterusnya,
selama nafas kita masih berhembus,
aku ingin menjadi temanmu...



Note October 12th, 2010
Jejak Bintang ~

Friday, June 29, 2012

Anak yang periang

Yang kutahu, karakter kita terbentuk dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Dan kini sedikit banyak aku pun mulai memahami kenapa aku memiliki karakter seperti ini.

Dan orang-orang di sekelilingku, sebagian mereka mau menerima, dan tentunya ada pula yang tidak berkenan menerima. Hehehe. So, they're who still be my friends would be special ones 'coz they can accept me as I am.

Dalam perjalanan hidup, aku kerap belajar dari pengalaman, bahwa sebagai individu, kita harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Agar lingkungan menerima kita, ada aturan-aturan yang perlu kita pahami. Itulah proses belajar, di sekolah bernama kehidupan.

Aku merasakan karakteristik diriku begitu kompleks. Maka aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada mereka yang hadir dalam episode-episode kehidupan, menorehkan warna dalam memperkaya pribadiku.

Aku tumbuh dan dibesarkan dalam kekakuan-kekakuan lingkungan keluarga yang kurasakan. Hanya ada satu cahaya kehangatan, my grandmother. Beliaulah yang begitu luar biasa memahat karakter dasar yang penuh dengan nilai-nilai luhur kehidupan.

Hingga di satu titik, tiba-tiba aku "harus" menjadi seorang ibu, di tengah gejolak persoalan hidup dan ketidakstabilan emosi yang tengah menderaku. Hadirlah dia, buah hatiku. Sungguh aku tiada kesiapan dalam mengasuhnya ketika itu. Tak tahu harus bagaimana terhadap bayi mungil yang terlahir ke dunia melalui rahimku. Dan dua minggu kemudian Allah SWT memanggil my grandmother ke haribanNya, untuk selamanya.

Ketika hamil, aku cenderung sangat sensitif. Aku sempat khawatir apakah hal itu akan berdampak pada karakter buah hatiku kelak. Namun waktu berlalu, ia tumbuh menjadi anak yang sehat. Subhanallah, begitu mudah mengurusnya, sebab ia cenderung mudah diatur dalam segala hal dan tidak rewel. Bahkan ia seolah begitu mengerti keterbatas waktu hadirku dalam mendampingi usianya beranjak. Tiap kebersamaan denganku selalu ia hadirkan senyum dan tawa. Ia senang bercerita, bernyanyi, dan selalu ada saja celotehnya setiap kali aku berada di rumah. Dan jika ia melihatku murung, tanpa kata-kata, ia akan memelukku erat. Mencairkan kebekuan hatiku.

Begitu banyak hal indah tentangnya. Tentang waktu-waktu yang berharga. Ah, tak terasa kini ia sudah mau masuk sekolah dasar. Dan aku merasa peranku begitu minim dalam mendampinginya dalam keseharian. Karena kesibukanku. Maafkan Mama, ya, Nak... Mama sangat bersyukur dan merasa beruntung karena telah memilikimu dalam hidup Mama. Allah SWT sungguh Maha Baik. DianugerahkanNya anak periang seperti kamu, di tengah takdirku yang berliku. Insya Allah di waktu ke depan, 'kan ada lebih banyak waktu untuk kita lewati bersama, Nak... Amiiin Yaa Robbal Alamiiin...

~ Jejak Bintang ~

Friday, September 23, 2011

Teknik Dasar Berbicara dengan Anak


Nadia Felicia | Rabu, 16 Februari 2011 | 23:42 WIB

KOMPAS.com - Berbicara dengan anak bukan perkara mudah. Bahkan bagi orangtua anak sekalipun ada kalanya merasa kesulitan berbicara dengan anak. Bagi Anda yang sering menyaksikan serial Nanny 911 pasti pernah menyaksikan kesulitan orangtua untuk mengajak anaknya berbicara. Bagaimana cara Nanny Deb dan Nanny Stella berbicara dengan anak? Begini tips yang mereka bagi dalam buku Nanny 911:

1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.

2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.

3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.

4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.

5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, "Kamu sepertinya sedang kesal."

6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.

7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, "Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara."

8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang.



*) taken from KOMPAS female

Wednesday, September 21, 2011

kasih tak bersyarat


Dalam redup cahaya lampu kamar ini, aku merasa sendirian. Pemandangan dihadapanku serba remang-remang, mendekati gelap. Semakin lama ku terdiam dan merenung, semakin kurasa hampa hatiku. Seperti kekosongan jiwa yang menyedihkan, rasa sepi yang tak tertolong. Tangis ku pun tumpah, malam itu. Tak tertahankan, menangisi sesuatu yang ku tak tahu apa, dan mengapa aku menangisinya.

Lalu kudekati wajah tidurmu, malaikat kecilku. Senyuman dalam tidurmu memancarkan kehangatan yang meluluhkan kebekuan hatiku. Kaulah hidupku, segalanya bagiku. Serta merta pikiranku tercerahkan setelah membelai lembut wajahmu dalam tidur yang lelap. Karena kutahu, aku memilikimu, memiliki kasih sayangmu yang murni, dan tak bersyarat, untukku, putri kecilku.


~ Jejak Bintang ~

Monday, July 18, 2011

Perjumpaan


Stasiun kereta ini kian terasa dingin. Tak terasa sudah 48 jam aku berada di tempat ini. Aku menanti kedatanganmu dengan sabar, Nak... Sekalipun waktu telah menjadikan hatiku terasa tawar, sebab terus menerka-nerka parasmu sekarang. Kau pasti cantik seperti namamu, nama yang dititipkan ibuku tersayang sejak kau masih dalam kandunganku, beberapa hari sebelum beliau akhirnya berpulang kepangkuan-NYA. Ah, betapa sedihnya jika mengenang beliau yang selalu mengusap-usap perutku, berharap usia sempat menghadirkan perjumpaan denganmu, Nak... Namun Tuhan berkata lain...

Tak ubahnya takdir kita juga, Nak... yang hanya mengizinkan aku untuk menimangmu selama 40 hari saja, kemudian mereka merampasmu seperti merasa lebih berhak memilikimu daripada aku, ibumu...

Kini, sudah dua dasawarsa kita terpisahkan oleh takdir. Aku masih tak percaya doaku telah di-ijabah oleh-NYA, Nak... tatkala DIA izinkan aku untuk melihatmu lagi...

Sejak dua malam yang lalu sudah kuuntai berjuta kata untuk menyambutmu, namun semua kata hanya menjadikanku terdiam membisu. Berjuta menjadi beribu, beribu menjadi beratus, beratus menjadi berpuluh, dan berpuluh menjadi tak ada... sebab apa yang bisa kuucap, sedangkan parasmu masih terasa maya dalam benakku, Nak...?

Ah, keretanya datang... semoga kali ini benar keretamu... tidak seperti sembilan kereta yang sudah lewat di jalur ini sebelumnya, dan tak satu pun membawa serta dirimu kedalam pelukanku... Kuperhatikan satu persatu wajah penumpang perempuan remaja. Ah, betapa bodohnya aku, mana mungkin aku dapat mengenali wajahmu, perawakanmu saja seperti apa kini aku tak tahu, yang aku tahu, aku hanya mengandalkan naluri keibuanku untuk mengenalimu dintara lautan manusia di stasiun kereta ini...

Ibu...?”, terdengar suara bergetar dari balik punggungku, kutolehkan wajahku perlahan sambil tertunduk, aku hanya berani melihatmu dari ujung sepatu keds-mu yang lusuh, kemudian naik ke tanganmu yang memegang secarik foto usang milikku. Oh, rupanya foto itu yang membuatmu mengenali wajahku, seraya menepuk pundakku, Nak... Perlahan kuberanikan kedua mataku untuk menatap wajahmu... dan... untaian kata tak ada yang mampu terucap dari sudut bibirku yang mengering dan kelu, Nak...

Sebab, untaian kata telah menjelma aliran sungai yang beriak di pelupuk mataku, dan sisanya menetes melalui anak sungai dihadapanku, kemudian bersama-sama mengalir menuju satu muara...

Aku seperti melihat cermin di masa silam, sebab parasmu tak ubahnya pantulan wajahku sendiri, di hadapan cermin... Dulu, dulu sekali, Nak...


# Corat-Coret (belajar menulis)

~ Jejak Bintang ~

Thursday, June 30, 2011

Kedekatan Ibu Pengaruhi Komitmen Anak Saat Dewasa


K32-11 | Dini | Kamis, 30 Juni 2011 | 09:22 WIB

KOMPAS.com
- Pernah menjalin hubungan dengan pria yang tidak kunjung memberi tanda-tanda ingin lanjut ke tahap serius? Menurut studi terbaru yang dimuat pada jurnal Psychological Science, masalah sulit menjalin komitmen ternyata bisa berasal dari pola asuh yang ia terima saat masih kecil dan remaja.

Para peneliti menemukan, anak-anak balita yang diasuh dengan baik oleh ibu mereka cenderung tumbuh menjadi orang yang berkomitmen terhadap hubungan pada saat dewasa. Begitu juga jika pada saat remaja mereka telah belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik. Sementara, anak-anak dan remaja yang tidak dapat melalui fase ini dengan baik cenderung sulit untuk memasuki tahap lebih serius saat sedang menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.

Ternyata, menurut peneliti, kedua pengalaman di atas ini secara tidak langsung mengajarkan anak dan remaja apa itu komitmen. Rasa aman yang dialami anak-anak membuatnya menjadi lebih mudah mencintai orang lain. Sedangkan pada para remaja, keberanian menghadapi konflik membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang tidak gampang lari dari kenyataan, termasuk pada saat hubungannya diterpa masalah pelik.

"Anak yang tumbuh bersama ibu yang dapat diandalkan, akan belajar untuk mengelola kebutuhannya sendiri dan membangun empati terhadap orang lain. Sementara dengan menghadapi konflik, para remaja akan belajar juga bagaimana supaya bisa didapat solusi yang bisa memuaskan kedua belah pihak," kata M. Minda Orina dari St. Olaf College, yang juga juru bicara dari Association for Psychological Science.

Sumber: Baby Center

Wednesday, March 23, 2011

for "A MOTHER"


Jika ibu-ibu rumah tangga merindukan perbincangan dengan sesama orang dewasa, ibu-ibu yang bekerja merindukan celotehan kanak-kanak. Jika ibu-ibu rumah tangga dengan susah payah menyuapkan bubur sereal kepada anak mereka yang rewel sambil membayangkan alangkah asyiknya kalau bisa menikmati makan siang di luar rumah dengan sesama orang dewasa; ibu-ibu yang bekerja menghabiskan makan siang mereka dengan perasaan cemas memikirkan bayi mereka yang mungkin tak mau makan waktu disuapi oleh pengasuh yang baru. Kesimpulanku: sebagai anggota salah satu profesi paling tua di dunia, yakni menjadi ibu, sesama ibu harus bersatu dalam perang yang lebih penting: menyingkirkan rasa bersalah karena menjadi ibu.

Hidup SEORANG IBU selalu diwarnai TARIK-MENARIK antara memenuhi KEBUTUHANnya sebagai PRIBADI dan mengusahakan yang terbaik bagi ANAK-ANAKnya.


Chicken Soup for the Working Mom’s Soul

Tuesday, October 05, 2010

"membuat keputusan bersama"


Banyak pasangan yang terjebak dalam konflik karena berpikir bahwa pengambilan keputusan hanyalah peran salah satu orang. Pengambil keputusan tak bisa berpusat pada Anda atau pasangan saja. Hubungan berpasangan membutuhkan keterlibatan dua individu dalam mengambil keputusan tentang hubungan maupun seputar masalah keluarga kedua belah pihak. Upayakan untuk selalu membuat keputusan bersama, bukan hanya keputusan Anda atau dia. (dikutip dari KCM; Rabu, 15/9/2010 | 08:12 WIB)


Well, di era internet yang canggih dan segalanya sudah serba modern, terkadang tanpa kita sadari, kehidupan rumah tangga bagi pasangan bekerja sudah bergeser cukup jauh dari norma-norma adat yang selama ini diterapkan secara turun temurun oleh orangtua kita. Terkadang (bahkan sudah menjadi rahasia umum masyarakat modern) peran istri menjadi lebih besar dari peran suami dalam berbagai segi kehidupan. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor penghasilan, karena sekalipun istri yang berpenghasilan lebih sedikit daripada suami, tetap 'berhasil' mendominasi peran utama dalam rumah tangga :D (maaf yach kaum suami)

Berbicara tentang keputusan bersama, suami memang cenderung 'pasrah' pada pendapat istri jika mengenai hal-hal 'printilan' dalam kehidupan sehari-hari. Hmm mungkin seperti halnya memilih merk sabun dan shampo yang digunakan, atau memilih menu untuk makan sehari-hari, dll. Ada banyak hal dimana wanita memang 'lebih pandai' dalam menentukan.

Namun, ketika hal ini dikaitkan dengan pola asuh atau pola mendidik anak, sepertinya akan jauh lebih baik jika menjadi 'urusan' bersama.

KARAKTER ANAK mulai terbentuk dari lingkungan terdekat, yaitu orangtua yang secara otomatis sadar atau tidak sadar telah menjadi panutan mereka semenjak usia dini. Anak akan merasa kebingungan untuk membedakan sebenarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, ketika kedua orangtuanya tidak satu suara dalam hal ini. Misalnya si anak senang tidur di lantai tanpa alas apapun (karpet/tikar/kasur lipat). Ibunya memperingatkan berkali-kali bahwa "Nak, tidak sehat kalau kamu sering tidur di lantai tanpa alas seperti itu...", lalu sang anak akan bertanya pada sang ayah, dan sang ayah menjawab "tidak apa-apa", dan hal itu akhirnya menjadi kebiasaan si anak. Setiap kali Ibunya melarang, dia akan meminta izin a.k.a. 'pembelaan' ayahnya untuk diperbolehkan, dan ayahnya selalu menuruti semua keinginan sang anak.

Kemarin, melalui facebook, aku bertanya pada salah seorang teman yang 'kunilai berhasil' mendidik anak-anaknya sehinggga terlihat anak-anaknya itu sangat berkarakter dan berperilaku baik. "Fren, kasih tau dong resepnya gimana membangun karakter anak sejak dini agar bisa seperti kedua anak-anakmu itu, ngiri deh aku ngeliatnya...". Temanku menjawab, "kuncinya, kompak dengan pasangan... jika kita bilang TIDAK BOLEH pada anak, maka pasangan harus mendukung, sehingga anak akan mengerti bahwa ketika kedua orangtuanya melarangnya untuk melakukan sesuatu hal, itu artinya memang sesuatu itu TIDAK BAIK..."

Ffffiiiuuuhhh... dan ada banyak lagi wejangan dari temanku itu dalam inbox facebook-ku, yang tidak mungkin semuanya kutuliskan disini. Intinya, dalam membuat keputusan bersama, entah itu hanya hal-hal 'printilan' atau 'kelas berat', semestinya kita memang harus 'menyamakan persepsi' terlebih dahulu dengan pasangan untuk kemudian mengambil keputusan yang sudah merupakan hasil kesepakatan bersama, terlebih ketika itu menyangkut sang buah hati yang karakternya masih sangat labil, kita sebagai orangtua mempunyai peran yang paling besar dalam membangun karakter anak sejak dini.


*sorry, pas dibaca lagi kok malah curhat.com yach* ;P

Tuesday, December 22, 2009

Makna Hari Ibu


Hari Ibu Untuk Mamaku,

Dear Mom, "Selamat Hari Ibu"... Aku tak pernah mampu untuk berucap apapun dihadapanmu, jika itu dalam makna yang mengharu biru... Sebab, kau telah membesarkanku seorang diri, dengan cara yang teramat unik bagiku... Ya, unik... sebab hanya aku yang dapat memahami kasih sayangmu, jika orang lain tak dapat melihatnya dengan kasat mata, apalagi merasakan... Apa yang mereka tahu tentangmu, Mom... tentang aku, tentang keluarga kita yang aneh bin ajaib... Semua peristiwa yang menguatkan kita untuk melanjutkan perjalanan kehidupan yang tak selalu ramah...??

Tak ada kata yang dapat melukiskan perasaanku, tentang arti hadirmu dalam hidupku, tentang kekagumanku yang tersembunyi atas segala perjuanganmu, tentang rasa penghargaan yang mendalam atas semua yang telah kau beri dan kau hadirkan kedalam hidupku... Aku sangat berterima kasih... Dan maafkan aku bila, aku belum dapat membalas semua kebaikanmu sampai hari ini... "Selamat Hari Ibu, Mom..."


Hari Ibu Untukku,

Dear Anakku Tersayang... Mama tahu, kamu masih terlalu kecil untuk mengerti makna hari ibu, terlebih untuk mengucapkan sesuatu...

Nak... Mama hanya ingin kamu tahu, bahwa makna hari ibu ini terasa begitu hambar bagi mama... Sebab, sampai usiamu saat ini (3 tahun), apa yang telah mama berikan kepadamu, Nak...?? Mama terlalu banyak alpa dalam menemani masa pertumbuhanmu, mama terlalu sibuk dan asik dengan urusan dan dunia mama sendiri... Setiap kali mama melihatmu, perasaan bersalah seringkali menggelayuti hati mama, namun mama tak mungkin dapat berkata-kata banyak terhadapmu yang masih kecil, mama hanya mampu memelukmu erat, berharap satu pelukan erat itu dapat menggantikan waktu-waktu kebersamaan kita yang terbuang...

Tapi, kamu harus tahu, Nak... Mama sangat menyanyangi kamu, mama selalu ingin memberikan segala yang terbaik bagimu... Suatu hari nanti, kita pasti akan punya lebih banyak waktu untuk bersama... mama ingin membuktikan bahwa kelak akan tiba waktu dimana kita akan menjadi sahabat terbaik bagi satu sama lain, seiring laju usiamu kau akan dapat mengerti lebih banyak dan belajar banyak tentang kehidupan...

Peluk erat mamamu, Nak... Menyanyangimu sedalam kalbu...


~ Jejak Bintang ~