Friday, June 29, 2012

Anak yang periang

Yang kutahu, karakter kita terbentuk dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Dan kini sedikit banyak aku pun mulai memahami kenapa aku memiliki karakter seperti ini.

Dan orang-orang di sekelilingku, sebagian mereka mau menerima, dan tentunya ada pula yang tidak berkenan menerima. Hehehe. So, they're who still be my friends would be special ones 'coz they can accept me as I am.

Dalam perjalanan hidup, aku kerap belajar dari pengalaman, bahwa sebagai individu, kita harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Agar lingkungan menerima kita, ada aturan-aturan yang perlu kita pahami. Itulah proses belajar, di sekolah bernama kehidupan.

Aku merasakan karakteristik diriku begitu kompleks. Maka aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada mereka yang hadir dalam episode-episode kehidupan, menorehkan warna dalam memperkaya pribadiku.

Aku tumbuh dan dibesarkan dalam kekakuan-kekakuan lingkungan keluarga yang kurasakan. Hanya ada satu cahaya kehangatan, my grandmother. Beliaulah yang begitu luar biasa memahat karakter dasar yang penuh dengan nilai-nilai luhur kehidupan.

Hingga di satu titik, tiba-tiba aku "harus" menjadi seorang ibu, di tengah gejolak persoalan hidup dan ketidakstabilan emosi yang tengah menderaku. Hadirlah dia, buah hatiku. Sungguh aku tiada kesiapan dalam mengasuhnya ketika itu. Tak tahu harus bagaimana terhadap bayi mungil yang terlahir ke dunia melalui rahimku. Dan dua minggu kemudian Allah SWT memanggil my grandmother ke haribanNya, untuk selamanya.

Ketika hamil, aku cenderung sangat sensitif. Aku sempat khawatir apakah hal itu akan berdampak pada karakter buah hatiku kelak. Namun waktu berlalu, ia tumbuh menjadi anak yang sehat. Subhanallah, begitu mudah mengurusnya, sebab ia cenderung mudah diatur dalam segala hal dan tidak rewel. Bahkan ia seolah begitu mengerti keterbatas waktu hadirku dalam mendampingi usianya beranjak. Tiap kebersamaan denganku selalu ia hadirkan senyum dan tawa. Ia senang bercerita, bernyanyi, dan selalu ada saja celotehnya setiap kali aku berada di rumah. Dan jika ia melihatku murung, tanpa kata-kata, ia akan memelukku erat. Mencairkan kebekuan hatiku.

Begitu banyak hal indah tentangnya. Tentang waktu-waktu yang berharga. Ah, tak terasa kini ia sudah mau masuk sekolah dasar. Dan aku merasa peranku begitu minim dalam mendampinginya dalam keseharian. Karena kesibukanku. Maafkan Mama, ya, Nak... Mama sangat bersyukur dan merasa beruntung karena telah memilikimu dalam hidup Mama. Allah SWT sungguh Maha Baik. DianugerahkanNya anak periang seperti kamu, di tengah takdirku yang berliku. Insya Allah di waktu ke depan, 'kan ada lebih banyak waktu untuk kita lewati bersama, Nak... Amiiin Yaa Robbal Alamiiin...

~ Jejak Bintang ~

No comments: