Apa itu intelek? Menurut wikipedia, cendekiawan atau intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.
Banyak orang yang diam-diam menganggap dirinya intelek. Tetapi apakah benar demikian adanya? Berikut ini adalah ciri-ciri umum dari orang yang memiliki intelektualitas tinggi.
1. Tidak terburu-buru. Berpikir secara mendalam sebelum mengatakan atau berbuat sesuatu. Senantiasa berusaha mengolah pemikiran dan memahami jalannya percakapan dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya.
2. Memiliki pendapat dan pemikiran yang cair. Artinya, mampu bersikap fleksibel ketika diharuskan untuk mengubah pendapatnya. Memiliki kemampuan membentuk keyakinan dan opini sendiri, menjaga diri dari kekakuan dan opini tertutup.
3. Cocok dengan banyak orang. Memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan memiliki kemampuan untuk mensinkronisasikan segala kemampuan diri sesuai dengan kebutuhan dalam lingkungan.
4. Seorang intelektual tidak memberikan kontribusi yang tidak perlu. Jika tidak ada hal yang perlu untuk dikatakan, lebih baik diam.
5. Menyadari kesalahan orang lain dan memahami bahwa dirinya pun tidak luput dari kesalahan. Tidak pernah merasa sungkan mengakui kesalahan apabila telah dilakukan.
6. Bertindak atas intuisi, dan mempercayainya. Intuisi yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman masa lalu, sehingga mampu membuat kesimpulan dan keputusan melalui pemikiran serta kepekaan perasaan.
7. Berpenampilan unik. Tidak terlalu mempedulikan penilaian atau kritikan orang lain terhadap dirinya. Lebih mempercayai apa yang diyakini dan rasa nyaman menjadi diri sendiri.
8. Memiliki kecenderungan untuk mengambil tindakan/bertindak. Konsisten dengan setiap perkataan. Kata-katanya dapat dipegang dan tindakannya tak mudah dilumpuhkan oleh kata-kata.
9. Tidak mudah terpancing emosi. Mempertahankan kejernihan pikiran dan sikap yang tenang. Tidak akan membiarkan prasangka dan emosi negatif menguasai diri.
Nah, apakah kita memiliki ciri-ciri tersebut? Jika iya, selamat! Kamu adalah seorang yang berkepribadian intelek.
~ Jejak Bintang ~
Showing posts with label Point of View. Show all posts
Showing posts with label Point of View. Show all posts
Tuesday, February 07, 2017
Saturday, September 17, 2016
Benang
Menguraikan benang kusut itu tak semudah menelusuri benang merah. Dan hidup, tentu saja lebih rumit dari untai benang.
~ Jejak Bintang ~
~ Jejak Bintang ~
Thursday, January 14, 2016
Tersenyumlah...
Tersenyumlah,
meskipun hati tersakiti...
Tersenyumlah,
sekalipun hati sedang hancur...
Selama awan putih masih menghiasi langit,
semuanya akan baik-baik saja...
Tersenyumlah,
meski di tengah rasa takut dan kesedihan yang dalam,
Tetaplah tersenyum, sebab mungkin esok
kamu akan menemukan bahwa hidup ini begitu berharga
Tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja,
tepiskan jejak-jejak kesedihan,
sekalipun airmata mungkin sudah tak terbendung,
tetaplah berusaha untuk tersenyum...
~ Jejak Bintang ~
meskipun hati tersakiti...
Tersenyumlah,
sekalipun hati sedang hancur...
Selama awan putih masih menghiasi langit,
semuanya akan baik-baik saja...
Tersenyumlah,
meski di tengah rasa takut dan kesedihan yang dalam,
Tetaplah tersenyum, sebab mungkin esok
kamu akan menemukan bahwa hidup ini begitu berharga
Tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja,
tepiskan jejak-jejak kesedihan,
sekalipun airmata mungkin sudah tak terbendung,
tetaplah berusaha untuk tersenyum...
~ Jejak Bintang ~
Monday, January 04, 2016
Loyalitas Seorang #LEO
"A Leo can be your BEST FRIEND or WORST ENEMY. There's no in-between. You're either WITH them or AGINST them".
Quote yang aku temukan ini, memang ada benarnya juga, sih. Sebagai seorang Leo, aku ngga suka plin-plan. Bagi aku, ngga boleh ada seorang pun bermain double-role-play denganku. Well, I hate hypocrites. So, kamu harus memilih salah satu diantara kedua pilihan tadi.
Namun ternyata seiring bergulirnya waktu, dinamika kehidupan yang kujalani, dan lajunya usia, semua berubah. Dalam panggung kehidupan, adakalanya kita duduk diantara lawan dan saling bersikap layaknya kawan,pun adakalanya kita duduk diantara kawan dan saling bersikap layaknya lawan.
Kini aku sudah tidak dapat mengistimewakan seorangpun sebagai sahabat sejati. Sebab sahabat sejati ternyata hanyalah letupan-letupan emosi semata yang bagaikan gejolak jiwa muda semata. Seiring laju usia, mungkin hanya keluarga saja yang akan tetap setia menerima diri kita utuh, apa adanya. Mungkin.
Mengagungkan persahabatan juga bisa mengecewakan di kemudian hari. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku mencoba menjadi sahabat terbaik bagi mereka, namun begitu mudah mereka melupakan semua ketika kebahagiaan lain datang menyapa. Apakah ungkapan ini artinya aku tidak tulus? Hmmm... tentu saja aku tulus, namun ketulusan bukan berarti tidak boleh memiliki kekecewaan, bukan?
Akhirnya aku melangkah ke depan. Dengan atau tanpa mereka, hidup ini akan terus bergulir. Dan seleksi alam kelak menunjukkan siapa yang akan selalu benar-benar ada untuk kita, yang bukan hanya ada di saat-saat terbaik dalam hidup kita, melainkan mereka yang tetap ada di saat-saat terburuk hidup kita.
Terima kasih atas semua pelajaran dan pengalaman ini. Semoga 'kan menjadikan aku manusia yang lebih bijak di waktu ke depan. Amin.
~ Jejak Bintang ~
Quote yang aku temukan ini, memang ada benarnya juga, sih. Sebagai seorang Leo, aku ngga suka plin-plan. Bagi aku, ngga boleh ada seorang pun bermain double-role-play denganku. Well, I hate hypocrites. So, kamu harus memilih salah satu diantara kedua pilihan tadi.
Namun ternyata seiring bergulirnya waktu, dinamika kehidupan yang kujalani, dan lajunya usia, semua berubah. Dalam panggung kehidupan, adakalanya kita duduk diantara lawan dan saling bersikap layaknya kawan,pun adakalanya kita duduk diantara kawan dan saling bersikap layaknya lawan.
Kini aku sudah tidak dapat mengistimewakan seorangpun sebagai sahabat sejati. Sebab sahabat sejati ternyata hanyalah letupan-letupan emosi semata yang bagaikan gejolak jiwa muda semata. Seiring laju usia, mungkin hanya keluarga saja yang akan tetap setia menerima diri kita utuh, apa adanya. Mungkin.
Mengagungkan persahabatan juga bisa mengecewakan di kemudian hari. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku mencoba menjadi sahabat terbaik bagi mereka, namun begitu mudah mereka melupakan semua ketika kebahagiaan lain datang menyapa. Apakah ungkapan ini artinya aku tidak tulus? Hmmm... tentu saja aku tulus, namun ketulusan bukan berarti tidak boleh memiliki kekecewaan, bukan?
Akhirnya aku melangkah ke depan. Dengan atau tanpa mereka, hidup ini akan terus bergulir. Dan seleksi alam kelak menunjukkan siapa yang akan selalu benar-benar ada untuk kita, yang bukan hanya ada di saat-saat terbaik dalam hidup kita, melainkan mereka yang tetap ada di saat-saat terburuk hidup kita.
Terima kasih atas semua pelajaran dan pengalaman ini. Semoga 'kan menjadikan aku manusia yang lebih bijak di waktu ke depan. Amin.
~ Jejak Bintang ~
Labels:
Character,
contemplation,
DIARY,
friendship,
Point of View
Friday, October 09, 2015
you must RUN to WIN the race...
Berlarilah...! Berlari adalah satu-satunya cara untuk menjadi pemenang. Kita tidak akan menjadi pemenang bila hanya berdiam menjadi penonton. Waktu berpacu, dan tak pernah menunggu siapa pun.
Aku pernah tertinggal dalam satu kesempatan yang aku sesalkan. Namun aku tak hendak larut dalam penyesalan. Aku mulai mengumpulkan energi untuk berlari mengejar ketinggalanku. Aku mempelajari banyak hal dari ketertinggalanku. Dan aku tak ingin diam terjebak di sana seterusnya sambil meratap. Sebab, jika aku tidak segera berlari, aku akan semakin tertinggal.
Aku ingin menjadi pemenang. Maka aku berlari. Menuju garis finish. Membuktikan pada diriku sendiri, kawan dan juga lawan, serta penonton, bahwa aku 'kan mampu menjadi pemenang. Aku enggan dikalahkan oleh rasa malas dan kesedihan.
Jejak Bintang
Aku pernah tertinggal dalam satu kesempatan yang aku sesalkan. Namun aku tak hendak larut dalam penyesalan. Aku mulai mengumpulkan energi untuk berlari mengejar ketinggalanku. Aku mempelajari banyak hal dari ketertinggalanku. Dan aku tak ingin diam terjebak di sana seterusnya sambil meratap. Sebab, jika aku tidak segera berlari, aku akan semakin tertinggal.
Aku ingin menjadi pemenang. Maka aku berlari. Menuju garis finish. Membuktikan pada diriku sendiri, kawan dan juga lawan, serta penonton, bahwa aku 'kan mampu menjadi pemenang. Aku enggan dikalahkan oleh rasa malas dan kesedihan.
Jejak Bintang
Wednesday, October 07, 2015
It's CLOSED
Aku telah menghapusnya
Jejak-jejak yang memang sudah kutinggalkan
Dan aku tak akan kembali lagi ke sana,
...for any reason
Biarlah lembaran itu pergi menjauh
seiring langkah yang terus ke depan
Menjadi sejarah yang tak perlu dikenang
atau dikisahkan kelak kepada anak-cucu
Ternyata kehidupan yang sejati karuniaNYA
adalah yang terindah dibandingkan
gemerlap panggung sandiwara
Selamat jalan, Alter Ego, selamat berpisah
Denyut nadi, aliran darah, tarikan nafas,
kini milikku sendiri,
dan aku takkan membaginya lagi
Rabb... padaMU kubersujud mohon ampunan
atas segala keangkuhanku, kekhilafanku
Aku kembali hanya di jalanMU
Jejak Bintang
- pada serpihan-serpihan masa lalu yang temaram,
menggenggam pasir, untuk melepaskannya ke samudera -
Laa ilaaha illallah...
Labels:
contemplation,
DIARY,
Point of View,
religious
Thursday, August 27, 2015
To Kill A Mockingbird ~for me
Berawal dari keisengan mengikuti salah satu QUIZ di facebook, yang judulnya "What Classic Novel Describes Your Life?", and I got this result:
Harper Lee's To Kill A Mockingbird...
Selfless and Morally Sound, your story unfold within the heartbreakingly honest pages of Harper Lee's TO KILL A MOCKINGBIRD. Tride, true, and honest - yours is a life of helping others. Intolerance and bigotry infuriate you, and you have a very hard time understanding how anyone could think in a such manner. You are driven to do good by others, not only because it's right - but because that's simply who you are.
---------------------------------------------------------
I said, "WOW" because I had never read that book, even I've heard about this book, and people say this book is great.
And then, aku memutuskan untuk mencari buku ini di Gramedia, dan ternyata hasilnya nihil di lima Gramedia yang aku datangi. Karena penasaran, aku mulai googling mencarinya di toko buku online. And Gotcha! I've got one.
To Kill A Mockingbird memang bukan "buku biasa", aku membacanya dengan segenap perasaan, mencoba menyelami lebih dalam dan memaknainya. Dan ternyata buku ini merupakan satu-satunya karya Harper Lee yang diterbitkan. WOW. Aku salut sekali. Semenjak aku masih kecil, aku selalu bermimpi bisa menulis buku dan diterbitkan, dan tentu saja dapat dibaca oleh banyak orang. Namun, seiring waktu, laju usia, hingga saat ini belum juga aku mampu mewujudkan mimpi besarku itu. Harper Lee ini tiba-tiba menginspirasiku. Well, barangkali saja aku masih punya satu kesempatan, sebelum kelak tutup usia, setidaknya ada satu buku karyaku yang berhasil diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang. Amin.
Kembali ke topik. Apakah kemudian hasil quiz itu benar...? Aku akan katakan BENAR, Ya, benar. Karena aku melihat Jem dan Scout seperti aku dan adikku, dan Atticus seperti Mama yang membesarkan kami seorang diri sejak kami masih kecil. Yang mengupayakan semaksimal mungkin agar kami berdua terdidik dengan baik, dari segi manners dan akademik. Menanamkan begitu banyak pelajaran mendasar dari hidup ini semenjak kami berdua masih kecil, sehingga setelah kemudian kehidupan kami menjadi penuh konflik, kami seperti sudah dipersiapkan untuk siap menghadapi semua itu. Thank you, Mum.
Selanjutnya, yang menakjubkan dari buku ini tentu saja adalah quotes-nya. Harper Lee ini seorang penulis cerdas yang berwawasan, Setiap kalimat yang ia gunakan memancarkan kecerdasannya. Ia juga cerdas secara emosi, setiap karakter dan emosi dalam diri mereka sangat terasa lewat caranya bercerita. Really great, and very inspiring!
---------------------------------------------------------
Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya... hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.
Aku dan Jem menganggap ayah kami (Atticus Finch) lumayan: dia bermain bersama kami, membaca untuk kami, serta menghormati kami dengan tidak pernah mencampuri urusan kami.
Charles Baker Harris (Dill): Demikianlah kami mengenal Dill sebagai Merlin kecil, yang kepalanya disesaki rencana nyentrik, keinginan aneh, dan khayalan ganjil.
Kata Jem, Atticus tak pernah bicara banyak tentang keluarga Radley: ketika Jem menanyainya, satu-satunya jawaban Atticus adalah: pikirkan urusanmu sendiri dan biarkan keluarga Radley memikirkan urusan mereka, itu sepenuhnya hak mereka.
Kalau kamu memakan hewan mentah-mentah, kau tak akan pernah bisa mencuci bersih noda darahnya.
Membaca adalah sesuatu yang kukuasai dengan sendirinya... Sampai aku takut aku akan kehilangan kegiatan ini, aku baru sadar kalau aku belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas?
Kalau kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. ~Atticus Finch
Apa yang terjadi pada orang lain, kita tak pernah benar-benar tahu.
Atticus Finch adalah orang yang sama di dalam runah dan di jalan umum.
Aku tak pernah mengerti bagaimana Atticus tahu aku sedang menguping, dan baru bertahun-tahun kemudian aku menyadari bahwa dia ingin aku mendengar setiap kata yang diucapkannya.
Kau boleh menembak burung blue-jay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird - sejenis murai bersuara merdu - itu dosa. Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa.
Dia bisa membuat seseorang begitu terlindung sehingga orang lain tak bisa mengganggunya. (tentang Atticus)
Orang yang berakal sehat tak pernah berbangga dengan bakatnya.
Sebelum aku mampu hidup bersama orang lain, aku harus hidup dengan diriku sendiri. Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang.
Aku ingin kau melihat sesuatu dalam dirinya - aku ingin kau melihat keberanian sejati, alih-alih mendapat konsep bahwa keberanian selalu identik dengan lelaki bersenapan. Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apa pun yang terjadi, kau jarang menang, tetapi, kadang-kadang kau bisa menang.
Tidak selalu perlu menunjukkan semua yang kita ketahui. Itu bukan sikap perempuan terhormat.
Kalian bukanlah manusia rata-rata, bahwa kalian adalah hasil didikan terhormat beberapa generasi. Didikan terhormat, dan bahwa kau harus berusaha menjaga nama keluargamu. Kalian harus mencoba bersikap seperti lelaki dan perempuan terhormat sebagaimana mestinya, supaya kalian punya gambaran tentang siapa diri kalian, supaya kalian tergerak untuk bersikap sesuai dengan itu.
Dill memulai lagi. Hal-hal indah melayang di sekitar kepalanya yang penuh mimpi. Dia dapat membaca dua buku sementara aku baru satu, tetapi dia lebih menyukai keajaiban cerita karangannya sendiri. Dia dapat menambah dan mengurang lebih cepat dari kilat, tetapi dia lebih suka dunia senjanya sendiri, dunia tempat bayi-bayi tidur, menunggu dipetik seperti bakung pagi.
Di Maycomb, jika orang berjalan tanpa tujuan pasti di benaknya, bolehlah diyakini bahwa benaknya tak mampu memiliki tujuan pasti.
Atticus pernah berkata, mengobrolkan hal-hal yang diminati orang yang kita ajak bicara, bukan tentang apa yang kita minati, adalah hal yang sopan.
~ Jejak Bintang ~
Wednesday, August 26, 2015
Jebakan Batman !!
"Jebakan Batman" ini semestinya ditulis "Jebakan Bad-Man". Jebakan orang jahat, atau orang yang punya niat jahat terhadap kita. Untungnya aku sudah cukup banyak belajar. Karena aku sudah beberapa kali terjatuh ke dalam lubang-lubang jebakan, di masa ketika usiaku masih muda, sebelum memasuki Gerbang 30.
Misalnya, aku pernah mentransfer my last account for a bad-man out there. Dan kejadian tragis itu membuatku terpaksa berhutang untuk menutupinya, tentunya dengan bunga, berikut denda keterlambatan mengingat pada saat itu penghasilanku masih sangat minim. Selain itu aku pernah merasakan di-bully, tidak diperhitungkan, didiskreditkan, diasingkan, difitnah, semua pernah kualami. Aku senantiasa mengingat rasa sakitnya, dan tentu saja menguras batin, serta air mata.
Been there, done there...!! Sudah cukup. Kesalahan adalah pengalaman, dan pengalaman adalah guru terbaik. So, I learned. Kini, setelah memasuki Gerbang 30, semestinya jebakan batman sudah tidak mempan lagi padaku. I'm getting wiser and wiser by older. Hmmm...
Beberapa kali aku "selamat" dari jebakan batman berikutnya. Alhamdulillah. Sahabatku bilang, "Kamu memiliki lucky charm", atau "You seem like always saved by the bell". Entahlah. Itu semua rahasiaNYA.
Positifnya, mungkin karena aku senantiasa mencoba untuk selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Aku sudah cukup merasakan terjatuh. Aku sudah mengencangkan sabuk pengamanku, preventif atas segala kemungkinan di hadapan.
I learn to prepare myself for any unexpected things in life. So, Jebakan Batman...??? It's just such an old game for me now. LOL.
~ Jejak Bintang ~
Tuesday, August 25, 2015
Perubahan yang tak terlalu berarti
Di kantor, sedang terjadi rotasi besar-besaran di tingkat eselon. Namun pergerakan yang benar-benar "bermakna" tidak terlalu banyak. Mungkin juga itu sudah diatur sedemikian rupa, permainan tingkat tinggi. Selebihnya, sekedar bertukar tempat mengalihkan kejenuhan bagi "kotak-kotak" tertentu.
Bagiku, ternyata tidaklah terlalu berpengaruh juga. Apalagi posisi eselon empatnya tidak berubah, unfortunatelly, masih diduduki oleh orang yang sama. Huft. Go with the flow aja, deh. I didn't expecting too much juga, sih. Karena udah jadi rahasia umum bahwa yang bersangkutan sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dipindahkan ke tempat lain karena satu dan lain hal. Jadi, ya sudahlah...
Di sisi lain, aku merasa masih beruntung memiliki Sprint di tempat lain. Ada sisi "dunia" lain aku geluti disamping yang pokok. Meski awalnya begitu banyak hal dan persoalan yang terjadi di dalamnya, konflik, ketegangan, krisis kepercayaan, dan lain-lain. Namun seiring waktu, aku mulai menikmati dinamika yang ada di hadapan.
Khusnudzonnya, Allah SWT memberikan semua ini sebagai bagian dari proses pematangan diriku, dan semoga merupakan bentuk ujian kenaikan kelasku kelak. Amin.
Belakangan kusadari bahwa ternyata kemampuan survive-ku lebih tinggi dari yang kukira. Aku lebih kuat dalam menghadapi gejolak perubahan ini, dan insya Allah, aku memiliki kemampuan beradaptasi yang (ternyata) luar biasa, semua sungguh di luar dugaanku. Subhanallah.
Kutipan ayat Qur'an di atas rasanya saat ini sangat cocok untukku. Menyentil dan sangat kena. Walau aku tidak pernah sungguh-sungguh "membenci" sesuatu dalam makna harfiah, terlebih semenjak usiaku memasuki Gerbang 30. Aku sudah memusnahkan segala unsur kebencian yang ada dalam diriku. Semoga.
Kini aku melangkah saja. Menjalani dan menikmati takdirku dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Bahwa semua rencanaNYA kelak 'kan berujung indah bila kita senantiasa bersyukur dan ikhlas menjalani semua ini. Insya Allah.
~ Jejak Bintang ~
Bagiku, ternyata tidaklah terlalu berpengaruh juga. Apalagi posisi eselon empatnya tidak berubah, unfortunatelly, masih diduduki oleh orang yang sama. Huft. Go with the flow aja, deh. I didn't expecting too much juga, sih. Karena udah jadi rahasia umum bahwa yang bersangkutan sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dipindahkan ke tempat lain karena satu dan lain hal. Jadi, ya sudahlah...
Di sisi lain, aku merasa masih beruntung memiliki Sprint di tempat lain. Ada sisi "dunia" lain aku geluti disamping yang pokok. Meski awalnya begitu banyak hal dan persoalan yang terjadi di dalamnya, konflik, ketegangan, krisis kepercayaan, dan lain-lain. Namun seiring waktu, aku mulai menikmati dinamika yang ada di hadapan.
Khusnudzonnya, Allah SWT memberikan semua ini sebagai bagian dari proses pematangan diriku, dan semoga merupakan bentuk ujian kenaikan kelasku kelak. Amin.
Belakangan kusadari bahwa ternyata kemampuan survive-ku lebih tinggi dari yang kukira. Aku lebih kuat dalam menghadapi gejolak perubahan ini, dan insya Allah, aku memiliki kemampuan beradaptasi yang (ternyata) luar biasa, semua sungguh di luar dugaanku. Subhanallah.
Kutipan ayat Qur'an di atas rasanya saat ini sangat cocok untukku. Menyentil dan sangat kena. Walau aku tidak pernah sungguh-sungguh "membenci" sesuatu dalam makna harfiah, terlebih semenjak usiaku memasuki Gerbang 30. Aku sudah memusnahkan segala unsur kebencian yang ada dalam diriku. Semoga.
Kini aku melangkah saja. Menjalani dan menikmati takdirku dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Bahwa semua rencanaNYA kelak 'kan berujung indah bila kita senantiasa bersyukur dan ikhlas menjalani semua ini. Insya Allah.
~ Jejak Bintang ~
Monday, August 24, 2015
Positive Thinking
Dalam dunia kerja, tak ada lawan dan kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Aku sedang mengamati sekelilingku. Tiga belas tahun aku telah menjalani karir di tempat ini. Rasanya sudah cukup banyak aku menjumpai berbagai karakter orang. Dan hal ini merupakan pengalaman tersendiri yang turut mematangkanku.
Awalnya kawan, menjadi lawan. Tadinya lawan, menjadi kawan. Ada pula yang awalnya kawan, menjadi lawan, kemudian kembali menjadi "kawan". Betapa menariknya hidup ini dalam dinamika yang unik begini.
Kawan yang menjadi lawan, kemudian kembali menjadi "kawan" merupakan peristiwa langka dalam sejarah hidupku. Dan barangkali hanya terjadi dalam dunia profesi saja, dimana intinya adalah KEPENTINGAN.
Lalu mengapa kita harus angkuh? Bila ternyata lingkungan kerja ini kelak akan menggiring langkah kita untuk kembali "bekerja sama" dengan dia? Maka jangan palingkan wajah terlalu jauh, jangan memupuk amarah terlalu lama. Sebab kita takkan pernah tahu kemana takdirNYA akan membawa langkah kita kelak.
Mencoba menjadi bagian dari suatu lingkungan, akan terasa mudah atau sulit, itu kembali pada diri kita masing-masing. Semua ada dalam pikiran kita sendiri. Kitalah yang menjadi penentu takdir kita sendiri.
Think positive, in any kind of situation. Maka akan mengarahkan kita untuk senantiasa bersyukur. Insya Allah.
~ Jejak Bintang ~
Awalnya kawan, menjadi lawan. Tadinya lawan, menjadi kawan. Ada pula yang awalnya kawan, menjadi lawan, kemudian kembali menjadi "kawan". Betapa menariknya hidup ini dalam dinamika yang unik begini.
Kawan yang menjadi lawan, kemudian kembali menjadi "kawan" merupakan peristiwa langka dalam sejarah hidupku. Dan barangkali hanya terjadi dalam dunia profesi saja, dimana intinya adalah KEPENTINGAN.
Lalu mengapa kita harus angkuh? Bila ternyata lingkungan kerja ini kelak akan menggiring langkah kita untuk kembali "bekerja sama" dengan dia? Maka jangan palingkan wajah terlalu jauh, jangan memupuk amarah terlalu lama. Sebab kita takkan pernah tahu kemana takdirNYA akan membawa langkah kita kelak.
Mencoba menjadi bagian dari suatu lingkungan, akan terasa mudah atau sulit, itu kembali pada diri kita masing-masing. Semua ada dalam pikiran kita sendiri. Kitalah yang menjadi penentu takdir kita sendiri.
Think positive, in any kind of situation. Maka akan mengarahkan kita untuk senantiasa bersyukur. Insya Allah.
~ Jejak Bintang ~
Sunday, August 23, 2015
DON'T bother me...!
"No words ever spoken to you should change the way you feel about yourself..."
Saya adalah saya. Sejauh ini saya sudah semakin mengenal diri saya, seiring laju usia dan pengalaman hidup yang telah saya lalui.
Di usia saya saat ini, saya sudah tidak lagi terlalu mempedulikan apa pendapat orang tentang saya. Apalagi "rela" berubah demi mengikuti "standar" orang lain. Sorry to say, ya... sebagai manusia, kita semua dilahirkan sama, dengan keunikan masing-masing.
Anda tidak menjalani hidup yang saya jalani, dan saya pun tidak menjalani hidup yang Anda jalani. Jadi, marilah kita sepakat untuk tidak sepakat mengenai penilaian Anda terhadap saya. Karena saya bukan Anda, dan Anda bukan saya.
Paham...??!!
~ Jejak Bintang ~
Saya adalah saya. Sejauh ini saya sudah semakin mengenal diri saya, seiring laju usia dan pengalaman hidup yang telah saya lalui.
Di usia saya saat ini, saya sudah tidak lagi terlalu mempedulikan apa pendapat orang tentang saya. Apalagi "rela" berubah demi mengikuti "standar" orang lain. Sorry to say, ya... sebagai manusia, kita semua dilahirkan sama, dengan keunikan masing-masing.
Anda tidak menjalani hidup yang saya jalani, dan saya pun tidak menjalani hidup yang Anda jalani. Jadi, marilah kita sepakat untuk tidak sepakat mengenai penilaian Anda terhadap saya. Karena saya bukan Anda, dan Anda bukan saya.
Paham...??!!
~ Jejak Bintang ~
Saturday, August 22, 2015
Act the part, and you will become the part
Bagaimana agar kita diterima oleh suatu lingkungan atau situasi dimana kita berada...?
Untuk menjadi bagian atau berada di tengah-tengah suatu lingkungan yang baru, kita harus bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan mereka. Kita cenderung akan sulit diterima ketika kita "berbeda". Setidaknya, apabila kita memang benar-benar "berbeda", kita harus berpura-pura sama seperti mereka, agar dapat menjadi bagian dari mereka.
Aku sudah pernah menerapkan hal ini beberapa kali, dalam beberapa kesempatan di hidupku. Kalau hendak memasuki lingkungan "Komunitas Membaca", misalnya, tidak mungkin bagi mereka yang tidak suka membaca, karena akan tidak nyambung ketika komunitas ini banyak membicarakan buku, dan buku. Setidaknya perhatikan jenis buku yang mereka minati, cari 1-2 buku diantaranya yang paling populer, cobalah membaca dan memahaminya. Cukup segitu saja, kamu akan masuk ke dalam "mereka" tanpa merasa menjadi orang asing.
Selanjutnya, perhatikan pola dan kebiasaan mereka, kemudian cobalah untuk menyesuaikan. Sekedar menunjukkan bahwa kamu sama dengan mereka, dan proses yang akan menuntunmu ke tahap berikutnya. Proses memperoleh kepercayaan, untuk menggali dan mendapatkan informasi yang dikehendaki, apakah itu berkenaan dengan komunitas secara garis besar, atau seseorang dalam komunitas, secara khusus.
~ Jejak Bintang ~
Untuk menjadi bagian atau berada di tengah-tengah suatu lingkungan yang baru, kita harus bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan mereka. Kita cenderung akan sulit diterima ketika kita "berbeda". Setidaknya, apabila kita memang benar-benar "berbeda", kita harus berpura-pura sama seperti mereka, agar dapat menjadi bagian dari mereka.
Aku sudah pernah menerapkan hal ini beberapa kali, dalam beberapa kesempatan di hidupku. Kalau hendak memasuki lingkungan "Komunitas Membaca", misalnya, tidak mungkin bagi mereka yang tidak suka membaca, karena akan tidak nyambung ketika komunitas ini banyak membicarakan buku, dan buku. Setidaknya perhatikan jenis buku yang mereka minati, cari 1-2 buku diantaranya yang paling populer, cobalah membaca dan memahaminya. Cukup segitu saja, kamu akan masuk ke dalam "mereka" tanpa merasa menjadi orang asing.
Selanjutnya, perhatikan pola dan kebiasaan mereka, kemudian cobalah untuk menyesuaikan. Sekedar menunjukkan bahwa kamu sama dengan mereka, dan proses yang akan menuntunmu ke tahap berikutnya. Proses memperoleh kepercayaan, untuk menggali dan mendapatkan informasi yang dikehendaki, apakah itu berkenaan dengan komunitas secara garis besar, atau seseorang dalam komunitas, secara khusus.
~ Jejak Bintang ~
Saturday, August 01, 2015
Krisis Kepercayaan
Pertanyaannya adalah seberapa siap kita untuk memimpin...? Dan pemahaman bahwa semakin di atas, hembusan angin akan semakin kencang. Siapkan dirimu sebaik-baiknya sebelum memasuki medan perang yang sesungguhnya.
Janji-janji adalah hutang yang nyata-nyata harus dibayar, atau kita akan kehilangan kepercayaan sama sekali. Dan berlindung dibalik jubah ilusi hanyalah simbol kepengecutan tiada tara.
Ketika kita benar-benar tidak siap menghadapi hal-hal besar di hadapan, kemudian kita dirundung ketakutan yang teramat sangat. Kita kerap mencurigai siapa saja yang ada di dekat dan sekeliling kita. Mereka yang paham bahwa kita bersembunyi di balik jubah, atau mereka yang ingin menanggalkan jubah itu sehingga mengungkap wujud asli kita yang kerdil.
Ketika jeruji pikiran memenjara kita tentang "Siapa yang harus kita percaya?", "Apakah orang ini hanya manis di hadapan saya, bagaimana ketika di belakang saya?". Politik dan kekuasaan. Panggung sandiwara terbesar dan termegah. Kita harus memahami bahwa tak pernah ada kawan dan lawan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.
Congrats! Enjoy your crown, enjoy your throne. If you could passing this, I'll do salute you..!
~ Jejak Bintang ~
Janji-janji adalah hutang yang nyata-nyata harus dibayar, atau kita akan kehilangan kepercayaan sama sekali. Dan berlindung dibalik jubah ilusi hanyalah simbol kepengecutan tiada tara.
Ketika kita benar-benar tidak siap menghadapi hal-hal besar di hadapan, kemudian kita dirundung ketakutan yang teramat sangat. Kita kerap mencurigai siapa saja yang ada di dekat dan sekeliling kita. Mereka yang paham bahwa kita bersembunyi di balik jubah, atau mereka yang ingin menanggalkan jubah itu sehingga mengungkap wujud asli kita yang kerdil.
Ketika jeruji pikiran memenjara kita tentang "Siapa yang harus kita percaya?", "Apakah orang ini hanya manis di hadapan saya, bagaimana ketika di belakang saya?". Politik dan kekuasaan. Panggung sandiwara terbesar dan termegah. Kita harus memahami bahwa tak pernah ada kawan dan lawan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.
Congrats! Enjoy your crown, enjoy your throne. If you could passing this, I'll do salute you..!
~ Jejak Bintang ~
Wednesday, July 08, 2015
GADGETaholic
Sebuah perenungan tentang GADGET...
Mungkin sekitar tahun 2009 aku menggunakan smartphone untuk pertama kali. Saat itu Blackberry yang sedang booming dengan aplikasi BBM andalannya. Kemudian seiring waktu aku pun bergonta-ganti smartphone. Hingga akhirnya aku membeli android Samsung yang harganya cukup mahal.
Alih-alih untuk menunjang kebutuhan pekerjaan, itulah alasan pertama aku menggunakan smartphone. Untuk mempermudah akses komunikasi dan informasi secara update, kapan saja, dimana saja. Hingga kemudian "kebutuhan" itu menjalar menjadi "kecanduan" yang tak terbendung lagi.
Maraknya aplikasi dari mulai social media, chat service, perbankan, hingga beragam game mulai menjadi trend dan "memaksa" aku mendownload. Semakin lama ketergantungan untuk "berinteraksi" dengan gadget pun semakin tinggi. Belum lagi aplikasi berbagai macam kamera dan trend selfie. Semakin dahsyat gadget ini menjadi benda paling penting bagi banyak orang, termasuk aku.
Entah disadari atau tidak, akhirnya peran gadget ini pun menggeser begitu banyak interaksi sosial yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Perubahan-perubahan drastis yang aku rasakan antara lain:
1) Dulu, setiap ulang tahun, aku sebagai seseorang yang memiliki banyak saudara, teman dan kolega, senantiasa kebanjiran telepon dan SMS ucapan selamat ulang tahun. Rasanya menyenangkan menerima telepon-telepon itu, bahkan sebelum ada handphone, telepon rumah tak berhenti berdering, sampai saudara dan sahabat yang di luar Jakarta rela telepon interlokal sekedar untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Kini, orang cenderung memilih memberikan ucapan lewat facebook wall, atau sekedar pasang display picture di BBM disertai status "happy birthday to you". Well, kalau sekedar "masih untung dia ingat", bagiku tetap saja esensinya beda. Rasanya beda. Touching-nya beda.
2) Di rumah, seluruh anggota keluarga menjadi semacam kehilangan chemistry satu sama lain. Seusai dari mana-mana, pulang ke rumah bukannya saling berkomunikasi satu sama lain, malah buru-buru nyamber gadget untuk update status "CAPEK". Terkadang anak pun diabaikan. Dan parahnya untuk menebus rasa bersalah pada anak karena keasikan tenggelam dalam dunia gadget, malah membelikan gadget juga untuk anak. Kita yang sudah dewasa (kalau enggan disebut tua) saja, tidak bisa mengendalikan diri dari gadget addict, apalagi anak-anak kita kalau harus "kenal" gadget sejak usia dini? Haduh...!
3) Percakapan absurd orang zaman sekarang.
A: Eh, kamu udah tahu kalau papanya Ardi meninggal semalam?
B: Innalillahi. Belum. Ardi ngabarin kamu, ya?
A: Ngga. Kan rame tuh di facebooknya.
#Glek!
atau ada versi lainnya begini,
A: Besok kamu mau datang ke pernikahan Rani dan Ivan, ngga?
B: Hah? Emang udah mau nikah ya? Kapan? Kok aku ngga diundang?
B: Diundang kok, kan kita di-tag di facebook, emang belum lihat notifikasi?
A: Waduh, makasih deh kalo cara ngundangnya begitu, mendingan ngga usah datang aja.
#Glek!
Jujur, aku secara pribadi juga tidak berkenan diundang dengan cara demikian, karena kesannya ngga tulus banget, apa beratnya telepon kalau memang ngga bisa kirim undangannya? Dulu, masih ada metode dititipkan ke teman, atau telepon minta alamat, kemudian undangannya dikirim. Kini, social media telah sukses membuat banyak orang merasa "malas" melakukan semua hal yang "klasik" itu. Huft...!
4) Acara kumpul-kumpul seperti arisan keluarga, silaturahmi, reuni, termasuk juga kongkow-kongkow dengan teman, dan lain sebagainya menjadi kehilangan makna tatkala semua orang yang tengah berkumpul malah asik dengan gadget masing-masing, dan bukannya mengobrol satu sama lain dengan melakukan eye contact. Bahkan sambil ngobrol, terlalu sering mata sambil melirik gadget. Hmmm...
Itu hanya beberapa contoh. Terlalu banyak bila dijabarkan contoh-contoh lainnya. Intinya, kita sungguh kekurangan interaksi sosial yang nyata dengan orang-orang di sekeliling kita. Banyak orangtua zaman sekarang cenderung lalai mengikuti perkembangan anaknya karena lebih sibuk memperhatikan gadget. Bersyukurlah kita sebagai generasi yang dibesarkan oleh orangtua di era yang belum mengenal gadget dan social media.
Berapa lama kita hidup di dunia, tidak pernah ada yang tahu. Aku ingin mulai mengurangi atau membatasi interaksi dengan gadget. Waktu yang berharga, baiknya dihabiskan dengan bercengkerama bersama suami/istri, anak-anak, orangtua, dan saudara, serta sahabat, teman, dan orang-orang di sekeliling kita.
Semoga belum terlambat untuk membatasi interaksi kita dengan gadget, juga anak-anak kita di rumah. Jangan pernah meminta dimaklumi oleh orang-orang yang kita sayangi ketika kita asik dengan gadget. Justru gadget harus "mengalah" ketika kita sedang bersama orang-orang tersayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.
~ Jejak Bintang ~
Sunday, July 13, 2014
Politik dan Kredibilitas Media
Menyedihkan...!!!
Satu kata untuk KOMPAS dan TEMPO...
Dua portal berita favoritku selama ini telah menjadi media yang berpihak pada salah satu kandidat Capres 2014. Ya, ketika TVone dan MetroTV ramai diberitakan saling menjatuhkan kandidat lawan, maka masyarakat negeri ini sangat membutuhkan media yang benar-benar berimbang dalam pemberitaan. Tak kusangka ternyata KOMPAS dan TEMPO sama saja dengan media-media milik politisi tertentu. Yuck...!!!
Lalu, portal berita apa yang saat ini masih mempertahankan kredibilitas dalam hal pemberitaan yang netral dan berimbang...? Mau dibawa kemana negeri ini bila media "kelas atas" macam KOMPAS dan TEMPO pun sudah ditunggangi kepentingan politik tertentu...?
Pertanyaan saya sederhana saja... ketika salah satu Capres ditunding akan membawa kita kembali ke era ORDE BARU, tapi justru Capres (dan TimSes) penundinglah yang bergaya menunggangi media untuk kepentingan kemenangannya, beserta kepentingan-kepentingan yang mengekor di belakangnya yang alih-alih dinamakan "Relawan Tanpa Pamrih".
Hey, Bung...!!! Ingat ya, separuh lebih dari populasi rakyat Indonesia TIDAK BODOH. Yang namanya POLITIK itu sangat jelas bermuatan kepentingan-kepentingan. Kalau yang Anda maksud relawan, suka rela, tanpa pamrih, itu namanya pekerja SOSIAL. Dan ada yang lebih "ikhlas" lagi, yaitu PENDERMA yang tidak tergila-gila liputan pencitraan.
Think about it...!!!
~ Jejak Bintang ~
Saturday, February 08, 2014
Selfie
Para peneliti menganggap memposting foto selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto... @PsikologID
~ Jejak Bintang ~
~ Jejak Bintang ~
Monday, February 03, 2014
Bingkai yang retak
Kemarin, aku berbincang dengan Innocent, sahabatku. Awalnya sekedar mengobrol tentang masa-masa dan teman-teman SMA kami. Tentang perubahan-perubahan yang bergulir seiring waktu. Begitu banyak hal.
Hingga Innocent menyebut satu nama, seorang kontributor utama tunggal atas skenario kejam yang meretakkan persahabatan kami di masa lampau. Ya, teman kuliah Innocent itu hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Innocent, dan bagiku itu hak dasar setiap orang untuk memilih dengan siapa ia ingin berteman, atau masih ingin berteman setelah mengetahui tabir hitam yang tersembunyi. Yang terpenting, semua telah terungkap. Ternyata selalu tentang waktu, dan "semua" 'kan indah pada waktunya. Insya Allah.
Intinya, Innocent sambil lalu menanyakan apakah ada kemungkinan hubunganku dengan "dia" (kata ganti orang ketiga tunggal) bisa kembali membaik? Aku bilang, apa yang dahulu "dia" lakukan padaku terlalu meninggalkan luka yang dalam, sehingga akan sangat sulit bagiku mempercayainya lagi. Untuk apa berteman (dalam makna yang sesungguhnya) tanpa dilandasi rasa percaya? Innocent cuma menanggapi, "Ah, kaya sinetron aja, sih".
Entah apakah Innocent paham, bahwa "permasalahan" yang dulu teramat sangat "besar", menyangkut kepercayaan yang hilang makna. Menyangkut persahabatan kami yang ternoda oleh "dia". Dan miris rasanya mengingat bahwa akulah yang membuka gerbang perkenalan bagi mereka berdua, dimana aku terlebih dahulu berkawan dengan "dia" karena lokasi rumah kami yang berdekatan. Barangkali Innocent menganggapnya tinggal sejarah, yang tak perlu di-"permasalahkan" lagi? Entahlah. Namun apabila ada wacana "memaafkan itu mudah, melupakan yang sulit", lalu bagaimana bila memaafkan saja rasanya sulit, apalagi melupakan :)
Mungkin saja suatu saat nanti waktu 'kan menguraikan semuanya... mungkin... Namun peristiwa itu terlalu lekat di kepala. Ibarat sebuah bingkai yang retak, maka pecahannya masih tertinggal di sana. Untungnya bingkai itu masih ada, walau retakannya tentu merefleksikan citra yang sudah tak lagi sama.
Waktu, dan momentum. Biarkan mengalir saja.
~ Jejak Bintang ~
Hingga Innocent menyebut satu nama, seorang kontributor utama tunggal atas skenario kejam yang meretakkan persahabatan kami di masa lampau. Ya, teman kuliah Innocent itu hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Innocent, dan bagiku itu hak dasar setiap orang untuk memilih dengan siapa ia ingin berteman, atau masih ingin berteman setelah mengetahui tabir hitam yang tersembunyi. Yang terpenting, semua telah terungkap. Ternyata selalu tentang waktu, dan "semua" 'kan indah pada waktunya. Insya Allah.
Intinya, Innocent sambil lalu menanyakan apakah ada kemungkinan hubunganku dengan "dia" (kata ganti orang ketiga tunggal) bisa kembali membaik? Aku bilang, apa yang dahulu "dia" lakukan padaku terlalu meninggalkan luka yang dalam, sehingga akan sangat sulit bagiku mempercayainya lagi. Untuk apa berteman (dalam makna yang sesungguhnya) tanpa dilandasi rasa percaya? Innocent cuma menanggapi, "Ah, kaya sinetron aja, sih".
Entah apakah Innocent paham, bahwa "permasalahan" yang dulu teramat sangat "besar", menyangkut kepercayaan yang hilang makna. Menyangkut persahabatan kami yang ternoda oleh "dia". Dan miris rasanya mengingat bahwa akulah yang membuka gerbang perkenalan bagi mereka berdua, dimana aku terlebih dahulu berkawan dengan "dia" karena lokasi rumah kami yang berdekatan. Barangkali Innocent menganggapnya tinggal sejarah, yang tak perlu di-"permasalahkan" lagi? Entahlah. Namun apabila ada wacana "memaafkan itu mudah, melupakan yang sulit", lalu bagaimana bila memaafkan saja rasanya sulit, apalagi melupakan :)
Mungkin saja suatu saat nanti waktu 'kan menguraikan semuanya... mungkin... Namun peristiwa itu terlalu lekat di kepala. Ibarat sebuah bingkai yang retak, maka pecahannya masih tertinggal di sana. Untungnya bingkai itu masih ada, walau retakannya tentu merefleksikan citra yang sudah tak lagi sama.
Waktu, dan momentum. Biarkan mengalir saja.
~ Jejak Bintang ~
Monday, January 27, 2014
SocMed; the "way" I "choose" my friends
Maybe this is an arrogant writing. I don't care. This is my blog, and there's only few people know about the existence.
I wanna talk about the SocMed (Social Media). You know: facebook, twitter, path, instagram, etc. I have many of them and I make them private. I won't allow "anyone" or "people" to view my profile, photographs, activities, or even tracking who's my relatives and friends (my real friend in life).
It's kinda funny when it called SocMed but we... oh not "we" but "I" (and maybe some other people) could make it "private". Can we socialized ourselves in private...? Just answer yourself... :)
In my personal experience, I feel so unconfy when "some people" had been stalking my profile, they even grab my photograps. Oh, Boy...!!! And I'm so surprised when I had found that more than 50 people followed my facebook account that I don't even know them, or "know" them in real life. I had already locked my profile, but how come that could happen...?!
So... after that, I had deactivated many of my SocMed account. I only keep one or two, just for "keeping an eye" on many "chosen" friends of mine :). Yes, I choose my friend. I keep them who really having a friend connection in my real life. Not only just to "jazz up" my friend list or timeline. I do care about their latest news, and how their lifes go on.
Let say, even in a cyber world I choose my friends, then you can imagine how choosy I am in my real life. Coz this world has getting odd and odder. That "fact" make me decide to be more bewaring about my future steps in life.
I do apologize for your inconvinience of reading this. But I do believe that "true friends" are those who could survived our "every condition" of emotion, of ups and downs that we've been through in life, never judge or slander behind our back. So please... if you just wanna mess up my "personal" life, go away and mind your own bizz...!!!
~ Jejak Bintang ~
I wanna talk about the SocMed (Social Media). You know: facebook, twitter, path, instagram, etc. I have many of them and I make them private. I won't allow "anyone" or "people" to view my profile, photographs, activities, or even tracking who's my relatives and friends (my real friend in life).
It's kinda funny when it called SocMed but we... oh not "we" but "I" (and maybe some other people) could make it "private". Can we socialized ourselves in private...? Just answer yourself... :)
In my personal experience, I feel so unconfy when "some people" had been stalking my profile, they even grab my photograps. Oh, Boy...!!! And I'm so surprised when I had found that more than 50 people followed my facebook account that I don't even know them, or "know" them in real life. I had already locked my profile, but how come that could happen...?!
So... after that, I had deactivated many of my SocMed account. I only keep one or two, just for "keeping an eye" on many "chosen" friends of mine :). Yes, I choose my friend. I keep them who really having a friend connection in my real life. Not only just to "jazz up" my friend list or timeline. I do care about their latest news, and how their lifes go on.
Let say, even in a cyber world I choose my friends, then you can imagine how choosy I am in my real life. Coz this world has getting odd and odder. That "fact" make me decide to be more bewaring about my future steps in life.
I do apologize for your inconvinience of reading this. But I do believe that "true friends" are those who could survived our "every condition" of emotion, of ups and downs that we've been through in life, never judge or slander behind our back. So please... if you just wanna mess up my "personal" life, go away and mind your own bizz...!!!
~ Jejak Bintang ~
Sunday, November 10, 2013
describe: ME
"Kamu adalah orang paling menyenangkan yang pernah aku kenal..."
Isn't it sound so sweet...?
Bagaimana orang-orang di sekelilingku, menilaiku...? Tentunya ada begitu banyak sudut pandang. Terkadang, kita berpikir, semua itu tergantung dari bagaimana mereka menilai diri kita. Namun, setelah kurenungkan kembali, semua lebih kepada bagaimana kita menampilkan diri terhadap mereka.
Well, ternyata memang, kita cenderung bersikap "berbeda" pada orang-orang yang berbeda, di lingkungan yang berbeda. Misalnya, pada si A, kita cenderung hangat dan ramah, namun pada si B, kita bisa begitu cuek dan tidak peduli. Maka penilaian si A terhadap kita, tentunya sangat berbeda dengan penilaian si B terhadap kita, bukan begitu...?
"Kamu seperti labirin terrumit yang menyesatkan, dimana hampir membuat putus asa siapapun yang terlanjur tersesat di dalamnya, karena berpikir memang tidak diciptakan selapis celahpun sebagai jalan keluarnya..."
"Kamu orangnya paradoks, impulsif, terlalu spontan..."
"Kamu sangat plin-plan, begitu sulitnya ketika dihadapkan pada situasi dimana kamu mesti cepat atau segera mengambil keputusan...?"
"Kamu cerdas, terkadang isi kepalamu di luar keumuman, kata-katamu di luar prediksi atau sangkaan orang..."
"Kamu bagai buku terbuka yang begitu mudah terbaca olehku..."
"Kamu cukup egois, dan keras kepala dalam upaya mendapatkan apa yang kamu inginkan, gigih..."
"Kamu membingungkan dan sulit ditebak, kadang terlalu cepat berubah pendirian..."
"Kamu belum cukup matang dari segi pemikiran..."
"Kamu kadang begitu menyebalkan, ya..."
And so on, and so on... Terlalu banyak bila dijabarkan semua. Namun semuanya menjadi personal summary, bahan instrospeksi diri. Bagaimana kelak aku mematangkan karakterku. Tentunya mengerucutkan perspektif negatif dan memekarkan yang positif untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bagaimana orang menilai, ternyata hanyalah dari bagaimana cara kita memperlakukan mereka. Penilaian orang hanyalah cermin yang memantul lurus ke wajah kita.
Tak ada yang begitu penting untuk dirisaukan mengenai penilaian orang lain. Catatan tajamnya adalah bagaimana kita belajar untuk mulai memperbaiki perilaku, sikap dan tutur kata. Kitalah pemegang kendali terbesar dalam "membentuk" perspektif orang lain terhadap diri kita.
Kesimpulannya, bagaimana aku ingin dinilai...? Kembali pada kalimat pertama tulisan ini... :)
~ Jejak Bintang ~
Labels:
Character,
contemplation,
DIARY,
Point of View
Tuesday, August 20, 2013
#thatPressure
Ketika usia melantakkan rasa. Sungguh aku enggan berdebat. Semacam celoteh sumbang tanpa makna. Mengalir kemudian mengering seketika. Bolehkah kau perkenankanku 'tuk menepi sejenak? Sungguh aku tak nyaman dalam tekanan ini. Kau tak memahamiku lagi. Mungkin.
Pikiranku sedang merumuskan sesuatu yang abstraknya bahkan tak mampu diterjemahkan oleh rumusan terrumit sekalipun, terlebih lewat kesederhanaan pemikiranmu. Hati sejenak bagai membatu. Pemahatnya barangkali sedang dalam pengembaraan yang jauh. Entah kembali, entah tidak. Semua serba tak pasti.
Bagaimana merumuskan kepastian? Mungkinkah kau ajarkan padaku?
~ Jejak Bintang ~
Pikiranku sedang merumuskan sesuatu yang abstraknya bahkan tak mampu diterjemahkan oleh rumusan terrumit sekalipun, terlebih lewat kesederhanaan pemikiranmu. Hati sejenak bagai membatu. Pemahatnya barangkali sedang dalam pengembaraan yang jauh. Entah kembali, entah tidak. Semua serba tak pasti.
Bagaimana merumuskan kepastian? Mungkinkah kau ajarkan padaku?
~ Jejak Bintang ~
Subscribe to:
Posts (Atom)











