Saturday, February 15, 2014

HUTANG

HUTANG adalah harga diri. Menyedihkan ketika seseorang begitu seringnya berhutang alih-alih untuk melanjutkan hidupnya. Ada species orang yang memang suka berhutang karena mental yang pemalas dan lebih suka mencari belas kasihan orang lain, atau bahkan "menggantungkan" hidupnya terhadap belas kasihan orang lain tanpa mau berusaha sendiri bekerja dengan kemampuan diri dan tenaga serta kesanggupan yang sesungguhnya masih ada.

Hidup ini kadang bergulir tak sesuai dengan perhitungan kita sebelumnya. Dan hidup ini costly. Semakin ke depan semestinya semakin pandai kita "berhitung". Namun terkadang ada hal-hal diluar perhitungan kita yang menyebabkan kita terpaksa berhutang. Tentunya hutang ini sudah merupakan ujungnya jalan buntu.

Sejujurnya aku benci berhutang. Karena dengan "mengajukannya" sangatlah meruntuhkan harga diriku. Aku perlu menimbang ribuan kali sebelum akhirnya aku memutuskan untuk berhutang. Dan ada rasa malu yang mengiris hati tatkala aku harus mengalami penolakan. Ya, malu sekali. Seolah ada sisi harga diri yang terlukai.

Memang tak mudah memahami kesulitan orang lain tanpa berempati. Namun kita jug tak bisa memaksakan orang lain untuk berempati terhadap kesulitan-kesulitan (ekonomi) yang tengah melanda kita. Sebab setiap orang sudah dengan urusan hidupnya masing-masing. Menyedihkan memang. :(

Dan saat kesulitan melanda seperti saat ini... lalu harus kemana? Satu-dua upaya tak tembus pada solusi. Mungkin disinilah kita perlu introspeksi lebih dalam. Dan memaknai ikatan pertemanan pun lebih dari sekedar kulit luarnya saja. Betapa banyak kawan hadir dalam perjamuan-perjamuan kita. Dalan suasana bahagia. Namun hanya sedikit yang akan memeluk kita dan memahami aryi kesusahan yang tengah kita hadapi.

Maka... janganlah pernah "mengharapkan" sesuatu apapun dari manusia... kecewa saja masih tak apa, sebab hidup memang tak di desain untuk menjadi mudah... Namun ketika harga diri terluka, itu lain perkara... sekian dan terima kasih...

Teman... "terima kasih"... :)


~ Jejak Bintang ~

Saturday, February 08, 2014

Selfie

Para peneliti menganggap memposting foto selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto... @PsikologID


~ Jejak Bintang ~

Friday, February 07, 2014

#JENUH

JENUH adalah titik yang benar-benar tak dapat dimengerti..

Orang bekerja merasa jenuh dengan pekerjaannya..

Orang tak punya kerja pun jenuh dengan kekosongan waktunya..


~ Jejak Bintang ~

Thursday, February 06, 2014

sajak... sendu...

sajak melantun sendu...

...bukan lagu yang kau gubah
diatas perihku...

...notasinya pudar


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, February 04, 2014

'Empty Hours' Kingdom

Kerajaan 'Waktu Kosong' atau Kerajaan 'Waktu Luang'... mana yang lebih tepat, ya...?

...adalah suatu kondisi vacuum of power a.k.a. 'waktu-waktu berharga' saat pimpinan sedang tidak di tempat, dan tidak 'mengganggu' aktivitas yang sedang berlangsung dalam keheningan... WEW...!!!

Mari kita nikmati waktu luang ini (kayanya lebih nyaman menggunakan kata 'luang' daripada 'kosong', deh...). Waktu luang yang dapat diisi dengan berbagai kenyaman yang kita ciptakan sendiri. Di ruangan ini ada 8 orang. Dan masing-masing orang memiliki 'aktivitas' tersendiri. Tentunya moment seperti ini cukup langka di tempat kami bekerja. So, let's rock out this 'empty hours' kingdom...!!!

Ada 8 orang: A, B, C, D, E, F, G, dan H. A yang merupakan leader kami, di layar PC nya masih terpampang pekerjaan, tapi beliau cukup rileks dalam mengerjakannya, ngga seperti bila Mrs. Boss mandorin beliau ini, auranya tegang. B sibuk dengan hal-hal berkaitan kuliah tingkat lanjutnya. Lumayan sambil menyelesaikan thesis dalam suasana tenang dan memadai. C asik menenggelamkan diri pada situs-situs berita aktual, perkembangan teknologi, dan blogwalking sampai blogging... atau berbincang dengan sahabat-sahabatnya di line telepon. D ngga jauh dari buka facebook dan link-link yang disukainya, bila jenuh ia segera beralih pada smartphone. E sibuk dengan gadget android-nya, sebentar-sebentar tersenyum atau selfie. F juga asik dengan blackberry-nya, dan cukup menikmati waktu luangnya secara private. F berselancar dengan iPhone, atau sesekali bertelepon dengan entah siapa (maaf saya ngga kepo, sih... sumpe looo...?! :p).

Ketika... semua tenggelam dalam dunianya masing-masing, ummm... dan melibatkan gadget...? #uuups... itulah 'kerajaan kecil' kami... dan... suatu saat nanti, mungkin kami akan merindukannya... :)

#intermezzo


~ Jejak Bintang ~

Monday, February 03, 2014

Bingkai yang retak

Kemarin, aku berbincang dengan Innocent, sahabatku. Awalnya sekedar mengobrol tentang masa-masa dan teman-teman SMA kami. Tentang perubahan-perubahan yang bergulir seiring waktu. Begitu banyak hal.

Hingga Innocent menyebut satu nama, seorang kontributor utama tunggal atas skenario kejam yang meretakkan persahabatan kami di masa lampau. Ya, teman kuliah Innocent itu hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Innocent, dan bagiku itu hak dasar setiap orang untuk memilih dengan siapa ia ingin berteman, atau masih ingin berteman setelah mengetahui tabir hitam yang tersembunyi. Yang terpenting, semua telah terungkap. Ternyata selalu tentang waktu, dan "semua" 'kan indah pada waktunya. Insya Allah.

Intinya, Innocent sambil lalu menanyakan apakah ada kemungkinan hubunganku dengan "dia" (kata ganti orang ketiga tunggal) bisa kembali membaik? Aku bilang, apa yang dahulu "dia" lakukan padaku terlalu meninggalkan luka yang dalam, sehingga akan sangat sulit bagiku mempercayainya lagi. Untuk apa berteman (dalam makna yang sesungguhnya) tanpa dilandasi rasa percaya? Innocent cuma menanggapi, "Ah, kaya sinetron aja, sih".

Entah apakah Innocent paham, bahwa "permasalahan" yang dulu teramat sangat "besar", menyangkut kepercayaan yang hilang makna. Menyangkut persahabatan kami yang ternoda oleh "dia". Dan miris rasanya mengingat bahwa akulah yang membuka gerbang perkenalan bagi mereka berdua, dimana aku terlebih dahulu berkawan dengan "dia" karena lokasi rumah kami yang berdekatan. Barangkali Innocent menganggapnya tinggal sejarah, yang tak perlu di-"permasalahkan" lagi? Entahlah. Namun apabila ada wacana "memaafkan itu mudah, melupakan yang sulit", lalu bagaimana bila memaafkan saja rasanya sulit, apalagi melupakan :)

Mungkin saja suatu saat nanti waktu 'kan menguraikan semuanya... mungkin... Namun peristiwa itu terlalu lekat di kepala. Ibarat sebuah bingkai yang retak, maka pecahannya masih tertinggal di sana. Untungnya bingkai itu masih ada, walau retakannya tentu merefleksikan citra yang sudah tak lagi sama.

Waktu, dan momentum. Biarkan mengalir saja.


~ Jejak Bintang ~