Friday, December 27, 2013

2013; catatan perjalanan

Tak terasa, 'tlah tiba pada penghujung tahun 2013...

Tahun yang penuh dengan pergolakan emosi, penuh perenungan panjang, penuh dengan peristiwa-peristiwa penting yang kelak melukiskan senyuman, hingga memilukan kalbu... catatan perjalanan mengukir sejarah...

Redupnya cahaya hati di permulaan tahun... hal-hal mengenai terkuaknya satu rahasia yang tersimpan rapi, terkoyaknya kepercayaan, kesetiaan, ikatan... semua berproses mematangkan, menyadarkan, menampar... diri ini... untuk kembali pada kesadaran yang penuh, walau tak sepenuhnya dalam keadaan sadar... ketika langkah goyah segoyah-goyahnya, tiada seorangpun sebagai sandaran... aku benar-benar sendirian... hanya bersama Dia Yang Maha Penyayang...

Kemudian Dia membawaku melihat Eropa bagian Barat, yaitu Berlin, Jerman... sebagai hadiah dariNya, diajakNya aku menikmati dingin yang tak biasa di negeri tropisku... menyaksikan pemandangan yang luar biasa, bangunan-bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri, dan semua yang diluar "kebiasaan" negeriku... Subhanallah...

Tak sampai disana, Dia mengundangku kerumahNya... Menelusuri jejak sejarah besar keyakinan yang kuanut... Bahkan ketika kukira aku akan sendirian di sana, Dia hadirkan bagiku kawan seperjalanan, seorang saudari dari tanah Minang, yang begitu menjagaku, siang dan malam, dan saat ku sempat terkapar sakit... Dan Dia tunjukkan begitu banyak "hal" di sana, membuka cakrawala pemikiranku, menerangkan redupnya cahaya kecil di hatiku... DiperkenankanNya aku berkeliling Ka'bahNya, menyentuh dinding-dindingnya yang harum dan menenangkan kalbu, singgahi makam Rasulullah SAW di Madinah, hingga jejaki Jeddah... Subhanallah, walhamdulillahi... Maka nikmatNya yang manakah yang kudustakan...?

Apakah sampai di situ saja...? Jawabannya: tidak. Masih diberikanNya aku kesempatan singgahi sebuah negeri kerajaan kecil yang indah dan kaya di Eropa Utara, Swedia. Dan akupun teranugerah waktu-waktu yang manis dan berharga di sana. Terukir kenangan manis yang tak terlupakan. Alhamdulillah... Maka nikmatNya yang manakah yang kudustakan...?

Selain menjelajahi tempat-tempat menakjubkan di belahan dunia yang lain, Ia pun menuntunku menuju proses pematangan pribadi. Ia tunjukkan satu persatu jalan keluar untuk menguraikan segala persoalan hidup yang tengah menderaku. Ia lembutkan hati orang-orang yang ada di dekatku, di sekitarku. Ia ajarkan pemahaman, arti kehilangan dan perjumpaan. Tentang datang dan perginya segala sesuatu dalam hidup ini.


Ada perjumpaan yang begitu berkesan, dengan seorang kawan lama dari seberang pulau.. adalah ia yang mengajarkan kepadaku begitu banyak hal, tentang menjadi ibu, tentang menjadi istri, tentang menjadi wanita seutuhnya. Ia yang datang membawa hangat mentari ditengah redup dan bekunya hatiku. Bangkitkan kembali harapan hidup dan mimpi-mimpiku yang sempat terkubur. Rabb, terima kasih Engkau telah hadirkan ia dalam hidupku. Dan melalui ia lah pertama kalinya langkahku menjejak Sumatera. Tak pernah kuduga itu merupakan sebuah awal, dimana kemudian kelak aku menjejak belahan lain Sumatera, di tahun yang sama.


Kemudian, di penghujung tahun, Ia perkenankan aku untuk kedua kalinya menjejak Tokyo, Jepang. Ditambah perjalanan menakjubkan melihat Gunung Fuji yang puncaknya tertutup salju (yang ternyata tak) abadi. Subhanallah, walhamdulillahi, Allahuakbar... Maka nikmatNya yang manakah yang kudustakan...?

Dan di penghujung tahun... Yang Maha Pengasih memanggil ayahku 'tuk kembali keharibaanNya. Innalillahi wa'inna illaihi rajiuun. Hanya berselang satu hari saja sejak kepulanganku dari Negeri Sakura. Kemudian Ia perkenankan aku menemui dan mengantarkan ayahku sebagai bentuk penghormatan terakhir, ke kampung halamannya. Tak pernah terbayangkan olehku, akhirnya aku terbang juga ke sana bersama adikku. Inilah kali pertama langkahku menjejak Solok, Sumatera Barat, untuk mengantarkan beliau menuju peristirahatan terakhirnya. Luluh lantaknya perasaanku. Tak pernah kukira ia akan pergi secepat itu. Doaku mengiring kepergiannya, di tanah makam di atas perbukitan yang sejuk dan tenang, jauh dari pikuk keramaian... semoga beliau mendapat tempat terbaik disisiNya. Amin.

Yaa Rabb... 'tlah Kau torehkan begitu banyak warna di tahun ini, dalam lembaran kanvas putih perjalanan hidup hamba... Kepada yang datang dan pergi... Perjalanan menjelajah bumiMu nan luas membentang... Atas setiap hikmah yang berharga di setiap langkah... Terima kasih, Yaa Rabb... Alhamdulillah... Semoga di waktu ke depan, langkah hamba semakin kuat menjejaki tiap goresan (pena) takdirMu yang indah... Semoga hamba senantiasa Engkau tunjukkan jalan yang terbaik, menuju kehidupan yang lebih baik... Amiiinn yaa Robbal alamiiin...


~ Jejak Bintang ~
*) semua ilustrasi dalam tulisan ini adalah foto-foto istimewa koleksi pribadi saya

Wednesday, December 04, 2013

Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.


1989
Sapardi Djoko Damono

Sunday, December 01, 2013

JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabut dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi...


1968
Sapardi Djoko Damono

Tuesday, November 19, 2013

mimpi-mimpi bisu

Pernahkah kau ke sana, suatu tempat yang keindahannya membuat lidahmu kaku membisu...? Atau berada di samping seseorang, yang dalam diam pun, mengalirkan rasa nyaman bagai tenang air sungai tanpa riak-riak meresahkan...?

Pernahkah langkahmu terantuk bintang, tatkala engkau begitu yakin sepenuhnya menjejak bumi...? Lalu bagaimana ketika bukan dalam mimpi, peri cantik menghampiri takdirmu, menggenggam jemarimu, membawamu terbang ringan melayang mengarung lautan mimpi tiada bertepi...?

Di separuh takdir terkadang ada keajaiban-keajaiban kecil yang merangkai untai senyum penuh makna. Bolehkah mengutarakannya, atau lebih baik diam saja menikmati ruang mimpi ini bersama sang peri...? Sebab, bagaimana mereka 'kan percaya rahasia ini...? Maka biar saja peri kecil menjadi sahabat rahasia yang kita simpan di ruang hati.

Ketika dunia terasa bagai panggung megah sandiwara dalam satu skenario besar yang mengatur hidup kita, masih ada malam-malam bertabur kerlip bintang, rembulan perak, dan peri cantik penghias senyum kita, diantara mimpi-mimpi bisu yang 'kan mewujud nyata di ruang rahasia kita.

Wanita adalah pemimpi yang dianugerahkanNya sepasang sayap tak kasat mata 'tuk jelajahi negeri mimpi nan elok, bersisian dengan megah bumiNya.


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, November 13, 2013

pada Sunyi...

pada Sunyi, ku ingin bercerita...

...tentang ringan ilalang yang kerap terbawa angin, entah kemana

...tentang rembulan yang kerap berganti rupa

...tentang tabur bintang yang tak pernah usai kuhitung

...tentang langit kelam yang tak terbaca

...tentang mimpi-mimpi yang bergulir

...tentang kenyataan yang serupa dongeng-dongeng dari negeri yang jauh

...tentang keinginan-keinginan yang tak habis bermunculan dari angan-angan yang panjangnya tak seberapa dibandingkan tangan waktu

...tentang kegundahan hati yang menyerupa jala laba-laba

...tentang hal-hal dalam hidup, yang tak kumengerti

...tentang pemahaman bahwa ternyata memang ada hal-hal dalam hidup yang tak terangkum dalam kata-kata

...tentang penjelajahan jiwa dalam pengembaraan

...tentang semua yang tak dipahami khalayak ramai

...tentang denting yang terredam dalam bingar

...tentang rahasia-rahasia

...tentang dia yang hanya DIA memahami makna hadirnya di hidupku

...tentang pemahaman-pemahaman

...tentang CINTA dan CITA

duhai Sunyi, rangkumlah semuanya dalam diammu yang tak berjeda, dalam dunia tak mengenal aksara, dalam ruang-ruang yang tak mewujud di rahim bumi, di dasar palung laut tak terjelajahi insan...


~ Jejak Bintang ~

Sunday, November 10, 2013

describe: ME


"Kamu adalah orang paling menyenangkan yang pernah aku kenal..."

Isn't it sound so sweet...?

Bagaimana orang-orang di sekelilingku, menilaiku...? Tentunya ada begitu banyak sudut pandang. Terkadang, kita berpikir, semua itu tergantung dari bagaimana mereka menilai diri kita. Namun, setelah kurenungkan kembali, semua lebih kepada bagaimana kita menampilkan diri terhadap mereka.

Well, ternyata memang, kita cenderung bersikap "berbeda" pada orang-orang yang berbeda, di lingkungan yang berbeda. Misalnya, pada si A, kita cenderung hangat dan ramah, namun pada si B, kita bisa begitu cuek dan tidak peduli. Maka penilaian si A terhadap kita, tentunya sangat berbeda dengan penilaian si B terhadap kita, bukan begitu...?

"Kamu seperti labirin terrumit yang menyesatkan, dimana hampir membuat putus asa siapapun yang terlanjur tersesat di dalamnya, karena berpikir memang tidak diciptakan selapis celahpun sebagai jalan keluarnya..."

"Kamu orangnya paradoks, impulsif, terlalu spontan..."

"Kamu sangat plin-plan, begitu sulitnya ketika dihadapkan pada situasi dimana kamu mesti cepat atau segera mengambil keputusan...?"

"Kamu cerdas, terkadang isi kepalamu di luar keumuman, kata-katamu di luar prediksi atau sangkaan orang..."

"Kamu bagai buku terbuka yang begitu mudah terbaca olehku..."

"Kamu cukup egois, dan keras kepala dalam upaya mendapatkan apa yang kamu inginkan, gigih..."

"Kamu membingungkan dan sulit ditebak, kadang terlalu cepat berubah pendirian..."

"Kamu belum cukup matang dari segi pemikiran..."

"Kamu kadang begitu menyebalkan, ya..."

And so on, and so on... Terlalu banyak bila dijabarkan semua. Namun semuanya menjadi personal summary, bahan instrospeksi diri. Bagaimana kelak aku mematangkan karakterku. Tentunya mengerucutkan perspektif negatif dan memekarkan yang positif untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bagaimana orang menilai, ternyata hanyalah dari bagaimana cara kita memperlakukan mereka. Penilaian orang hanyalah cermin yang memantul lurus ke wajah kita.

Tak ada yang begitu penting untuk dirisaukan mengenai penilaian orang lain. Catatan tajamnya adalah bagaimana kita belajar untuk mulai memperbaiki perilaku, sikap dan tutur kata. Kitalah pemegang kendali terbesar dalam "membentuk" perspektif orang lain terhadap diri kita.

Kesimpulannya, bagaimana aku ingin dinilai...? Kembali pada kalimat pertama tulisan ini... :)


~ Jejak Bintang ~

Saturday, October 12, 2013

Pinjam Kaset


ALKISAH pada zaman dahulu kala, di era 90'an. Masa-masa sekolah, dimana mau beli apa-apa harus ngumpulin uang jajan, misalnya mau beli majalah Kawanku, Gadis, atau Aneka Yess! dan yang ngga kalah 'penting' adalah kaset. Ya, kaset. Waktu itu harga kaset lagu-lagu lokal kisaran 7000 s.d. 10000 perak. Dan kaset lagu-lagu barat sekitar 11000-15000 perak.

Kalo ingat waktu itu, punya kaset Boyzone, Backstreet Boys, N'Sync, Westlife tuh rasanya bahagia banget. Tiap pulang sekolah, atau ba'da maghrib setel tuh kaset di kamar, ikutan nyanyi-nyanyi sambil baca lirik, rewind lagu-lagu yang paling disukain banget, hihihi... Terus kalo tuh kaset suaranya mulai mendem, dimasukin freezer di kulkas dulu, nanti suaranya bakalan enak lagi.

Di sekolah, suka sharing sama temen soal lagu-lagu di kaset yang kita punya, terus ada ritual saling meminjamkan kaset untuk sekedar mau dengerin aja atau buat referensi sebelum memutuskan ikutan membeli album si penyanyi itu. Lucu juga kalau di ingat-ingat. Kadang temen suka lupa bawa kasetnya, terus pulang sekolah, kita 'maksa' main kerumahnya demi buru-buru mau minjem tuh kaset. Ngga sabar nunggu sampe besok. Hahaha :D

Dan yang ngga kalah seru, kalo duit jajan udah terkumpul buat beli kaset inceran, biasanya pulang sekolah janjian sama temen-temen jalan ke mall yang ada toko kasetnya, macam Disc Tarra. Demen berlama-lama disana sambil dengerin gratis album-album terbaru lewat music player plus earphone gede yang suaranya ngebass abis. Kalo ngga tau malu, cuek aja dengerin satu album sampe kelar. Paling-paling 'cuma' diliatin sama mas-mas atau mba-mba penjaga Disc Tarra. Hehehe...

Jadi kangen masa-masa itu. Coz sekarang ngga ada lagi yang namanya "pinjam kaset". Semua lagu, apa aja, dari zaman ke zaman, udah bisa di download secara gratis di internet atau copy punya temen. Dan ribuan lagu ngga perlu ribuan kaset, cukup dalam iPod, mp3 player, SD card, flashdisk, handphone, dan gadget-gadget lainnya. Kalo dulu, orang sampe punya berlaci-laci atau berrak-rak kaset yang bakal bulukan kalo ngga rajin-rajin dibersihin, dan si kaset bakalan rusak kalo ngga disetel-setel. Sekarang, semua masalah teratasi. Hemat budget, hemat tempat. Luar biasa teknologi itu, bukan...?


Best Regards,
Jejak Bintang


Wednesday, October 09, 2013

Bosan dan Terikat


Let say, this is about work things. Bosan dan terikat, adalah dua hal yang berbeda. Bosan dengan suatu pekerjaan yang sedang dijalani, mungkin sebagian orang bisa dengan mudahnya resign, kemudian mencari pekerjaan lain di luar sana yang lebih menantang, atau yang lebih baik. Begitulah kira-kira pada umumnya.

Bila usia masih relatif muda dan memang menyukai tantangan, berpindah-pindah kerja bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan. Ini kalau memang orangnya positif loh, ya. Bukan yang gonta-ganti pekerjaan karena bermasalah atau PHK. Dan batasan tulisan ini memang "bosan" yang positif. Betapa menyenangkannya ketika rasa bosan itu tinggal disikapi dengan 'berganti' suasana dan lingkungan baru. Pindah kerja...!

Lalu bagaimana bila usia sudah 'lampu kuning' untuk berpindah kerja...? Mau tidak mau bertahan, atau sambil cari side job sebagai alternatif pengusir bosan, atau mungkin pilihan lainnya yang sifatnya lebih personal...? Entahlah...

Bagaimana bila bekerja yang 'terikat'...? Yang tidak memberikan alternatif pilihan apapun bila dilanda kebosanan? Artinya, STUCK, dan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, you should be on the track, no matter what...!! Menjalani sesuatu meski tak sejalan dengan hati nurani, pikiran dan jiwa. Bagaimana...?!

Karena sudah 'terikat', maka agar tidak terasa memberatkan, kuncinya IKHLAS. Ikhlas menjalani dengan sepenuh hati. Dan tetap khusnudzon bahwa Allah menyimpan rencana besar menempatkan kita pada pekerjaan dan posisi itu.

Memang kalau direnungkan, ikhlas selalu bisa menenangkan hati, walau pelaksanaannya tidaklah semudah mengucapkan atau 'sekedar' memahaminya. Mungkin bisa dengan membuat ritme sendiri, fokus pada apa yang menjadi kewajiban, untuk dituntaskan, tanpa memikirkan hal-hal lain di luar itu. Build your own comfort zone at your work surrounding.

Sometimes, work is just like a commitment. You already engaged with it. So, deal with it 'till the time it should be.


Bosan...? Terikat...? Masalah buat looo...?! Enjoy aja, lageeee... Semangaaattt...!! ^^


~ Jejak Bintang ~
*) tulisan menghibur diri di tengah side effect of post power syndrome 



HENING

sebab, hening tak bicara
...maka ia diam

dalam hening,
masih ada suara hati,
...mengalun syahdu

dalam hening,
pemikiran tak bersekat,
...luas membentang

dalam hening,
inspirasi mengalir jernih,
...membuka cakrawala

hening adalah refleksi,
ruang percakapan hati, pikiran dan jiwa
...merangkum jawab

~ Jejak Bintang ~

Monday, October 07, 2013

Kertas Kosong

Secarik kertas ini hendak kuisi dengan bait-bait yang 'kan kuwariskan kepada putriku. Agar kelak ia membacanya dengan penuh haru, dan mengingatku dalam gemerincing kepingan waktu yang riuh mengiring langkahnya.

Putri kecilku memang tak cukup mengenalku. Mungkin aku juga demikian adanya, belum cukup mengenalnya sejauh ini. Semacam ada sekat-sekat waktu yang membatas, menjeda. Antara aku dengannya. Mungkin aku yang menutup diri, ataukah ia yang takut mendekat...? Entahlah...

Semoga seiring waktu, kedekatan hati 'kan hadirkan lebih banyak percakapan denganmu, Nak... yang mungkin 'kan menumbuhkan pemahaman mendalam antara kita... Amin...



~ Jejak Bintang ~

Friday, October 04, 2013

Pinterest

PINTEREST, dikategorikan sebagai salah satu social media berbasis fotografi, sebuah virtual pinboard, 'tempat' yang menarik sebagai alternatif mencari referensi fotografi selain Google-Image-Search.

Menemukan Pinterest seperti menemukan 'jendela kemana saja' yang memanjakan mata, imajinasi, dan mengalirkan inspirasi. Kalau biasanya aku menulis, kemudian 'mencari' gambar yang pas sebagai ilustrasi yang 'memperindah' tulisan. Kini, di Pinterest, terhampar begitu banyak gambar maupun foto yang mampu menggelitik inspirasi untuk dituangkan kedalam tulisan. Dan masalahnya adalah waktu. Ya, waktu, dan selalu waktu.

Mungkin nantinya blog ini akan kembali menjadi diary, yang menuangkan apa saja seketika, semacam sekelebatan lintasan pikiran. Anyway, thanks to you, who introduced me with Pinterest. Let's 'capture' our dreams, then through it comes to our reality. Insya Allah. One day. Let the universe conspiring to make them coming true. Amin.

~ Jejak Bintang ~

Wednesday, August 21, 2013

Tangan Waktu

selalu terulur ia lewat jendela
yang panjang dan menakutkan
selagi engkau bekerja, atau mimpi pun
tanpa berkata suatu apa

bila saja kautanya: mau apa
berarti terlalu jauh kau sudah terbawa
sebelum sungguh menjadi sadar
bahwa sudah terlanjur terlantar

belum pernah ia minta izin
memutar jarum-jarum jam tua
yang segera tergesa-gesa saja berdetak
tanpa menoleh walau kauseru

selalu terulur ia lewat jendela
yang makin keras dalam pengalaman
mengarah padamu tambah tak tahu
memegang leher bajumu


1959
Sapardi Djoko Damono

Tuesday, August 20, 2013

#thatPressure

Ketika usia melantakkan rasa. Sungguh aku enggan berdebat. Semacam celoteh sumbang tanpa makna. Mengalir kemudian mengering seketika. Bolehkah kau perkenankanku 'tuk menepi sejenak? Sungguh aku tak nyaman dalam tekanan ini. Kau tak memahamiku lagi. Mungkin.

Pikiranku sedang merumuskan sesuatu yang abstraknya bahkan tak mampu diterjemahkan oleh rumusan terrumit sekalipun, terlebih lewat kesederhanaan pemikiranmu. Hati sejenak bagai membatu. Pemahatnya barangkali sedang dalam pengembaraan yang jauh. Entah kembali, entah tidak. Semua serba tak pasti.

Bagaimana merumuskan kepastian? Mungkinkah kau ajarkan padaku?


~ Jejak Bintang ~

Monday, August 19, 2013

tiada terkata

keengganan mengungkap isi hati. lisan yang membisu. biar angin mengembus dalam lirih. usah bersuara.

ketika suara-suara sekitar hanya terdengar bising. ketika pikiran ini dihinggapi macam praduga.

diam saja. hening.

itu lebih baik.


~ Jejak Bintang ~

Sunday, July 21, 2013

sederhana

kusederhanakan bahasaku,
di suatu negeri yang jauh,
tak mengenal bahasa...

kusederhanakan kerumitan peta pemikiranku
agar kumampu torehkan makna lebih dalam
di peradaban terasing...

perjalanan ini merangkum inspirasi terdalam bagi jiwa,
ketika berjalan menapaki sisi lain bumi
dalam langkah-langkah yang telanjang...


~ Jejak Bintang ~


Wednesday, July 17, 2013

Belajar dari Keledai (Good Point to Share)

Good point to share…..

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukan.

Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang akan apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan tubuhnya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara para tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri.

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' itu dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah yang kita alami merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah...!!

Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan:

    1. Bebaskan dirimu dari kebencian
    2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
    3. Hiduplah sederhana
    4. Berilah lebih banyak
    5. Berharaplah lebih sedikit
    6. Tersenyumlah


SUMBER: GOOGLE

Thursday, July 11, 2013

Lubang di hati...

Kubuka mata dan kulihat dunia, 
'tlah kuterima anugerah cintaNya 

Tak pernah aku menyesali yang kupunya 
Tapi kusadari ada lubang dalam hati 

Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini 
Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati 

Apakah itu kamu, apakah itu dia 
Selama ini kucari tanpa henti 

Apakah itu cinta, apakah itu cita 
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati 

Kumengira hanya dialah obatnya 
Tapi kusadari bukan itu yang kucari 

Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan 
Dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti 

Apakah itu kamu, apakah itu dia 
Selama ini kucari tanpa henti 

Apakah itu cinta, apakah itu cita 
Yang 'kan mengisi lubang di dalam hati

a song by Letto 

Monday, June 24, 2013

#RuangRenung

WAKTU yang menghitung mundur. Ketika aku tersesat dalam gradasi abu-abu, hitam dan putih. Seolah aku tak menyukai kemilau warna nan tawarkan banyak rupa. Maka biarlah aku di sini, termenung dalam diam yang mengeja sunyi.

Ruang hampa ini semestinya terisi dengan perenungan yang panjang tentang derap langkah yang tak pernah konstan. Dan katanya, aku memang tak pernah fokus. 

Benarkah...?


~ Jejak Bintang ~

Sunday, June 09, 2013

Perihal Kesetiaan

Sekali lagi langkahku terantuk di sana. Pada batu cadas yang pernah memarkan ibu jari kakiku.

Bagaimana meski kulukiskan kesetiaan, manakala ia tidaklah berbentuk.

Andai kau lihat bintang. Yang samar mengerlip menghias langit kelam. Mereka selalu ada di sana. Sesekali akan nampak terang benderang di atas kepalamu. Adakalanya mereka tak selalu terlihat, tapi mereka ada.

Bintang selalu di sana. Mungkin begitulah kesetiaan. Kamu tak selalu bisa melihatnya, atau merasakannya. Namun tatkala pekat menyelimuti langit di tempat yang terasing dan kamu kesepian, lihatlah ke atas. Kerlipnya 'kan menemanimu, walau mungkin tak cukup benderang. Redup, meneduhkan.

Entah sampai kapan kamu akan memaknai hadirnya. Atau bila kamu kelelahan mencari kerlipnya yang tak selalu nampak, biarkan rembulan perak itu sejenak menemani.

Tapi... ingatlah, bintang 'kan selalu ada...


~ Jejak Bintang ~

Thursday, May 16, 2013

Diet Temptation

Semenjak aku kembali tinggal di rumah Mama, dietku mulai terancam. Mama suka memasakkan makanan kesukaanku. Aku yang selama ini sudah mengganti sarapan dan makan malam dengan shake Herbalife, mulai tergoda dengan masakan-masakan Mama.

Saat tiba di rumah jam 8 atau jam 9 malam, aku ke dapur untuk ambil air minum. Dan ada udang goreng tepung kesukaanku. Mama bilang, "Tuh kamu abisin aja, Mama sama adikmu udah makan". Whaaaattt...?! Abisiiinnn...?! Ngeri banget kalimat itu terdengarnya di telingaku. Dan yang ada aku pun "ngemil" udang itu sampai HABIS, walaupun tanpa nasi. Dan ini merupakan pelanggaran bagi program dietku X_X.

Saat weekend, Mama sering bikin Capcay Seafood atau Capcay Ati-Ampela kesukaanku. Dan kalau aku tidak makan, beliau akan bawel, "Heran deh, Mama udah masak, kamu ngga pernah makan. Kan mama capek itu bikinnya, ya mbok hargain orang tua...". Hadeeehh... Lah kan aku ngga sarapan, Ma. Dan daripada ribut-ribut, akhirnya aku pun "terpaksa" makan. Just another breach of my diet... X_X

Dan masih ada lagi. Kalau aku sedang nonton TV di ruang keluarga, tiba-tiba Mama muncul membawa sepiring tempe goreng tepung. "Nih, kesukaan kamu, abisisn, ya... Kan kalo udah dingin ngga enak..." Whaaattt...?! Agaaain...?! Dan "tanpa sadar" pun akhirnya aku "sanggup" menghabiskannya. Sungguh GAWAT bila hal ini terus berlangsung.

Pernah beberapa kali weekend, aku sengaja keluar rumah, dengan maksud agar terhindar dari godaan-godaan makanan itu. Ternyata Mama update status facebook: "Heran deh, anak-anak kok pada ngga betah di rumah, padahal udah dimasakin makanan kesukaan. Capedeh...!!".

DIET oh DIET, betapa BERAT godaan yang menyertaimu... X_X


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 14, 2013

Menyederhanakan Pikiran


Aku ingin menyederhanakan cara berpikirku yang selama ini begitu rumitnya. Entah mengapa, begitu sulit bagiku untuk berpikir pragmatis. Padahal, rata-rata orang di sekelilingku cenderung memiliki pola pikir demikian. Hmmm, wajar saja jika aku kerap stuck dalam mengambil keputusan atau mencari solusi. Sebab seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiranku sendiri. 

Contoh sederhananya, aku bisa tiba-tiba speechless dihadapan putri kecilku yang mendatangiku dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tentang hal-hal yang baru dilihat atau didengarnya. Ya ampuuunn...!! Aku pernah terbengong-bengong dihadapannya saat dia bertanya, “Ma, pacaran itu apa, sih...? Boleh ngga kalau aku pacaran sama Kakak (maksudnya adalah kakak sepupu laki-lakinya)...?”. 

Kini aku menyadari, ternyata kerumitan pikirankulah yang membuatku tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Sebab belum apa-apa aku sudah ambil pusing duluan dengan pikiran “mengapa” ia bertanya demikian, dimana seharusnya aku lebih fokuskan pada “bagaimana” menjelaskan dengan cara yang paling sederhana sesuai dengan pemahaman putriku yang ketika itu baru berusia tiga setengah tahun. 

Menjadi seorang ibu memang bukanlah amanah yang sepele. Menurutku, seorang ibu di zaman hi-tech ini, hukumnya "wajib" untuk cerdas. Tidak semata-mata dalam hal mengurus rumah tangga, namun dari segi wawasan, karena seorang ibu "harus bisa" menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh anak, minimal secara mendasar. Agar anak mendapatkan informasi yang pertama dari ibunya, sebelum nanti ia menyerap informasi dari luar yang lebih luas lagi. 

Sesungguhnya seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiran, maka marilah jadi pemikir yang sederhana untuk menemukannya.

Jika kita bisa mengerti hal-hal yang orang lain tidak mengerti, berarti kita adalah orang yang penuh pengertian.

Bila kita mampu menjelaskan sesuatu yang pelik dengan sederhana, itulah tandanya kita telah cukup memahami.




~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 07, 2013

Rekan Kerja Bisa Membunuh Karier Anda

Selasa, 31/8/2010 | 15:41 WIB

KOMPAS.com - Anda mungkin pernah mengikuti atau pernah mendengar mengenai outbond perusahaan. Intinya untuk membangun team work dan bonding antara karyawan. Harapannya, dengan makin erat kedekatan antara karyawan, akan tercipta produktivitas, moral tim, dan kepuasan kinerja para karyawan. Persahabatan seharusnya bisa membantu memberikan dorongan, rasa kebersamaan, dan nampaknya memang bisa membantu pekerjaan berjalan lebih baik. Nyatanya, di balik itu semua, Anda tak bisa menyamakan kedekatan dengan teman kerja dengan pertemanan Anda dengan sahabat sejak kecil. Persahabatan dengan rekan di kantor harus ditangani dengan hati-hati, karena ini akan mencampur antara kehidupan personal dan profesional seseorang.

Irene Levine, psikiater di New York University mengatakan, persahabatan di tempat kerja bagai pedang bermata dua. "Persahabatan tersebut bisa berjalan dengan baik atau buruk tergantung dari masing-masing individu dan peran mereka. Kedekatan dengan teman kerja bisa mendorong kreativitas dan kepuasan kerja, namun tetap harus dijaga waspada. Beberapa persahabatan bisa berantakan dan akan sulit untuk Anda menghadapi 'mantan teman' di lorong kantor," begitu ujarnya.

Dengan siapa Anda berteman pun akan memengaruhi penilaian atasan dan rekan kerja terhadap Anda, ujar Helen Cooke, pemilik Cooke Consulting, firma sumber daya manusia dan pengembangan organisasi. Ternyata, selain kepribadian, kita juga dinilai lewat tipe orang-orang yang ada di dekat kita juga.

Ada banyak hal yang bisa menjatuhkan seseorang dari pertemanan. Namun, kita masih bisa mengeruk keuntungan dari pertemanan tadi tanpa harus takut karier kita rusak karenanya. Berikut adalah cara menetapkan batasan untuk pertemanan di tempat kerja:

Berjaga-jaga sejak awal

Anda baru kenal dengan si anak baru. Senda yang terjadi begitu cair. Candanya pun mengalir begitu saja. Hm, hati-hati, Anda akan mudah tergoda untuk menceritakan tentang masalah pribadi. Jangan terlalu cepat berbagi informasi personal Anda seketika itu juga. Waspadalah dengan siapa Anda berbagi cerita pribadi. Jangan terlalu mudah berbagi hal-hal semacam itu. Anda harus memberi waktu yang cukup untuk membangun rasa percaya kepada si dia dan untuk saling mengenal kepribadian. Coba pergi makan siang bersama dulu sambil bicarakan hal-hal yang umum baru pergi hang out bersama.

Minimalisir acara sosialisasi di dalam kantor

Masih wajar jika Anda dan teman di kantor itu pergi makan siang bersama, duduk bersebelahan saat rapat, atau pergi minum kopi bersama sesekali, namun, jangan habiskan berjam-jam di kubikelnya sambil bergosip.

"Jika pertemanan terlalu cair, bisa-bisa terlibat drama kantor, misal; cinta lokasi, bos galak, atau bikin geng memusuhi rekan kerja lain. Hal-hal negatif semacam ini bisa menurunkan produktivitas," terang Susan Shapiro Barash, penulis Toxic Friends: The Antidote for Women Stuck in Complicated Friendships.

Pertemanan di kantor seharusnya cukup sebagai penyeimbang saja. Untuk menjaga pertemanan semacam ini, ada baiknya untuk menjaganya low profile saat di kantor. Untuk urusan acara pribadi dengan si teman, lakukan di luar jam kantor dan di luar lingkungan kerja. Ini akan mencegah tuduhan bahwa Anda terlalu sering bersosialisasi ketika di dalam kantor karena ini akan merefleksikan produktivitas Anda. Disarankan untuk melanjutkan hubungan pertemanan atau urusan di luar urusan kantor di luar lingkungan kerja.

Hati-hati melaporkan hubungan

Jika Anda merasa atasan Anda adalah sahabat terbaik, ingat; ketika ada laporan mengenai hubungan antara dua individu, penting untuk membangun batasan yang disepakati bersama agar yang lainnya tidak merasa ada perlakuan khusus atau ketidakadilan dari si atasan.

Meski bos Anda adalah sahabat terbaik Anda, bukan berarti Anda bisa menyombongkan kedekatan ini di kantor. Ketika menyangkut promosi, Anda tak ingin kan rekan kerja lain berpikir bahwa karier Anda bisa naik karena pertemanan dengan bos?

Lain lagi jika Anda punya teman yang setara. Awalnya berteman seangkat, kemudian salah satu dari kalian dapat promosi, maka batasan baru pun harus mulai dipasang. Misal, Anda dan rekan kerja berada dalam grup yang berisi 5 orang yang saling dekat. Tiba-tiba Anda mendapat promosi dan naik ke jabatan yang lebih tinggi. Anda sudah tak bisa lagi komplain mengenai cara kerja anggota grup tadi ke anggota lainnya, meski itu cara Anda sebelum dipromosi. Karena ini akan menyakiti pertemanan Anda, termasuk reputasi Anda. Jangan lupa, fokus utama Anda adalah pekerjaan, artinya, Anda harus mematok batasan dengan rekan kerja Anda mengenai seberapa banyak waktu yang bisa Anda lewatkan untuk saling bercanda dan banyaknya ungkap pikiran yang ditukar.

Anda pun mesti menghormati batasan yang diberikan oleh rekan kerja Anda. Meski hal itu terlontar secara eksplisit. Misal, saat Anda sedang bercerita tentang kencan Anda semalam, dan si teman Anda itu tiba-tiba mematikan monitor sambil melihat jam tangan. Itu tanda-tanda bahwa ia tak ingin tahu mengenai hal pribadi Anda.

Punya pengalaman bagaimana teman kerja membuat kinerja tidak produktif atau merusak karier dan cara Anda mengatasinya?

NAD

Editor: Nadia Felicia

Sumber: careerbuilder

Sunday, April 28, 2013

Kisah Secure Parking SMS


Tersebutlah sebuah Mall di kawasan Gading Serpong, Tangerang, yaitu Summarecon Mall Serpong (SMS). Mall besar yang merupakan alternatif menarik di Tangerang, setelah Lippo Karawaci.

Namun kali ini aku tak hendak menceritakan tentang mall ini secara keseluruhan. Anda mungkin bisa googling sendiri aja, atau bertanya pada kerabat mengenai mall ini, hehehe... :D

Beberapa kali, aku "kecolongan" duit Rp. 500,- (lima ratus rupiah) di secure parking mall ini. Bukan masalah nilainya yang tak seberapa ya, tapi sudah beberapa kali kejadian seperti ini berulang. Petugas selalu beralasan "Maaf, tidak ada duit lima ratus, Mbak...", yang intinya dengan "terpaksa" kita harus merelakan duit itu, mengingat antrian keluar secure parking yang relatif ramai.

Tentu saja aku bukanlah satu-satunya pengunjung yang mengalami hal itu. Ternyata banyak sekali pengunjung SMS memiliki cerita yang sama denganku (berdasarkan survey terhadap orang-orang yang aku kenal, tentunya). Dapat dibayangkan, Rp. 500,- dikalikan ratusan pengunjung setiap harinya...?! Secure parking itu tentunya bisa kaya raya dari koin lima ratus rupiah yang kita kumpulkan tidak atas dasar "keinginan hati" atau ikhlas, bukan...? Ruuuaaaarrrr biasoooo...!!

Suatu malam, aku dan Mama keluar dari secure parking SMS, dan uang yang kusiapkan ternyata kurang Rp. 500,-. Kebetulan aku agak mengalami kesulitan menemukan Rp. 500,- di sakuku. Kata petugas, "Ngga apa-apa Mbak, saya tungguin...". Oooowwwhhh, ternyata segitu ngga relanya dia kekurangan Rp. 500,-, ya...? Kubilang padanya, "Oya, Mas, aku sering banget loh, kalo keluar secure parking SMS, kembalian lima ratusnya ngga ada, terpaksa aku ninggalin Rp. 500,- beberapa kali. Gimana kalau itu dijadikan depositku aja...? Ada catatan setiap kali kembalian Rp. 500,- ngga aku terima...?". Petugas cuma nyengir kuda. Ngga bisa menjawab saya. Antrian di belakang pun mulai ramai mengklakson. Aku tegaskan lagi, "Gimana, Mas, bisa laporkan ke Managernya sekarang, usulanku...?".

Dengan ekspresi kebingungan, petugas menjadi salah tingkah sendiri. Namun tetap tidak mau merelakan uang Rp. 500,- dariku. Dan karena antrian di belakang kami sudah mengklakson tiada henti, Mama pun mengeluarkan Rp. 500,- dan memberikan pada petugas. Aku merasa Mama rese sekali. Tidak mendukung sikap kritisku. Aku pun kesal dan cuma bisa bilang ke petugas, "Kasian ya, besok aku merasa perlu menggalang koin untuk secure parking SMS". Dan petugas pura-pura tidak mendengar. Mama menepuk-nepuk pundakku, menenangkan. Mama bilang, "Udah, biarin aja, itu kan dosa dia...". Whaaaatttt....???!!! Mama oh Mama... X_X


Jejak Bintang ~

Thursday, April 25, 2013

menjadi temanmu...

teruntuk anakku;

Tumpukan buku mewarnai, buku kreativitas, buku cerita dongeng, krayon, sampai spidol... tentu saja takkan pernah cukup bagimu...

Iya kan, Nak...?

Kau pasti rindukan hadirku,
mendampingi dalam setiap kegiatanmu,
entah di sekolah, apalagi di rumah...

Sudah terlalu banyak masa-masa keemasanmu yang kulewatkan,
ditengah hentakan waktu yang menyita banyak enerjiku...

Dan kini usiamu semakin bertambah,
kemana saja aku selama ini...?

Hei, Nak, maafkan mamamu, yaa...
saat ini dan seterusnya,
selama nafas kita masih berhembus,
aku ingin menjadi temanmu...



Note October 12th, 2010
Jejak Bintang ~

Monday, April 22, 2013

Menjadi sangat sibuk...

Ketika waktu 7 hari 24 jam terasa kurang untuk mengatur jadwal bertemu dengan orang-orang, tiba-tiba saja aku merasa menjadi sangat sibuk. Perkara membagi waktu nampaknya semakin hari menjadi semakin pelik. Ku ingin lebih.

Kebutuhanku akan "me time" rasanya memang tak pernah cukup, ketika sebagian besar waktu tersita untuk pekerjaan, dan sisa waktu lainnya untuk menyeimbangkan hidup.

Begitu banyak rencana perjalanan yang hendak kubuat dengan orang-orang terkasih, dan tentunya untuk diriku sendiri. Dan seringnya semua itu luruh tak terjamah waktu. Blast begitu saja.

Aku mencari penyeimbang waktu, yang mungkin kan membuatku nyaman dalam segala keterbatasan yang ada di hadapanku, dalam hidupku ini.

Dimanakah...?

I would I could stand on a busy corner, hat in hand, and beg people to throw me all their wasted hours. ~Bernard Berenson


~ Jejak Bintang ~

Friday, April 19, 2013

Knight of The Night


I’m walking slowly
through this darkest hours
I’ll never know where is the end 
of the long journey 
but I keep on walking and LIFE GOES ON

Now I’ve been looking for someone who’s always
come in to my dreams evey nights…
Invites me to another surrounding
that I’ve never seen before
But it’s really a beautiful place to be…

He’s like a shadow in the dark but feels so real
He never talk to me,
But his eyes told me everything
The Knight of The Night
What’s your name...?


a note from the past; 2004
~ Jejak Bintang ~

Wednesday, April 10, 2013

"surga" yang hilang


Tak ada surga di dunia. Yang ada hanya kebahagiaan yang kerap dicari, semenjak masa kanak-kanak hingga kelak kita merenta. Dan begitu beragam definisi kebahagiaan. Begitu personal bagi tiap insan.

Bahagiaku sederhana. Aku inginkan keluarga yang penuh kasih sayang didalamnya. Sebuah rumah yang nyaman, meski tak perlu megah. Kehangatan. Cinta. Namun ternyata hal itu tidaklah pernah menjadi sederhana. Kebahagiaan semacam itu merupakan kemewahan dunia yang tak terhingga. Ternyata. Tidaklah sederhana lagi ketika hal itu harus diperjuangkan dengan peluh, airmata, dan bahkan "darah". *sigh*

Masa kanak-kanakku telah berlalu bertahun silam, dengan membawa serta kenangan manis indahnya persahabatan dengan para sahabat yang senantiasa menguatkanku, dan kepahitan di sisi lain kehidupan dimana tak pernah aku merasa nyaman di dalam "rumah" yang kutinggali, sebab "keluarga" tak pernah memberiku rasa hangat di hati. Satu-satunya kemurnian cinta yang kurasakan abadi hingga pijarnya padam hanyalah cinta almarhumah my grandma. Semoga kini, dan selamanya, beliau mendapat tempat terbaik disisiNya. Amin.

Tahun ini, 2013 adalah tahun yang 'kan menjadi tonggak sejarah dalam hidupku. Sebab begitu banyak peristiwa besar yang mengguncangkan jiwaku, terjadi. Kuanggap ini sebagai tahun terberat, semoga kelak takkan ada tahun yang lebih berat dari 2013 ini. Amin.

Satu peristiwa bersejarah adalah aku telah berhasil dalam upayaku mengembalikan keutuhan keluarga mama. Berharap sisa waktu akan berpihak pada kami 'tuk mengembalikan hari-hari yang terampas, menjadikan "rumah" sebagai rumah yang sejati. Mengumpulkan serpihan kebahagiaan yang kukira takkan pernah ada dalam keluarga besar kami. Yang sempat membuatku putus asa dalam mengangankan, terlebih meraihnya kembali.

Allah SWT telah membukakan jalanku menuju kesana. Namun ternyata kerikil-kerikil yang menusuk langkah justru dari dalam "kebahagiaan" itu sendiri, yang seolah enggan menemui mata airnya, setelah bertahun terseok di padang gurun nan tandus akan kesejukan. Mengapa...? Apakah sekali lagi aku telah salah mendefinisikan hakikat "kebahagiaan" yang "sederhana" ini...? Benarkan ia takkan pernah menjadi "sederhana"...?

Aku mensyukuri setiap rahmatNya, setiap nikmatNya, dan mensyukuri figur-figur istimewa yang dihadirkanNya dalam lembaran sejarah hidupku. Dan mensyukuri setiap jalanku dalam cahayaNya. Alhamdulillah. Kuanggap semua rencanaNya kelak 'kan berakhir indah. Amin.

Mama... semoga kelak segala upayaku ini dapat pancarkan secercah cahaya pada bening matamu yang 'tlah bertahun meredup... Bagiku "surga" itu bisa begitu dekat... Jalan kesana salah satunya 'tlah ditakdirkanNya melaluimu... Namun semua itu 'tlah terrampas sekian lamanya, dan kini ku hanya mengharapkan ridhoNya, semoga langkahku tak pernah terputus atas kebaikan dariNya... Amin...


~ in silent ~
April 10th, 2013
Jejak Bintang


Thursday, February 21, 2013

Menakar Waktu

Menakar waktu yang tak terukur,

seringkali batin memanggil lirih jeda waktu
yang disayangkan menjadi abu dalam hampa,
terpenggal emosi...


~ Jejak Bintang ~

Sunday, February 17, 2013

Sesuatu yang tertunda...


Sesuatu yang tertunda, mungkin bukanlah hal yang buruk, tapi justru bisa jadi lebih bermakna. Seringkali manusia kehilangan kesabaran untuk sejenak berada dalam penantian, meskipun hal itu terdengar sangat manusiawi.

Seperti hilang dalam ketiadaan, memory silam tak jua pergi, terus berharap tanpa kepastian. Tak ingin dihantui seperti ini, namun selalu merindu. Seakan hidup takkan seperti ini tanpa hari itu. Sepi selalu dalam dekapan waktu.

Apakah jalan ini sudah benar...? Atau aku hanyalah tergesa-gesa...? Bagaimana memastikannya...? Kadang aku ingin berlari saja ke masa yang lalu, melangkah kembali dengan tawa riang yang hampir hilang. Perubahan yang drastis bagai berlari terpejam saja.

Namun waktu memang tak pernah berdusta. Ia tunjukkan betapa cepat perubahan, bahkan dari kerjapan mata. Terasa seperti ada yang terlewati, padahal tidak. Lalu, kapan masa lalu 'kan berhenti mengintai langkah...? Ataukah aku harus berlari mundur kearahnya...? Dan, mengapa...?


Catatan 2010
~ Jejak Bintang ~

Wednesday, February 13, 2013

Buuuzzzzzzzyyy.......!!

Ketika,
kesibukan menggerogoti waktu

Perhatian terpusat pada sesuatu
yang sungguh menegangkan urat syaraf

Tak ada yang penting,
semuanya menjadi bias,
tergilas pada apa yang menjadi pusat perhatian

Fana, semakin kita sadar,
hidup, cuma waktu yang diburu,
menggebu...

















~ Jejak Bintang ~

Wednesday, February 06, 2013

#Pengecut

Ceracau sumbang, tertelan waktu
Takkan lagi kubentangkan angan-angan
Mimpi-mimpi tandus,
Serta merta ladang hati yang terbakar

Kini kupaham mengapa hati kerap meragu
Pada perjalanan diatas kereta yang melaju perlahan
Kecepatanmu terlalu stabil
Kamu, masinis... Tubuh yang membelakangi jalan...

Mengapa kau taburkan benih mimpi
Tanpa memupuknya sepenuh jiwa...?
Dan aku terbuai mimpi tak bertuan
Terperangkap dalam pesona semu, engkau...

Di sini kuhentikan langkah,
Kamu menjauh bagai seorang pengecut
Tak lagi elegan sebagaimana citra yang sempat kau tebarkan...

Kamu, tetaplah masinis, takkan jadi nahkoda
Keretamu melaju tanpa bisa mengubah arah
Kapalku karam, di dasar lautan tak bernama
Terkubur bangkainya, yang tak ingin ditemukan

Namun aku tak mati,
Ragaku terangkat ke daratan,
Seorang nahkoda menemukanku sekarat,
Dan hendak membawaku berlayar mengarung

Walau kini aku limbung ditempa kesedihan mendalam
Aku tak hendak membenci kenangan kamu dan kereta
Samudera biru menawarkan arah pada segala penjuru,
tak seperti kereta terpaku pada rel

Nahkodaku tak takut dihantam badai,
Lengan kokohnya kan merengkuhku senantiasa
Kamu, tinggallah di kereta itu hingga senja
Takdir kita barangkali usai sudah

Takkan ada pertautan,
Perjumpakan rel kereta dengan samudera biru tak berbatas...


~ Jejak Bintang ~