
Banyak pasangan yang terjebak dalam konflik karena berpikir bahwa pengambilan keputusan hanyalah peran salah satu orang. Pengambil keputusan tak bisa berpusat pada Anda atau pasangan saja. Hubungan berpasangan membutuhkan keterlibatan dua individu dalam mengambil keputusan tentang hubungan maupun seputar masalah keluarga kedua belah pihak. Upayakan untuk selalu membuat keputusan bersama, bukan hanya keputusan Anda atau dia. (dikutip dari KCM; Rabu, 15/9/2010 | 08:12 WIB)
Well, di era internet yang canggih dan segalanya sudah serba modern, terkadang tanpa kita sadari, kehidupan rumah tangga bagi pasangan bekerja sudah bergeser cukup jauh dari norma-norma adat yang selama ini diterapkan secara turun temurun oleh orangtua kita. Terkadang (bahkan sudah menjadi rahasia umum masyarakat modern) peran istri menjadi lebih besar dari peran suami dalam berbagai segi kehidupan. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor penghasilan, karena sekalipun istri yang berpenghasilan lebih sedikit daripada suami, tetap 'berhasil' mendominasi peran utama dalam rumah tangga :D (maaf yach kaum suami)
Berbicara tentang keputusan bersama, suami memang cenderung 'pasrah' pada pendapat istri jika mengenai hal-hal 'printilan' dalam kehidupan sehari-hari. Hmm mungkin seperti halnya memilih merk sabun dan shampo yang digunakan, atau memilih menu untuk makan sehari-hari, dll. Ada banyak hal dimana wanita memang 'lebih pandai' dalam menentukan.
Namun, ketika hal ini dikaitkan dengan pola asuh atau pola mendidik anak, sepertinya akan jauh lebih baik jika menjadi 'urusan' bersama.
KARAKTER ANAK mulai terbentuk dari lingkungan terdekat, yaitu orangtua yang secara otomatis sadar atau tidak sadar telah menjadi panutan mereka semenjak usia dini. Anak akan merasa kebingungan untuk membedakan sebenarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, ketika kedua orangtuanya tidak satu suara dalam hal ini. Misalnya si anak senang tidur di lantai tanpa alas apapun (karpet/tikar/kasur lipat). Ibunya memperingatkan berkali-kali bahwa "Nak, tidak sehat kalau kamu sering tidur di lantai tanpa alas seperti itu...", lalu sang anak akan bertanya pada sang ayah, dan sang ayah menjawab "tidak apa-apa", dan hal itu akhirnya menjadi kebiasaan si anak. Setiap kali Ibunya melarang, dia akan meminta izin a.k.a. 'pembelaan' ayahnya untuk diperbolehkan, dan ayahnya selalu menuruti semua keinginan sang anak.
Kemarin, melalui facebook, aku bertanya pada salah seorang teman yang 'kunilai berhasil' mendidik anak-anaknya sehinggga terlihat anak-anaknya itu sangat berkarakter dan berperilaku baik. "Fren, kasih tau dong resepnya gimana membangun karakter anak sejak dini agar bisa seperti kedua anak-anakmu itu, ngiri deh aku ngeliatnya...". Temanku menjawab, "kuncinya, kompak dengan pasangan... jika kita bilang TIDAK BOLEH pada anak, maka pasangan harus mendukung, sehingga anak akan mengerti bahwa ketika kedua orangtuanya melarangnya untuk melakukan sesuatu hal, itu artinya memang sesuatu itu TIDAK BAIK..."
Ffffiiiuuuhhh... dan ada banyak lagi wejangan dari temanku itu dalam inbox facebook-ku, yang tidak mungkin semuanya kutuliskan disini. Intinya, dalam membuat keputusan bersama, entah itu hanya hal-hal 'printilan' atau 'kelas berat', semestinya kita memang harus 'menyamakan persepsi' terlebih dahulu dengan pasangan untuk kemudian mengambil keputusan yang sudah merupakan hasil kesepakatan bersama, terlebih ketika itu menyangkut sang buah hati yang karakternya masih sangat labil, kita sebagai orangtua mempunyai peran yang paling besar dalam membangun karakter anak sejak dini.
*sorry, pas dibaca lagi kok malah curhat.com yach* ;P
4 comments:
Perlu satu suara untuk mendidik anak ?...ummmm gak juga kok. Selama keputusan itu selalu punya alasan yg jelas dan bisa dimengerti oleh anak.
Misal kita melarang anak untuk minum es, sedangkan suami kita tidak melarang dengan alasan kasihan, krn dia kepengen. Kita bisa bilang ke anak.."bukan bunda melarang, tapi kamu sudah sering minum es nak, kalau kebanyakan minum es bisa bikin kamu pilek,nanti kalo kamu sakit, nga bisa ke sekolah, nga bisa maen sama temen2, etc..."
Beri alasan yang masuk akal dan mudah dicerna oleh anak, dengan begitu anda juga mengajarkan anak untuk ikut berpikir, perbedaan pendapat bagus kok untuk tumbuh kembang otak anak selama masih mengandung nilai positif di dalamnya.
Hati-hati juga..selalu mendapati keputusan dalam satu suara dirumah..bisa membuat anak kaget tidak bisa menerima dan menghormati perbedaan pendapat di luar linkungan rumah. Semoga bermanfaat
Salam,
Bunda Jasmine
Dear Bunda Jasmine,
Waduuuhh kaget saya dapet tanggapan yang demikian mendetail dari anonymous ;P
Well, banyak hal yang membentuk pola pikir saya menjadi sedemikian rupa, Bun... Makanya saya masih cari banyak referensi untuk hal yang satu ini... saya ngga ingin anak saya menjadi pribadi dengan karakter yang kurang tegas, atau semacamnya yang dikarenakan oleh pola asuh yang salah...
Komen ini menjadi masukan yang positif banget buat saya... ;>
Thank you for sharing...
Ehm, belum punya anak jadi cuma berdasarkan referensi aja
Untuk aturan tertentu memang harus ada kesamaan suara ortu hingga anak jadi mau mentaati aturan tersebut disamping tentu saja harus ada penjelasan yg sesuai dengan usia anak, soalnya dibeberapa kasus kalo ada diantara ayah atau ibu yg cederung tidak tegas si anak akan meremehkan aturan/larangan itu jadi percuma aja diterapkan walaupun sudah diberi penjelasan anak malah lebih cenderung tidak menganggap serius larangan itu
Dengan bertambahnya usia anak diberi kesempatan untuk memberikan pendapatnya itu juga untuk kasus tertentu yg masih bisa ditoleransi kesalahannya
Kalo menurut para pendidik seh usia anak dikelas 4 ke atas yg sudah mulai bisa diajak berdiskusi, tapi ada juga yg anak lebih suka kalo diberi ketegasan ini boleh atau tidak daripada si ortu bicara panjang lebar kasih pandangan dan menyerahkan anak untuk menyimpulkan sendiri apakah hal itu baik atau tidak buat dia
Tapi seperti kata bunda jasmine, perbedaan pendapat itu baik jadi kasih kesempatan bagi anak untuk mengutarakan pendapatnya dan arahkan. Jangan lupa juga untuk selalu memberi penjelasan kenapa ia dilarang supaya anak mengerti dan tidak mengulanginya lg
Cukup sekian pendapat sok tau saya hehehe...Ffuhh, punya anak itu berat yah?!
@ Shiryu, boleh juga masukannya... waaahhh ngga sia2 nulis panjang begini ada 2 komen panjang yang 'berisi' ;)
Post a Comment