Showing posts with label DIARY. Show all posts
Showing posts with label DIARY. Show all posts

Monday, February 05, 2018

A Mother's Tears

Kepada bintang aku ingin bercerita. Tentang buah hati yang menitikkan air mataku. Ketika sabdaku dianggapnya hembusan angin semata. Sedih mengalir sampai ke ulu hati. Kecewa sungguh.

Mengapa ia seperti itu? Seusai kusampaikan pesan dengan lembut dan sepenuh hati? Saat kucoba ajarkan padanya tentang persaudaraan, tentang menahan kesenangan sendiri demi membagi kebahagiaan dengan saudara. Mengapa ia tak paham? Mengapa kisahku tak menyentuh hatinya? Mengapa? Dan berjuta mengapa bagai riak sungai, hanyutkanku dalam kecewa.

Aku pun enggan bicara padanya. Entah untuk berapa lama. Gemuruh di dadaku ini sungguh mengusik relung jiwa. Ku harus menepi.

Kelak semoga proses kedewasaanmu sempat kusaksikan  Nak. Semoga akan datang masa kau membuatku bangga. Kelak. Semoga.

~ Jejak Bintang ~

Saturday, September 17, 2016

Benang

Menguraikan benang kusut itu tak semudah menelusuri benang merah. Dan hidup, tentu saja lebih rumit dari untai benang.

~ Jejak Bintang ~

Sunday, August 28, 2016

(dear) Stranger

Aku merasa tidak lagi mengenalnya. Kini ia bagai orang asing yang sekelebat saja melintas, yang secara tak sengaja, bahunya bersentuhan dengan bahuku saat kami betpapasan. Kemudian mata kami sejenak saling menatap kosong. Itu saja.

Sekali lagi aku tersesat. Begitu jauh dari tempat yang senyaman "rumah". Rasaku terpecah di udara, mengikat separuh nafas. Sesak terasa di dada.

Kehilangan, lagi dan lagi.


~ Jejak Bintang ~

Monday, March 21, 2016

Send Me An Angel

Dear Myself,

Mengapa selalu keras kepala...? Masih saja begitu senang mengedepankan keinginan-keinginan yang melampaui batas. Seringkali bertindak tanpa berpikir matang, dan berpikir tanpa mendengarkan suara hati. Mengapa...?

Bisakah sedikit lebih meredam ego...? Bisakah lebih rasional, dan lebih berperasaan...?

Menepilah sejenak... sambangi keheningan jiwa yang sejati, untuk lebih bijak dalam memaknai hidup... permainan usai...

Memang terasa sangat menyenangkan berada di arena bermain, namun jangan terlena... sudah cukuplah semuanya membuai... waktunya beranjak...

Segala bimbang yang mengusik sanubari, sebaiknya segera ditepiskan, lebih baik melangkah dengan hati lapang... ikhlaskan... lepaskan...

------------

But, you know what...? I feel like I really need some escaping, a real escaping from anything in my life... I'm so depressed... these whole feelings in my heart and overthinking in my mind, really pushed me to the deepest ground... I can't control all these things... I'm totally losing control of myself.. I'm numb...

I really need to be saved... and cured... just like I feel so unwell, deep down...

Send me an Angel, please...


~ Jejak Bintang ~

Thursday, January 14, 2016

Tersenyumlah...

Tersenyumlah,
meskipun hati tersakiti...
Tersenyumlah,
sekalipun hati sedang hancur...

Selama awan putih masih menghiasi langit,
semuanya akan baik-baik saja...

Tersenyumlah,
meski di tengah rasa takut dan kesedihan yang dalam,
Tetaplah tersenyum, sebab mungkin esok
kamu akan menemukan bahwa hidup ini begitu berharga

Tunjukkan bahwa kamu baik-baik saja,
tepiskan jejak-jejak kesedihan,
sekalipun airmata mungkin sudah tak terbendung,
tetaplah berusaha untuk tersenyum...

~ Jejak Bintang ~


Monday, January 04, 2016

Loyalitas Seorang #LEO

"A Leo can be your BEST FRIEND or WORST ENEMY. There's no in-between. You're either WITH them or AGINST them".

Quote yang aku temukan ini, memang ada benarnya juga, sih. Sebagai seorang Leo, aku ngga suka plin-plan. Bagi aku, ngga boleh ada seorang pun bermain double-role-play denganku. Well, I hate hypocrites. So, kamu harus memilih salah satu diantara kedua pilihan tadi.


Namun ternyata seiring bergulirnya waktu, dinamika kehidupan yang kujalani, dan lajunya usia, semua berubah. Dalam panggung kehidupan, adakalanya kita duduk diantara lawan dan saling bersikap layaknya kawan,pun adakalanya kita duduk diantara kawan dan saling bersikap layaknya lawan.


Kini aku sudah tidak dapat mengistimewakan seorangpun sebagai sahabat sejati. Sebab sahabat sejati ternyata hanyalah letupan-letupan emosi semata yang bagaikan gejolak jiwa muda semata. Seiring laju usia, mungkin hanya keluarga saja yang akan tetap setia menerima diri kita utuh, apa adanya. Mungkin.


Mengagungkan persahabatan juga bisa mengecewakan di kemudian hari. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku mencoba menjadi sahabat terbaik bagi mereka, namun begitu mudah mereka melupakan semua ketika kebahagiaan lain datang menyapa. Apakah ungkapan ini artinya aku tidak tulus? Hmmm... tentu saja aku tulus, namun ketulusan bukan berarti tidak boleh memiliki kekecewaan, bukan?


Akhirnya aku melangkah ke depan. Dengan atau tanpa mereka, hidup ini akan terus bergulir. Dan seleksi alam kelak menunjukkan siapa yang akan selalu benar-benar ada untuk kita, yang bukan hanya ada di saat-saat terbaik dalam hidup kita, melainkan mereka yang tetap ada di saat-saat terburuk hidup kita.


Terima kasih atas semua pelajaran dan pengalaman ini. Semoga 'kan menjadikan aku manusia yang lebih bijak di waktu ke depan. Amin.



~ Jejak Bintang ~

Friday, October 09, 2015

you must RUN to WIN the race...

Berlarilah...! Berlari adalah satu-satunya cara untuk menjadi pemenang. Kita tidak akan menjadi pemenang bila hanya berdiam menjadi penonton. Waktu berpacu, dan tak pernah menunggu siapa pun.

Aku pernah tertinggal dalam satu kesempatan yang aku sesalkan. Namun aku tak hendak larut dalam penyesalan. Aku mulai mengumpulkan energi untuk berlari mengejar ketinggalanku. Aku mempelajari banyak hal dari ketertinggalanku. Dan aku tak ingin diam terjebak di sana seterusnya sambil meratap. Sebab, jika aku tidak segera berlari, aku akan semakin tertinggal.

Aku ingin menjadi pemenang. Maka aku berlari. Menuju garis finish. Membuktikan pada diriku sendiri, kawan dan juga lawan, serta penonton, bahwa aku 'kan mampu menjadi pemenang. Aku enggan dikalahkan oleh rasa malas dan kesedihan.



Jejak Bintang

Wednesday, October 07, 2015

It's CLOSED


Aku telah menghapusnya
Jejak-jejak yang memang sudah kutinggalkan
Dan aku tak akan kembali lagi ke sana,
...for any reason

Biarlah lembaran itu pergi menjauh
seiring langkah yang terus ke depan
Menjadi sejarah yang tak perlu dikenang
atau dikisahkan kelak kepada anak-cucu

Ternyata kehidupan yang sejati karuniaNYA
adalah yang terindah dibandingkan
gemerlap panggung sandiwara

Selamat jalan, Alter Ego, selamat berpisah
Denyut nadi, aliran darah, tarikan nafas,
kini milikku sendiri, 
dan aku takkan membaginya lagi

Rabb... padaMU kubersujud mohon ampunan
atas segala keangkuhanku, kekhilafanku
Aku kembali hanya di jalanMU


Jejak Bintang
- pada serpihan-serpihan masa lalu yang temaram,
menggenggam pasir, untuk melepaskannya ke samudera -

Laa ilaaha illallah...

Wednesday, August 26, 2015

Jebakan Batman !!


"Jebakan Batman" ini semestinya ditulis "Jebakan Bad-Man". Jebakan orang jahat, atau orang yang punya niat jahat terhadap kita. Untungnya aku sudah cukup banyak belajar. Karena aku sudah beberapa kali terjatuh ke dalam lubang-lubang jebakan, di masa ketika usiaku masih muda, sebelum memasuki Gerbang 30.

Misalnya, aku pernah mentransfer my last account for a bad-man out there. Dan kejadian tragis itu membuatku terpaksa berhutang untuk menutupinya, tentunya dengan bunga, berikut denda keterlambatan mengingat pada saat itu penghasilanku masih sangat minim. Selain itu aku pernah merasakan di-bully, tidak diperhitungkan, didiskreditkan, diasingkan, difitnah, semua pernah kualami. Aku senantiasa mengingat rasa sakitnya, dan tentu saja menguras batin, serta air mata.

Been there, done there...!! Sudah cukup. Kesalahan adalah pengalaman, dan pengalaman adalah guru terbaik. So, I learned. Kini, setelah memasuki Gerbang 30, semestinya jebakan batman sudah tidak mempan lagi padaku. I'm getting wiser and wiser by older. Hmmm...

Beberapa kali aku "selamat" dari jebakan batman berikutnya. Alhamdulillah. Sahabatku bilang, "Kamu memiliki lucky charm", atau "You seem like always saved by the bell". Entahlah. Itu semua rahasiaNYA.

Positifnya, mungkin karena aku senantiasa mencoba untuk selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Aku sudah cukup merasakan terjatuh. Aku sudah mengencangkan sabuk pengamanku, preventif atas segala kemungkinan di hadapan.

I learn to prepare myself for any unexpected things in life. So, Jebakan Batman...??? It's just such an old game for me now. LOL.
 

~ Jejak Bintang ~

Tuesday, August 25, 2015

Perubahan yang tak terlalu berarti

Di kantor, sedang terjadi rotasi besar-besaran di tingkat eselon. Namun pergerakan yang benar-benar "bermakna" tidak terlalu banyak. Mungkin juga itu sudah diatur sedemikian rupa, permainan tingkat tinggi. Selebihnya, sekedar bertukar tempat mengalihkan kejenuhan bagi "kotak-kotak" tertentu.

Bagiku, ternyata tidaklah terlalu berpengaruh juga. Apalagi posisi eselon empatnya tidak berubah, unfortunatelly, masih diduduki oleh orang yang sama. Huft. Go with the flow aja, deh. I didn't expecting too much juga, sih. Karena udah jadi rahasia umum bahwa yang bersangkutan sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dipindahkan ke tempat lain karena satu dan lain hal. Jadi, ya sudahlah...

Di sisi lain, aku merasa masih beruntung memiliki Sprint di tempat lain. Ada sisi "dunia" lain aku geluti disamping yang pokok. Meski awalnya begitu banyak hal dan persoalan yang terjadi di dalamnya, konflik, ketegangan, krisis kepercayaan, dan lain-lain. Namun seiring waktu, aku mulai menikmati dinamika yang ada di hadapan.

Khusnudzonnya, Allah SWT memberikan semua ini sebagai bagian dari proses pematangan diriku, dan semoga merupakan bentuk ujian kenaikan kelasku kelak. Amin.

Belakangan kusadari bahwa ternyata kemampuan survive-ku lebih tinggi dari yang kukira. Aku lebih kuat dalam menghadapi gejolak perubahan ini, dan insya Allah, aku memiliki kemampuan beradaptasi yang (ternyata) luar biasa, semua sungguh di luar dugaanku. Subhanallah.


Kutipan ayat Qur'an di atas rasanya saat ini sangat cocok untukku. Menyentil dan sangat kena. Walau aku tidak pernah sungguh-sungguh "membenci" sesuatu dalam makna harfiah, terlebih semenjak usiaku memasuki Gerbang 30. Aku sudah memusnahkan segala unsur kebencian yang ada dalam diriku. Semoga.

Kini aku melangkah saja. Menjalani dan menikmati takdirku dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Bahwa semua rencanaNYA kelak 'kan berujung indah bila kita senantiasa bersyukur dan ikhlas menjalani semua ini. Insya Allah.


~ Jejak Bintang ~

Sunday, August 23, 2015

DON'T bother me...!

"No words ever spoken to you should change the way you feel about yourself..."

Saya adalah saya. Sejauh ini saya sudah semakin mengenal diri saya, seiring laju usia dan pengalaman hidup yang telah saya lalui.

Di usia saya saat ini, saya sudah tidak lagi terlalu mempedulikan apa pendapat orang tentang saya. Apalagi "rela" berubah demi mengikuti "standar" orang lain. Sorry to say, ya... sebagai manusia, kita semua dilahirkan sama, dengan keunikan masing-masing.

Anda tidak menjalani hidup yang saya jalani, dan saya pun tidak menjalani hidup yang Anda jalani. Jadi, marilah kita sepakat untuk tidak sepakat mengenai penilaian Anda terhadap saya. Karena saya bukan Anda, dan Anda bukan saya.

Paham...??!!


~ Jejak Bintang ~

Saturday, August 22, 2015

Act the part, and you will become the part

Bagaimana agar kita diterima oleh suatu lingkungan atau situasi dimana kita berada...? 

Untuk menjadi bagian atau berada di tengah-tengah suatu lingkungan yang baru, kita harus bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan mereka. Kita cenderung akan sulit diterima ketika kita "berbeda". Setidaknya, apabila kita memang benar-benar "berbeda", kita harus berpura-pura sama seperti mereka, agar dapat menjadi bagian dari mereka.

Aku sudah pernah menerapkan hal ini beberapa kali, dalam beberapa kesempatan di hidupku. Kalau hendak memasuki lingkungan "Komunitas Membaca", misalnya, tidak mungkin bagi mereka yang tidak suka membaca, karena akan tidak nyambung ketika komunitas ini banyak membicarakan buku, dan buku. Setidaknya perhatikan jenis buku yang mereka minati, cari 1-2 buku diantaranya yang paling populer, cobalah membaca dan memahaminya. Cukup segitu saja, kamu akan masuk ke dalam "mereka" tanpa merasa menjadi orang asing.

Selanjutnya, perhatikan pola dan kebiasaan mereka, kemudian cobalah untuk menyesuaikan. Sekedar menunjukkan bahwa kamu sama dengan mereka, dan proses yang akan menuntunmu ke tahap berikutnya. Proses memperoleh kepercayaan, untuk menggali dan mendapatkan informasi yang dikehendaki, apakah itu berkenaan dengan komunitas secara garis besar, atau seseorang dalam komunitas, secara khusus.


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, July 08, 2015

GADGETaholic


Sebuah perenungan tentang GADGET...

Mungkin sekitar tahun 2009 aku menggunakan smartphone untuk pertama kali. Saat itu Blackberry yang sedang booming dengan aplikasi BBM andalannya. Kemudian seiring waktu aku pun bergonta-ganti smartphone. Hingga akhirnya aku membeli android Samsung yang harganya cukup mahal.

Alih-alih untuk menunjang kebutuhan pekerjaan, itulah alasan pertama aku menggunakan smartphone. Untuk mempermudah akses komunikasi dan informasi secara update, kapan saja, dimana saja. Hingga kemudian "kebutuhan" itu menjalar menjadi "kecanduan" yang tak terbendung lagi.

Maraknya aplikasi dari mulai social media, chat service, perbankan, hingga beragam game mulai menjadi trend dan "memaksa" aku mendownload. Semakin lama ketergantungan untuk "berinteraksi" dengan gadget pun semakin tinggi. Belum lagi aplikasi berbagai macam kamera dan trend selfie. Semakin dahsyat gadget ini menjadi benda paling penting bagi banyak orang, termasuk aku.

Entah disadari atau tidak, akhirnya peran gadget ini pun menggeser begitu banyak interaksi sosial yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Perubahan-perubahan drastis yang aku rasakan antara lain:

1)  Dulu, setiap ulang tahun, aku sebagai seseorang yang memiliki banyak saudara, teman dan kolega, senantiasa kebanjiran telepon dan SMS ucapan selamat ulang tahun. Rasanya menyenangkan menerima telepon-telepon itu, bahkan sebelum ada handphone, telepon rumah tak berhenti berdering, sampai saudara dan sahabat yang di luar Jakarta rela telepon interlokal sekedar untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Kini, orang cenderung memilih memberikan ucapan lewat facebook wall, atau sekedar pasang display picture di BBM disertai status "happy birthday to you". Well, kalau sekedar "masih untung dia ingat", bagiku tetap saja esensinya beda. Rasanya beda. Touching-nya beda.

2)  Di rumah, seluruh anggota keluarga menjadi semacam kehilangan chemistry satu sama lain. Seusai dari mana-mana, pulang ke rumah bukannya saling berkomunikasi satu sama lain, malah buru-buru nyamber gadget untuk update status "CAPEK". Terkadang anak pun diabaikan. Dan parahnya untuk menebus rasa bersalah pada anak karena keasikan tenggelam dalam dunia gadget, malah membelikan gadget juga untuk anak. Kita yang sudah dewasa (kalau enggan disebut tua) saja, tidak bisa mengendalikan diri dari gadget addict, apalagi anak-anak kita kalau harus "kenal" gadget sejak usia dini? Haduh...!

3)  Percakapan absurd orang zaman sekarang.

A: Eh, kamu udah tahu kalau papanya Ardi meninggal semalam? 
B: Innalillahi. Belum. Ardi ngabarin kamu, ya? 
A: Ngga. Kan rame tuh di facebooknya. 
#Glek!

atau ada versi lainnya begini,

A: Besok kamu mau datang ke pernikahan Rani dan Ivan, ngga? 
B: Hah? Emang udah mau nikah ya? Kapan? Kok aku ngga diundang? 
B: Diundang kok, kan kita di-tag di facebook, emang belum lihat notifikasi? 
A: Waduh, makasih deh kalo cara ngundangnya begitu, mendingan ngga usah datang aja.
#Glek!

Jujur, aku secara pribadi juga tidak berkenan diundang dengan cara demikian, karena kesannya ngga tulus banget, apa beratnya telepon kalau memang ngga bisa kirim undangannya? Dulu, masih ada metode dititipkan ke teman, atau telepon minta alamat, kemudian undangannya dikirim. Kini, social media telah sukses membuat banyak orang merasa "malas" melakukan semua hal yang "klasik" itu. Huft...!

4)  Acara kumpul-kumpul seperti arisan keluarga, silaturahmi, reuni, termasuk juga kongkow-kongkow dengan teman, dan lain sebagainya menjadi kehilangan makna tatkala semua orang yang tengah berkumpul malah asik dengan gadget masing-masing, dan bukannya mengobrol satu sama lain dengan melakukan eye contact. Bahkan sambil ngobrol, terlalu sering mata sambil melirik gadget. Hmmm...

Itu hanya beberapa contoh. Terlalu banyak bila dijabarkan contoh-contoh lainnya. Intinya, kita sungguh kekurangan interaksi sosial yang nyata dengan orang-orang di sekeliling kita. Banyak orangtua zaman sekarang cenderung lalai mengikuti perkembangan anaknya karena lebih sibuk memperhatikan gadget. Bersyukurlah kita sebagai generasi yang dibesarkan oleh orangtua di era yang belum mengenal gadget dan social media.

Berapa lama kita hidup di dunia, tidak pernah ada yang tahu. Aku ingin mulai mengurangi atau membatasi interaksi dengan gadget. Waktu yang berharga, baiknya dihabiskan dengan bercengkerama bersama suami/istri, anak-anak, orangtua, dan saudara, serta sahabat, teman, dan orang-orang di sekeliling kita.

Semoga belum terlambat untuk membatasi interaksi kita dengan gadget, juga anak-anak kita di rumah. Jangan pernah meminta dimaklumi oleh orang-orang yang kita sayangi ketika kita asik dengan gadget. Justru gadget harus "mengalah" ketika kita sedang bersama orang-orang tersayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.


~ Jejak Bintang ~



Thursday, May 21, 2015

this life in #abstract

Terkadang, kita harus bisa 'keras' terhadap diri kita sendiri, sebab bila kita tidak dapat bersikap demikian, maka dunia yang akan bersikap keras terhadap kita. Terkadang menyenangkan ketika segala sesuatu yang kita jalani, diberikan kemudahan olehNya. Namun, sesekali kita memang perlu kejutan, agar hidup lebih berwarna.

Lebih baik berpikir bagaimana cara menikmati hidup, daripada mengendalikan hidup. Karena pada prinsipnya kita tidak akan pernah bisa mengendalikan sesuatu yang bukan milik kita, yaitu kehidupan, yang mutlak adalah milikNya.

Berhenti memanjakan diri. Baiknya kendalikan diri dan perasaan. Sebab perasaan merupakan bagian diri kita. Perlu kita kendalikan agar bukan ia yang mengendalikan diri kita.


#Abstrak

~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 19, 2015

2015

dan kemudian...

di tahun ini bergulir berbagai peristiwa, begitu banyak, mengaduk-aduk perasaan dan emosi, menguji kematangan diri, menuju proses pendewasaan...

semoga...

rahmat dan hidayah-MU mengalir beriringan dengan langkah-langkahku, menuju ridho-MU... sebab aku takut akan ENGKAU, kebesaran-MU menggetarkan sukma dan sanubari... aku semakin merasa kecil dihadapan-MU... dan semakin kupaham hanya ENGKAU tempatku berharap dan memohon...

bahwa...

HIDUP dan MATI-ku hanya untuk-MU...

Laa Ilahailallah... Maha Suci Engkau dalam Kebesaran-MU...



~ Jejak Bintang ~

Friday, April 17, 2015

Gerbang 30

USIA semestinya mematangkan unsur-unsur dalam diri. Pemikiran, sikap, dan tentu saja batin. Bagaimana mengelola "anger management" atau tingkat kesabaran. Bagaimana semestinya tingkat kesabaran itu semakin tinggi. Dan ego perlahan ditekan.

Seusai berakhirnya satu episode kehidupan, muncul episode berikutnya. Tentunya dengan pemeran-pemeran baru dan kisah-kisah yang baru. Permasalahan-permasalahan baru. Sebab tanpa gejolak, hidup ini takkan diibaratkan bagai roda yang berputar.

Aku duduk termenung dalam keheningan ini. Kilas balik kerap menemani alam pikiran dan relung jiwaku. Aku enggan berdiam menjadi orang yang sama, dengan pemikiran yang sama, sementara waktu terus bergulir dan menghentakkanku untuk terus bertumbuh.

Kadang aku dihadapkan kembali oleh sesuatu yang aku sudah enggani. Aku kerap bertanya, "Mengapa?". Namun ku teringat bahwa Allah kadang menguji kita dengan hal-hal yang kita hindari atau tidak kita sukai. Ya, dan bagaimana kita bisa menjalaninya kembali, dengan hasil yang lebih baik.

Kurasa aku kini sedang terengah menuju ke sana. Sebab terlalu banyak scene yang cepat berganti. Terlalu banyak wajah di lintas waktu, di koridor panjang, gerbang ke-30. Ini seperti sebuah game petualangan. Dimana setiap naik level, semakin berat tantangan dan rintangannya.

Semoga aku tak melupa Engkau, Ya Rabb.. yang tak pernah melupakanku. Sujud syukurku, senantiasa Kau hadirkan orang-orang pilihanMu menyertai dalam perjalanan ini. Semoga kelak perjalanan waktu mematangkan aku dengan kadar yang Kau kehendaki. Dan semoga yang Kau kehendaki adalah "kesempurnaan" untukku. Amin.


~ Jejak Bintang ~

Saturday, February 07, 2015

Keabadian

Cuma goresan pena, membuka sejuta kenangan masa lalu, membuat tersenyum, juga meneteskan air mata. Lucu juga mengingat masa lalu, mengingat keluguan, dan semua kisah tentang persahabatan dan cinta.

Dalam hidup, telah begitu banyak orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang datang dan pergi. Betapa indahnya bila ada beberapa yang tetap tinggal, dan betapa manis dan pahit juga atas sebagian lainnya yang telah pergi...

Namun kuharap, diantara yang pergi, beberapa akan kembali... tentu saja, apabila memang telah ditakdirkan demikian. Tak ada yang abadi, memang benar. Namun ikatan hati bisa menjadi abadi, aku percaya keabadian itu ada, di tempat-tempat yang tak terduga.

Dan aku berharap sahabatku, Innocent, suatu hari nanti akan memaafkanku, dan mau menerimaku kembali. Insya Allah, aku takkan mengecewakannya lagi. Amin.

July 31th, 2004
Jejak Bintang

Monday, January 12, 2015

Perubahan

Mengagungkan cinta, bukan berarti tidak 'bermain' didalamnya. Suatu perasaan yang hadir terkadang tak dapat ditolak begitu saja. Persahabatan terkadang memang diatas segalanya, bahkan di atas cinta. Dan memang, tak ada suatu kesinambungan yang abadi, di atas realita yang menjulang tinggi, menyiratkan suatu kesan keangkuhan yang mendalam.

Dan, di dalam diri ini, telah tertanam sesuatu yang terus tumbuh seiring dengan berjalannya sang waktu. Mungkin akan tetap begitu, sampai suatu hari nanti, sesuatu yang lain datang untuk menghentikannya.

Goresan kata takkan mampu mengungkapkan, sekalipun 'sesuatu' yang lain itu bukanlah hal yang asing ataupun baru dikenal. Dan sang jiwa akan terus tertidur, dalam lelapnya pesona kehidupan yang terpancar jauh sebelum peradaban. Segala yang indah mungkin 'kan sirna, kecuali sang kehidupan itu sendiri, yang 'kan terus berlanjut, behkan setelah kematian...

Entahlah, setiap orang bebas menterjemahkan 'makna' tulisanku ini. Bahkan aku pun terkadang butuh 'kesadaran penuh' untuk memahaminya.

*) sesuatu yang lain = suatu perubahan

January 18th, 2002
Jejak Bintang

- Kau tak akan temukan apapun yang terindah dalam hidup ini yang melebihi kehidupan itu sendiri -

Friday, January 09, 2015

Kelam (from the past)

...di kelamnya malam, sekali lagi pikiranku menerawang jauh... melintasi kabut putih, pemisah takdirmu dan takdirku...

Mungkin saja, di suatu tempat, kau sedang meratapi suatu penyesalan telah percaya aku... di sisi lain, aku pun tak pernah berhenti meratapi kebodohanku... telah percaya pada orang yang ternyata menginginkan keretakan persahabatan kita, dan telah berhasil lewat cara yang teramat sempurna...

Awan hitam berarak pergi,
hendak menyatu dengan langit kelam,
diantara sahutan guntur dan garis-garis samar kilat..

Malam gelap yang panjang 'kan sejenak tidurkan
hatimu, mata, dan akal sehatmu,
yang begitu mudah terbuai 'dusta'..

Tapi saat mentari pagi muncul dari ufuk timur,
sinarnya 'kan bangunkan kedua matamu
yang terkatup,
dan cahaya hangatnya 'kan cairkan
kebekuan hatimu..

Aku percaya, kelak kau 'kan tahu
siapa yang teraniaya,
siapa yang menghendaki kehancuran..


November 11th, 2004
Jejak Bintang

Wednesday, January 07, 2015

Friendship is No Limit

Ada satu hal.. hari ini akhirnya gue berani ngebakar surat-surat devil.. Yah, gue rasa juga buat apa gue simpen luka yang kian berkarat..? Yang ada gue sakit hati sendiri tiap liat amplop coklat gede yang terukir indah nama "DEVIL" yang ditulis Exotic-D kurleb tiga setengah tahun yang lalu.

Gue bahkan ngga rela untuk ngebaca lagi tulisan-tulisan Innocent-D, baik yang buat gue atau Exotic-D. Terlalu sadis menurut gue. Dan juga surat-surat gue yang buat Innocent-D, it's just 'too high', but ternyata cuma dianggap bullshit pula sama orang yang gue tuju.

Dan diantara "serpihan" itu ternyata gue temukan dua kartu yang ngga gue bakar, kartu Exotic-D yang pertama dan ketiga buat gue. Ternyata ada something appreciate from her to me that so sweet and meaningful. Ternyata keberadaan gue sangat dihargai oleh Exotic-D. Dan ternyata selama ini gue buta. Exotic-D lebih menghargai persahabatannya dengan gue dibandingkan "surat-surat Innocent-D".

Entahlah, manusia terkadang emang khilaf dan lupa. Dan betapa ngga adilnya gue dulu sama Exotic-D. Meski begitu, ngga ada manfaatnya gue untuk nyesel sekarang. Sekarang buat gue: yang udah lewat ngga akan kembali. Yang ada cuma perbaikan yang bisa dimulai dari sekarang for the future. No more FLASHBACK, 'coz it's just wasting my time..

Innocent-D adalah sahabat yang hilang, yang rasanya cuma kuasa Allah SWT yang bisa kembaliin dia ke dalam hidup gue. Bahkan gue pun udah putus asa dan berhenti berharap. Biar Allah SWT dan waktu yang menentukan dan memberi jawaban kelak.

Dan Exotic-D adalah sahabat gue lainnya di SMU, dan masih sahabat gue 'till now. Mungkin dulu gue udah bersikap ngga adil, atau seperti itulah. Gue akan mulai memperbaikinya, meski gue udah starting mulai awal 2004 ini, gue rasa itu jelas-jelas ngga cukup. Karena buat gue, "Friendship is No Limit". Ngga ada takaran dalam persahabatan.

Gue tahu rasanya kecewa dan terlantar. Gue berharap masih diberi kesempatan oleh para sahabat yang saat ini masih gue miliki, to be a better person for them. Sekarang saatnya menarik garis untuk membedakan antara "sahabat" dan "teman".

Exotic-D, adalah teman SMU yang jadi 'backing' gue saat pertama masuk Zhie-Gho. Gue jadi ngerasa ngga sendirian dan punya seseorang yang bisa gue andalkan a whole three years there, and even more.

Ipuss, long story to have a nice relationship with her. Yang pasti dia 'merubah' cara pandang gue tentang hidup dan menuntun gue untuk lebih realistis dalam menyikapi setiap persoalan hidup. Meski awalnya sering berantem. Hehehe...

Widi, My Big Sister. The one who knows me the best since I was a child. The wise one. Tempat curhat dan minta saran no. 1. My very best friend. Sejak kecil, gue sering berharap kaya di sinetron gitu, wishing that ternyata dia sama gue masih ada hubungan sodara. Sekarang sih, "Best Friend" jelas-jelas udah melebihi sodara.

Ami, Si Anak Kecil. My best friend dari SD juga. Insya Allah dia juga my true friend. Dia tau banget gue, dan sebaliknya. Ami saingat berat gue di school dulu, but we're so close di luat pelajaran, 'till now.

Mba Anna, seseorang yang so many experienced of life. Tempat bertukar pikiran yang asik dan nyambung untuk topik apa aja. Dewasa dan ngemong. Gue selalu pengen punya figur kakak perempuan. Urusan curhat, doi asik banget.

Aies dan Jande, close friend di UBK. Deket dari Semester 1. Sering bareng, cabut bareng, lucu juga ternyata proses dewasanya bareng. Hope we'll ever after in this friendship.

Dompu, udah gue anggep adik. Dari SD selalu minjem buku pelajaran gue, sampe SMU bareng gue. Mulai beranjak dewasa, sering nanya pendapat gue tentang apa aja. And I still care of her. Dia berjasa besar dalam hidup gue karena comblangnya gue sama 'Mr. Big Heart'. Thanks, Pu..!

Yah, kira-kira merekalah sahabat istimewa gue hingga saat ini. Di luar itu masih ada juga sih beberapa orang yang deket, tapi ngga kaya mereka ini. Semoga para sahabat istimewa ini akan bertahan to be my best friends 'till the end. Amin. Insya Allah gue akan bersikap lebih baik lagi sama mereka.


Friendship is No Limit

September 19th, 2004
Jejak Bintang