Sebuah perenungan tentang
GADGET...
Mungkin sekitar tahun 2009 aku menggunakan
smartphone untuk pertama kali. Saat itu
Blackberry yang sedang
booming dengan aplikasi
BBM andalannya. Kemudian seiring waktu aku pun bergonta-ganti
smartphone. Hingga akhirnya aku membeli
android Samsung yang harganya cukup mahal.
Alih-alih untuk menunjang kebutuhan pekerjaan, itulah alasan pertama aku menggunakan
smartphone. Untuk mempermudah akses komunikasi dan informasi secara
update, kapan saja, dimana saja. Hingga kemudian "kebutuhan" itu menjalar menjadi "kecanduan" yang tak terbendung lagi.
Maraknya aplikasi dari mulai
social media,
chat service, perbankan, hingga beragam
game mulai menjadi
trend dan "memaksa" aku men
download. Semakin lama ketergantungan untuk "berinteraksi" dengan
gadget pun semakin tinggi. Belum lagi aplikasi berbagai macam kamera dan
trend selfie. Semakin dahsyat
gadget ini menjadi benda paling penting bagi banyak orang, termasuk aku.
Entah disadari atau tidak, akhirnya peran
gadget ini pun menggeser begitu banyak interaksi sosial yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Perubahan-perubahan drastis yang aku rasakan antara lain:
1) Dulu, setiap ulang tahun, aku sebagai seseorang yang memiliki banyak saudara, teman dan kolega, senantiasa kebanjiran telepon dan SMS ucapan selamat ulang tahun. Rasanya menyenangkan menerima telepon-telepon itu, bahkan sebelum ada
handphone, telepon rumah tak berhenti berdering, sampai saudara dan sahabat yang di luar Jakarta rela telepon interlokal sekedar untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Kini, orang cenderung memilih memberikan ucapan lewat
facebook wall, atau sekedar pasang
display picture di
BBM disertai status "
happy birthday to you".
Well, kalau sekedar "
masih untung dia ingat", bagiku tetap saja esensinya beda. Rasanya beda.
Touching-nya beda.
2) Di rumah, seluruh anggota keluarga menjadi semacam kehilangan
chemistry satu sama lain. Seusai dari mana-mana, pulang ke rumah bukannya saling berkomunikasi satu sama lain, malah buru-buru nyamber
gadget untuk
update status "
CAPEK". Terkadang anak pun diabaikan. Dan parahnya untuk menebus rasa bersalah pada anak karena keasikan tenggelam dalam dunia
gadget, malah membelikan
gadget juga untuk anak. Kita yang sudah dewasa (kalau enggan disebut tua) saja, tidak bisa mengendalikan diri dari
gadget addict, apalagi anak-anak kita kalau harus "kenal"
gadget sejak usia dini? Haduh...!
3) Percakapan
absurd orang zaman sekarang.
A:
Eh, kamu udah tahu kalau papanya Ardi meninggal semalam?
B:
Innalillahi. Belum. Ardi ngabarin kamu, ya?
A:
Ngga. Kan rame tuh di facebooknya.
#Glek!
atau ada versi lainnya begini,
A:
Besok kamu mau datang ke pernikahan Rani dan Ivan, ngga?
B:
Hah? Emang udah mau nikah ya? Kapan? Kok aku ngga diundang?
B:
Diundang kok, kan kita di-tag di facebook, emang belum lihat notifikasi?
A:
Waduh, makasih deh kalo cara ngundangnya begitu, mendingan ngga usah datang aja.
#Glek!
Jujur, aku secara pribadi juga tidak berkenan diundang dengan cara demikian, karena kesannya ngga tulus banget, apa beratnya telepon kalau memang ngga bisa kirim undangannya? Dulu, masih ada metode dititipkan ke teman, atau telepon minta alamat, kemudian undangannya dikirim. Kini,
social media telah sukses membuat banyak orang merasa "malas" melakukan semua hal yang "klasik" itu. Huft...!
4) Acara kumpul-kumpul seperti arisan keluarga, silaturahmi, reuni, termasuk juga
kongkow-kongkow dengan teman, dan lain sebagainya menjadi kehilangan makna tatkala semua orang yang tengah berkumpul malah asik dengan
gadget masing-masing, dan bukannya mengobrol satu sama lain dengan melakukan
eye contact. Bahkan sambil ngobrol, terlalu sering mata sambil melirik
gadget. Hmmm...
Itu hanya beberapa contoh. Terlalu banyak bila dijabarkan contoh-contoh lainnya. Intinya, kita sungguh kekurangan interaksi sosial yang nyata dengan orang-orang di sekeliling kita. Banyak orangtua zaman sekarang cenderung lalai mengikuti perkembangan anaknya karena lebih sibuk memperhatikan
gadget. Bersyukurlah kita sebagai generasi yang dibesarkan oleh orangtua di era yang belum mengenal
gadget dan
social media.
Berapa lama kita hidup di dunia, tidak pernah ada yang tahu. Aku ingin mulai mengurangi atau membatasi interaksi dengan
gadget. Waktu yang berharga, baiknya dihabiskan dengan bercengkerama bersama suami/istri, anak-anak, orangtua, dan saudara, serta sahabat, teman, dan orang-orang di sekeliling kita.
Semoga belum terlambat untuk membatasi interaksi kita dengan
gadget, juga anak-anak kita di rumah. Jangan pernah meminta dimaklumi oleh orang-orang yang kita sayangi ketika kita asik dengan gadget. Justru
gadget harus "mengalah" ketika kita sedang bersama orang-orang tersayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.
~ Jejak Bintang ~