Aku ingin
menyederhanakan cara berpikirku yang selama ini begitu rumitnya. Entah mengapa,
begitu sulit bagiku untuk berpikir pragmatis. Padahal, rata-rata orang di
sekelilingku cenderung memiliki pola pikir demikian. Hmmm, wajar saja jika aku
kerap stuck dalam mengambil keputusan atau mencari solusi. Sebab seringkali
solusi tertutup oleh kerumitan pikiranku sendiri.
Contoh sederhananya, aku bisa tiba-tiba speechless dihadapan putri kecilku yang mendatangiku dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tentang hal-hal yang baru dilihat atau didengarnya. Ya ampuuunn...!! Aku pernah terbengong-bengong dihadapannya saat dia bertanya, “Ma, pacaran itu apa, sih...? Boleh ngga kalau aku pacaran sama Kakak (maksudnya adalah kakak sepupu laki-lakinya)...?”.
Kini aku menyadari, ternyata kerumitan pikirankulah yang membuatku tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Sebab belum apa-apa aku sudah ambil pusing duluan dengan pikiran “mengapa” ia bertanya demikian, dimana seharusnya aku lebih fokuskan pada “bagaimana” menjelaskan dengan cara yang paling sederhana sesuai dengan pemahaman putriku yang ketika itu baru berusia tiga setengah tahun.
Menjadi seorang ibu memang bukanlah amanah yang sepele. Menurutku, seorang ibu di zaman hi-tech ini, hukumnya "wajib" untuk cerdas. Tidak semata-mata dalam hal mengurus rumah tangga, namun dari segi wawasan, karena seorang ibu "harus bisa" menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh anak, minimal secara mendasar. Agar anak mendapatkan informasi yang pertama dari ibunya, sebelum nanti ia menyerap informasi dari luar yang lebih luas lagi.
Sesungguhnya seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiran, maka marilah jadi pemikir yang sederhana untuk menemukannya.
Contoh sederhananya, aku bisa tiba-tiba speechless dihadapan putri kecilku yang mendatangiku dengan pertanyaan-pertanyaan lugunya tentang hal-hal yang baru dilihat atau didengarnya. Ya ampuuunn...!! Aku pernah terbengong-bengong dihadapannya saat dia bertanya, “Ma, pacaran itu apa, sih...? Boleh ngga kalau aku pacaran sama Kakak (maksudnya adalah kakak sepupu laki-lakinya)...?”.
Kini aku menyadari, ternyata kerumitan pikirankulah yang membuatku tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Sebab belum apa-apa aku sudah ambil pusing duluan dengan pikiran “mengapa” ia bertanya demikian, dimana seharusnya aku lebih fokuskan pada “bagaimana” menjelaskan dengan cara yang paling sederhana sesuai dengan pemahaman putriku yang ketika itu baru berusia tiga setengah tahun.
Menjadi seorang ibu memang bukanlah amanah yang sepele. Menurutku, seorang ibu di zaman hi-tech ini, hukumnya "wajib" untuk cerdas. Tidak semata-mata dalam hal mengurus rumah tangga, namun dari segi wawasan, karena seorang ibu "harus bisa" menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh anak, minimal secara mendasar. Agar anak mendapatkan informasi yang pertama dari ibunya, sebelum nanti ia menyerap informasi dari luar yang lebih luas lagi.
Sesungguhnya seringkali solusi tertutup oleh kerumitan pikiran, maka marilah jadi pemikir yang sederhana untuk menemukannya.
Jika
kita bisa mengerti hal-hal yang orang lain tidak mengerti, berarti kita adalah orang
yang penuh pengertian.
Bila kita mampu menjelaskan sesuatu yang pelik dengan sederhana, itulah tandanya kita telah cukup memahami.
Bila kita mampu menjelaskan sesuatu yang pelik dengan sederhana, itulah tandanya kita telah cukup memahami.
~ Jejak Bintang ~

No comments:
Post a Comment