Showing posts with label Ray of Light. Show all posts
Showing posts with label Ray of Light. Show all posts

Monday, April 07, 2014

Seumpama Ada...

Seumpama ada,
keajaiban di depan mata
yang menghapus garis
yang selama ini terbentang
diantara takdirmu dan takdirku,
itu karena Allah...

Seumpama ada,
lilitan benang kusut dalam pikiran kita,
kemudian ia lurus kembali,
dan kita merasa lega,
itu karena Allah...

Seumpama ada,
kesalahan di masa lalu
yang terus mengekori langkah kita,
rasa menyesal di sepanjang hidup kita,
rasa putus asa yang menyelimuti diri,
maka kembalilah hanya kepada Allah...

Jadikan Allah sebagai satu tujuan
atas kehidupan yang kita jalani


March 27th, 2005
Jejak Bintang

Friday, April 04, 2014

Rapuh (from the past)

Kembali... keraguan itu datang atas kesungguhanmu... tak ada yang pasti darimu, saat ini... sebagian besar sangat samar-samar dan seakan tak ada kejelasan yang pasti...

Jika aku mengandalkanmu, yang kulihat hanyalah kerapuhanmu. Kau bahkan tak pernah tunjukkan padaku kesungguhanmu untuk menjadi seseorang yang benar-benar dapat kuandalkan.

Aku ini manusia dengan segudang masalah yang datang dan pergi, tapi mengapa kurasakan kau bahkan tak membantuku menyelesaikan segala persoalanku ini. Aku tahu mungkin semua itu urusan pribadiku. Tapi sebagai wanita yang rapuh, ada saatnya aku ingin sepenuhnya bersandar padamu. Jika kau juga terus rapuh, sama saja aku terus tenggelam dalam sandaran yang semu.

Aku tak ingin terus tergilas dalam keadaan ini yang terus kuyakini sebagai "CINTA". Meski mungkin cinta tak selalu indah, namun seharusnya cinta juga tidak menekan batin ini hingga terhimpit rasa sedih yang tak berkesudahan.

Ya Allah... tunjukkanlah padaku jalan terbaik untuk aku dan dia... Haruskah kuakhiri sampai di sini sehingga sia-sia peluh yang telah kami keluarkan selama ini...? Ya Allah... haruskah cinta menekan perasaan sebegini dalam dan jauhnya sampai ke relung hati...? Ataukah hamba telah banyak berdosa kepadaMU, hingga hamba terpuruk dalam satu keadaan yang tak pasti ini sekian lama...? Terus berputar pada lingkaran yang gelap dan kian menyempit...?

Ya Allah... jika memang masih ada secercah harapan untuk menyatukan jiwa kami berdua, maka berilah kami jalan yang Engkau ridhoi atas cinta kami, yang semakin lama semakin membuatku ragu, apakah ini cinta atau hanya emosi sesaat yang 'kan terbang hilang suatu saat nanti...?

Mungkinkah seseorang yang telah tinggal di hatiku dan hatinya bisa saja tergantikan dengan yang lain...? Ya Allah... siapa yang 'kan memberi jawaban atas semua pertanyaanku ini...? Aku pusing, tak mengerti, tak menentu...


October 16th, 2004
Jejak Bintang

Tuesday, August 20, 2013

#thatPressure

Ketika usia melantakkan rasa. Sungguh aku enggan berdebat. Semacam celoteh sumbang tanpa makna. Mengalir kemudian mengering seketika. Bolehkah kau perkenankanku 'tuk menepi sejenak? Sungguh aku tak nyaman dalam tekanan ini. Kau tak memahamiku lagi. Mungkin.

Pikiranku sedang merumuskan sesuatu yang abstraknya bahkan tak mampu diterjemahkan oleh rumusan terrumit sekalipun, terlebih lewat kesederhanaan pemikiranmu. Hati sejenak bagai membatu. Pemahatnya barangkali sedang dalam pengembaraan yang jauh. Entah kembali, entah tidak. Semua serba tak pasti.

Bagaimana merumuskan kepastian? Mungkinkah kau ajarkan padaku?


~ Jejak Bintang ~

Sunday, June 09, 2013

Perihal Kesetiaan

Sekali lagi langkahku terantuk di sana. Pada batu cadas yang pernah memarkan ibu jari kakiku.

Bagaimana meski kulukiskan kesetiaan, manakala ia tidaklah berbentuk.

Andai kau lihat bintang. Yang samar mengerlip menghias langit kelam. Mereka selalu ada di sana. Sesekali akan nampak terang benderang di atas kepalamu. Adakalanya mereka tak selalu terlihat, tapi mereka ada.

Bintang selalu di sana. Mungkin begitulah kesetiaan. Kamu tak selalu bisa melihatnya, atau merasakannya. Namun tatkala pekat menyelimuti langit di tempat yang terasing dan kamu kesepian, lihatlah ke atas. Kerlipnya 'kan menemanimu, walau mungkin tak cukup benderang. Redup, meneduhkan.

Entah sampai kapan kamu akan memaknai hadirnya. Atau bila kamu kelelahan mencari kerlipnya yang tak selalu nampak, biarkan rembulan perak itu sejenak menemani.

Tapi... ingatlah, bintang 'kan selalu ada...


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, April 10, 2013

"surga" yang hilang


Tak ada surga di dunia. Yang ada hanya kebahagiaan yang kerap dicari, semenjak masa kanak-kanak hingga kelak kita merenta. Dan begitu beragam definisi kebahagiaan. Begitu personal bagi tiap insan.

Bahagiaku sederhana. Aku inginkan keluarga yang penuh kasih sayang didalamnya. Sebuah rumah yang nyaman, meski tak perlu megah. Kehangatan. Cinta. Namun ternyata hal itu tidaklah pernah menjadi sederhana. Kebahagiaan semacam itu merupakan kemewahan dunia yang tak terhingga. Ternyata. Tidaklah sederhana lagi ketika hal itu harus diperjuangkan dengan peluh, airmata, dan bahkan "darah". *sigh*

Masa kanak-kanakku telah berlalu bertahun silam, dengan membawa serta kenangan manis indahnya persahabatan dengan para sahabat yang senantiasa menguatkanku, dan kepahitan di sisi lain kehidupan dimana tak pernah aku merasa nyaman di dalam "rumah" yang kutinggali, sebab "keluarga" tak pernah memberiku rasa hangat di hati. Satu-satunya kemurnian cinta yang kurasakan abadi hingga pijarnya padam hanyalah cinta almarhumah my grandma. Semoga kini, dan selamanya, beliau mendapat tempat terbaik disisiNya. Amin.

Tahun ini, 2013 adalah tahun yang 'kan menjadi tonggak sejarah dalam hidupku. Sebab begitu banyak peristiwa besar yang mengguncangkan jiwaku, terjadi. Kuanggap ini sebagai tahun terberat, semoga kelak takkan ada tahun yang lebih berat dari 2013 ini. Amin.

Satu peristiwa bersejarah adalah aku telah berhasil dalam upayaku mengembalikan keutuhan keluarga mama. Berharap sisa waktu akan berpihak pada kami 'tuk mengembalikan hari-hari yang terampas, menjadikan "rumah" sebagai rumah yang sejati. Mengumpulkan serpihan kebahagiaan yang kukira takkan pernah ada dalam keluarga besar kami. Yang sempat membuatku putus asa dalam mengangankan, terlebih meraihnya kembali.

Allah SWT telah membukakan jalanku menuju kesana. Namun ternyata kerikil-kerikil yang menusuk langkah justru dari dalam "kebahagiaan" itu sendiri, yang seolah enggan menemui mata airnya, setelah bertahun terseok di padang gurun nan tandus akan kesejukan. Mengapa...? Apakah sekali lagi aku telah salah mendefinisikan hakikat "kebahagiaan" yang "sederhana" ini...? Benarkan ia takkan pernah menjadi "sederhana"...?

Aku mensyukuri setiap rahmatNya, setiap nikmatNya, dan mensyukuri figur-figur istimewa yang dihadirkanNya dalam lembaran sejarah hidupku. Dan mensyukuri setiap jalanku dalam cahayaNya. Alhamdulillah. Kuanggap semua rencanaNya kelak 'kan berakhir indah. Amin.

Mama... semoga kelak segala upayaku ini dapat pancarkan secercah cahaya pada bening matamu yang 'tlah bertahun meredup... Bagiku "surga" itu bisa begitu dekat... Jalan kesana salah satunya 'tlah ditakdirkanNya melaluimu... Namun semua itu 'tlah terrampas sekian lamanya, dan kini ku hanya mengharapkan ridhoNya, semoga langkahku tak pernah terputus atas kebaikan dariNya... Amin...


~ in silent ~
April 10th, 2013
Jejak Bintang


Tuesday, May 10, 2011

Penerimaan


RINDU bergejolak dalam kesendirian, tanpamu. Hati seumpama mengukur kadar cinta dan kesetiaan yang tengah diuji...

RESAH dan gelisah dalam ketidakhadiranmu di dekatku. Entah harus berkata apa nanti... otakku seperti berkarat, dan tak terlintas sepatah kata pun yang layak kupersembahkan untukmu...

BOSAN kilas balik masa lalu, masa kini dan masa depanku, bersamamu, disisimu...

RENUNGAN tak henti menjalari keinginan yang mengusik kalbuku... laksana tiang penyangga hubungan ini adalah AKU, dan semua tergantung “bagaimana aku”...

KETULUSANMU telah terlanjur teruji waktu. Kau terima sifat, sikap, hingga pandangan hidupku yang kerap berseberangan denganmu...

Ah, MALU aku ‘tuk melangkah maju, menghambur kedalam pelukanmu, yang selalu tersedia saat ku rapuh...


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, April 20, 2011

- Jenuh -


Tidakkah kau tahu, aku jenuh...

Sudah kuutarakan betapa tersiksanya aku dihujani dengan pertanyaan yang sama tentang hal itu, berulang-ulang, oleh mereka...

Haruskah kau juga ikut menyiksaku dengan sikapmu itu...? Kau tak ubahnya seperti mereka yang menundingku, sayang...

Dan aku bisa menjadi gila, jika tidak kau HENTIKAN semua itu... Aku sudah jenuh dan lelah karenanya...

Kumohon, mengertilah...


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, March 29, 2011

Suddenly I realize something...


MENYEBALKAN...!!

Kemarin malam adalah rute pulang kantor yang TERPANJANG dan TERLAMA dalam sejarah.

Pertama, niat untuk pulang TENG-GO terhalang oleh Mrs. Boss yang mendadak kedatangan tamu yang tak diundang alias belum terjadwal sebelumnya, namun terpaksa diterima beliau karena terlanjur berpapasan di pintu, bertepatan dengan saat beliau mau pulang. Ggggrrrhhh....!! Awas saja deh itu tamu kalau sampai datang lagi besok-besok...!! *kesal sambil jambak-jambak rambut sendiri*

Akhirnya pukul 17.25 WIB, Mrs. Boss resmi meninggalkan kantor. Tidak terbayang malasnya aku untuk keluar kantor pada jam segitu. Pasti antrean penumpang di tempat biasa menunggu bus sudah sangat padat merayap. Caaappeeeddeeehh...!! Dan dengan penuh rasa terpaksa, aku tetap keluar kantor juga.

Setelah penuh perjuangan membawa tentengan yang cukup berat, akhirnya aku tiba juga dengan sukses di tempat biasa menunggu bus. Tanpa direkayasa, disana aku bertemu Ink, sahabatku yang selalu memaksaku untuk naik omprengan bareng setiap kali kami bertemu secara tidak sengaja di tempat itu. Aku pun harus ikhlas membiarkan bus Patas AC langgananku melintas begitu saja di hadapan mata, padahal kelihatannya bus itu tadi agak sepi, alias tersedia banyak tempat duduk kosong. Biasanya, jarang sekali bus itu kosong pada jam-jam seperti sekarang. Yah, mau bagaimana lagi, memang sudah nasipku harus bertemu Ink disana... *tepuk jidat*

Seharusnya, tidak menjadi masalah sekalipun aku harus naik omprengan bareng Ink, sebab biasanya memang seperti itu kalau kami pulang bareng. Biasanya aku tinggal telepon Mr. Big Heart untuk menjemputku, dan Big Heart selalu rela untuk menjemputku dimana pun, dan jam berapa pun.

Setelah duduk manis di dalam omprengan, di tengah kemacetan jalan raya ibu kota jam orang-orang pulang kantor seperti biasanya, dan ditengah cuap-cuapnya Ink yang memang akhir-akhir ini sedang mengidap semacam syndrome keranjingan curhat jika sedang didekatku, aku menelepon Big Heart. Betapa kagetnya aku mendengar suaranya lirih di seberang sana. Big Heart sakit...?!

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening, aku hanya setengah menangkap dari keseluruhan isi cuap-cuapnya Ink. Aku merasa panik. Selain memikirkan Big Heart yang sedang sakit di rumah, aku juga memikirkan ‘kesulitan-kesulitan’ di hadapan mataku karena harus menerima kenyataan tidak dijemput dia malam itu. Pertama, bawaanku yang cukup berat. Kedua, karena naik omprengan, rutenya menjadi lebih jauh dan harus menyambung tiga kali kendaraan lagi. Ketiga, karena sudah sangat ketergantungan dijemput selama ini, aku merasa ketakutan membayangkan harus menunggu angkot malam-malam sendirian di dua lokasi yang harus kutempuh sendirian setelah nanti berpisah dengan Ink. Suddenly I realize something.

Tahap selanjutnya setelah turun dari omprengan, aku harus menyebrang jalan sambil menenteng bawaanku yang berat itu, plus jalan kaki sampai ke tempat angkot ngetem. Huft...!! Kemudian, turun di lokasi yang remang-remang untuk menyambung angkot berikutnya, plus menunggu angkotnya ngetem kurleb setengah jam sebelum akhirnya jalan. And then, melewati jembatan penyebrangan jalan yang selalu padat oleh orang-orang, plus banyaknya pengemis dan pedagang di sepanjang jembatan. Terakhir, naik ojek. Harus berhadapan dengan serbuan beberapa tukang ojek yang rebutan penumpang, pakai acara kena colek tukang ojek iseng segala. Aaarrrggghhh....!! Pasti aku tinju tukang ojek sialan itu kalau aku ngga menenteng bawaan seberat ini...!! Ggggrrrhhh....!!

Pukul, 20.55 WIB, tiba di rumah tercinta. Takjub ketika menyadari waktu tempuh kantor rumah yang kurleb tiga jam lamanya, dan mengingat betapa penuh perjuangannya perjalanan pulang malam itu.

Kuhampiri Big Heart yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Badannya panas dan wajahnya pucat. Aku tanya apakah dia sudah makan dan minum obat...? Jawabnya sudah. Dalam kondisi yang demikian, sempat-sempatnya dia ‘mengurusi’ aku, “Kamu pasti capek, kalau mau mandi air hangat, masak sendiri, ya... soalnya Si Mbak juga lagi sakit. Kalau kamu belum makan, dadar telur aja dulu. Dan jangan lupa sholat, doakan aku biar cepat sembuh ya...Ffffiiiuuuhhh....!!

Oya, di saat yang bersamaan, memang pembantuku juga sedang sakit. Jadi malam itu aku benar-benar self service. Biasanya aku kan manja, apa-apa minta diambilkan dan dirapihkan oleh pembantuku. Belum lagi kalau malam-malam ingin makan ini-itu, Big Heart masih harus kurepotkan membelikan aku makanan. Malam itu, keduanya sedang tidak available untuk menuruti segala keinginanku.

Tiba-tiba aku jadi menyadari sesuatu. Selama ini sepertinya aku terlalu asik dengan dunia dan kehidupanku sendiri. Aku seringkali tidak ingat pada orang-orang yang selalu berada dibelakang rutinitasku. Ya, dalam menjalani rutinitas yang kadang terasa begitu menjemukan dan memuakkanku, sepertinya aku lupa bahwa ada orang-orang yang selalu peduli untuk memberikan dukungan moril dalam menjalani semua itu. Dan selama ini tampaknya aku kurang menghargainya. Padahal tanpa mereka, mungkin segala yang kujalani tidaklah sepraktis selama ini. Semua terasa begitu teratur dan sempurna berkat mereka. Maafkan aku, jika selama ini aku telah begitu egois.


Guess I could never imagine, how do I live without you, Mr. Big Heart...?


~ Jejak Bintang ~

Thursday, December 09, 2010

Why Did I Get Married...?


Sinopsis :

Adaptasi ke layar lebar dari hit drama panggung dari Tyler Perry dengan judul yang sama, Why Did I Get Married? adalah sebuah cerita yang mengenai sulitnya menjaga sebuah hubungan percintaan yang kokoh dalam dunia modern.

Dalam perjalanan menuju ke pegunungan salju di Colorado, delapan orang teman kuliah yang telah menikah melakukan reuni tahunan selama tujuh hari. Tapi suasana yang menyenangkan itu dikacaukan dengan ketidaksetiaan dari satu pasang suami istri diantara mereka. Seiring dengan rahasia-rahasia yang diungkapkan, setiap pasangan mulai menanyakan kebenaran dari pernikahannya masing-masing. Selama seminggu itu, para suami dan istri melihat kembali kedalam hidup mereka masing-masing, bergelut dengan masalah komitmen, pengkhianatan dan pengampunan saat mereka mencari jalan untuk maju ke depan.

-----------------------------------------------

Mungkin, judulnya yang eye catching menjadi daya tarik tersendiri ketika aku sedang menelusuri rak demi rak di sebuah rental DVD original di dekat rumah. Dan ternyata aku sangat menyukai film ini.

Semalam aku menontonnya di kamar, ditemani hubby yang awalnya keliatan "terpaksa" ikut ngendon di kamar karena diluar hujan lumayan deras, membuatnya ngga bisa kemana-mana malam itu. Hihihi, tapi ternyata dia lama-lama ikutan larut sama alur ceritanya yang menarik.

Film ini sangat recomended buat ditonton sama pasutri yang hidup di zaman modern kayak sekarang ini, terutama pasangan muda. Kisahnya bak refleksi dari kehidupan sehari-hari pasutri metropolitan pada umumnya, penuh dengan problema-problema yang hampir semuanya disebabkan kurangnya komunikasi yang baik dan waktu berkualitas diantara para pasutri dalam film tersebut. Karakter tokoh-tokohnya juga sangat kuat dan chemistry-nya satu sama lain dapet banget. Pesan yang ingin disampaikan cukup mengena dengan bumbu komedi yang cukup menghibur, khas sosialisasi dan gaya humor kulit hitam. Jadi inget film The Cosby Show :D

Kembali kita diingatkan untuk saling menghargai pasangan sesibuk apapun kita, dan juga empati yang mendalam terhadap sahabat yang menjadi korban perselingkuhan pasangannya. Ikatan-ikatan emosional para tokoh terlihat natural sekali.

Dan ketika aku coba googling sinopsis film ini, ternyata ada Why Did I Get Married Too...? Wow...!! Can't wait to watch it...!! ;>


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, October 05, 2010

"membuat keputusan bersama"


Banyak pasangan yang terjebak dalam konflik karena berpikir bahwa pengambilan keputusan hanyalah peran salah satu orang. Pengambil keputusan tak bisa berpusat pada Anda atau pasangan saja. Hubungan berpasangan membutuhkan keterlibatan dua individu dalam mengambil keputusan tentang hubungan maupun seputar masalah keluarga kedua belah pihak. Upayakan untuk selalu membuat keputusan bersama, bukan hanya keputusan Anda atau dia. (dikutip dari KCM; Rabu, 15/9/2010 | 08:12 WIB)


Well, di era internet yang canggih dan segalanya sudah serba modern, terkadang tanpa kita sadari, kehidupan rumah tangga bagi pasangan bekerja sudah bergeser cukup jauh dari norma-norma adat yang selama ini diterapkan secara turun temurun oleh orangtua kita. Terkadang (bahkan sudah menjadi rahasia umum masyarakat modern) peran istri menjadi lebih besar dari peran suami dalam berbagai segi kehidupan. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor penghasilan, karena sekalipun istri yang berpenghasilan lebih sedikit daripada suami, tetap 'berhasil' mendominasi peran utama dalam rumah tangga :D (maaf yach kaum suami)

Berbicara tentang keputusan bersama, suami memang cenderung 'pasrah' pada pendapat istri jika mengenai hal-hal 'printilan' dalam kehidupan sehari-hari. Hmm mungkin seperti halnya memilih merk sabun dan shampo yang digunakan, atau memilih menu untuk makan sehari-hari, dll. Ada banyak hal dimana wanita memang 'lebih pandai' dalam menentukan.

Namun, ketika hal ini dikaitkan dengan pola asuh atau pola mendidik anak, sepertinya akan jauh lebih baik jika menjadi 'urusan' bersama.

KARAKTER ANAK mulai terbentuk dari lingkungan terdekat, yaitu orangtua yang secara otomatis sadar atau tidak sadar telah menjadi panutan mereka semenjak usia dini. Anak akan merasa kebingungan untuk membedakan sebenarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, ketika kedua orangtuanya tidak satu suara dalam hal ini. Misalnya si anak senang tidur di lantai tanpa alas apapun (karpet/tikar/kasur lipat). Ibunya memperingatkan berkali-kali bahwa "Nak, tidak sehat kalau kamu sering tidur di lantai tanpa alas seperti itu...", lalu sang anak akan bertanya pada sang ayah, dan sang ayah menjawab "tidak apa-apa", dan hal itu akhirnya menjadi kebiasaan si anak. Setiap kali Ibunya melarang, dia akan meminta izin a.k.a. 'pembelaan' ayahnya untuk diperbolehkan, dan ayahnya selalu menuruti semua keinginan sang anak.

Kemarin, melalui facebook, aku bertanya pada salah seorang teman yang 'kunilai berhasil' mendidik anak-anaknya sehinggga terlihat anak-anaknya itu sangat berkarakter dan berperilaku baik. "Fren, kasih tau dong resepnya gimana membangun karakter anak sejak dini agar bisa seperti kedua anak-anakmu itu, ngiri deh aku ngeliatnya...". Temanku menjawab, "kuncinya, kompak dengan pasangan... jika kita bilang TIDAK BOLEH pada anak, maka pasangan harus mendukung, sehingga anak akan mengerti bahwa ketika kedua orangtuanya melarangnya untuk melakukan sesuatu hal, itu artinya memang sesuatu itu TIDAK BAIK..."

Ffffiiiuuuhhh... dan ada banyak lagi wejangan dari temanku itu dalam inbox facebook-ku, yang tidak mungkin semuanya kutuliskan disini. Intinya, dalam membuat keputusan bersama, entah itu hanya hal-hal 'printilan' atau 'kelas berat', semestinya kita memang harus 'menyamakan persepsi' terlebih dahulu dengan pasangan untuk kemudian mengambil keputusan yang sudah merupakan hasil kesepakatan bersama, terlebih ketika itu menyangkut sang buah hati yang karakternya masih sangat labil, kita sebagai orangtua mempunyai peran yang paling besar dalam membangun karakter anak sejak dini.


*sorry, pas dibaca lagi kok malah curhat.com yach* ;P

Thursday, May 27, 2010

Insya Allah


(catatan dari masa lalu, 4 bulan sebelum pernikahan)

Semburat kegalauan meradang dalam titian waktu,
tak tahu kemana harus melangkah...
Haruskah ikuti jalan setapak di depan mata,
atau melompat ke jurang...?

Satu kekosongan terisi doa...
Tak perlu putus asa,
TAKDIR telah memilihku
untuk berjalan di atasnya

Maka kuikuti kemana hati berbisik
sebab ALLAH SWT satu dalam ketetapan hati,
sebab kupercaya Takdir-NYA terbaik
sebab seorang hamba tak seharusnya menepis Takdir

Namun, mengapa terbersit bimbang dan ragu...?
Karena tak kuat iman kah...?
Kurang mendekatkan diri,
juga berlumur DOSA

Kembali saja ke Fitrah,
tak semudah bicara...
Awali dengan niat,
lalu mengalir saja...



~ Jejak Bintang ~

*) catatan 27 Maret 2005

Tuesday, December 15, 2009

KESETIAAN


dan kita pernah sepakat
menjemput matahari
di ujung cakrawala

tetapi langkahmu terantuk bintang
yang jatuh saat bulan paruh gelap
aku hanya bisa berucap,

KESETIAAN adalah batas
antara mimpi dan kenyataan


poem by K.H.S.

Tuesday, December 08, 2009

Mr. Big Heart


Dear Mr. Big Heart,

Tadinya, aku mau buat satu blog khusus untuk menuliskan tentangmu... tapi setelah aku fikir-fikir... I don't need it...

Aku akan menuangkan segala tentangmu disini... betapa kamu adalah seorang pria baik hati, dan paling sempurna yang telah dikirimkan olehNYA kedalam hidupku... betapa kamu begitu tulus dan mau menerimaku apa adanya, baik dari sisi diriku yang baik maupun sebaliknya...

Terima kasih yang mendalam, karena kamu masih disampingku hingga saat ini... Love U...


~ Jejak Bintang ~

Monday, August 31, 2009

KNOWN ME


Jika telah mengenalku,
maka tak akan pergi terlalu jauh dariku,
dan selalu ada hasrat untuk bertemu aku…

Jika telah mengenalku,
tak akan berpaling kepada yang lain,
karena aku ingin jadi satu-satunya
di hatimu…

Jika telah mengenalku,
aku tidaklah begitu lugu terhadap
permainan hidup yang menggilas
nasib manusia…

Kau telah mengenalku,
tak bisa melupakanku, selalu mengingatku,
meski aku terlihat seperti terus bermain-main,
tapi kau mengenalku

Sesungguhnya aku telah memiliki tekad
untuk pergi dari arena bermain ini,
dan mengikuti setiap langkahmu…

Kumohon…terus kenali aku,
aku rapuh jika harus tanpamu,
aku ingin kau kenali aku jika aku tersesat…
kau akan tetap dapat mengenaliku,
meski aku terdesak rapat…dalam lautan manusia…
kau pasti menemukanku lagi

Dan jika mengenal aku,
jangan hiraukan cerita orang tentang aku…
bagi mereka aku debu, tapi…
aku ingin selalu berkilau
pada cahaya matamu…
aku ingin menjadi permata
yang menghiasi hatimu…

Aku takut kau pergi…
jika kau mengenal aku
aku dengan sejarah suram keluargaku…
maka jangan pandang aku sebelah mata
sayang…aku ingin perbaiki hidupku,
dan menghapus semua kisah
mengerikan itu…

Andai kau telah benar-benar kenal aku,
aku selalu menginginkan seutuhnya…
maka jangan berikan dirimu setengah-setengah…
jadilah milikku seutuhnya…

Kumohon sekali lagi tetap kenali aku,
jika aku harus pergi dari hidupmu,
kau ‘kan tetap jadi bagian hidupku…
dan akan selalu ku kenali engkau
sebagai seseorang yang telah begitu baik hati
telah mengenalku


~ Jejak Bintang ~
02-02-03

Monday, August 24, 2009

Ketika Cinta Bertasbih


bertuturlah cinta
mengucap satu nama
seindah goresan sabdamu
dalam kitabku
...

cinta yang bertasbih
mengutus hati ini
kusandarkan hidup dan matiku
padaMu...

bisikkan doaku
dalam butiran tasbih
kupanjatkan pintaku
padaMu Maha Cinta
...

sudah di ubun-ubun
cinta mengusik resah
tak bisa kupaksa
walau hatiku menjerit
...

ketika cinta bertasbih,
nadiku berdenyut merdu
kembang kempis dadaku
merangkai butir cinta...

garis tangan tergambar
tak bisa aku menentang

sujud sukur padamu,
atas segala cinta...

= song by Melly Goeslaw feat. Amee =

Thursday, July 30, 2009

when you came into my life


aku merasakan jiwaku tak ada,
sampai kedua tanganmu merengkuhku
sentuhan hangatmu...
telah melahirkan kekuatan dalam diriku,
untuk survive...

kau ajarkan aku begitu banyak hal
tentang mengenal TUHAN,
dan cara mensyukuri nikmat-Nya...
kau tunjukkan padaku sisi dunia
yang tak tersentuh olehku,
sebelum aku mengenalmu...

"dunia masa depan"
yang masih merupakan rahasia-Nya

dan aku tak ingin terjatuh,
lagi dan lagi... ke dalam lubang hitam
di dasar bumi...

you are my savior, Mr. Big Heart...
you have a special place,
in the corner of my heart...

thank you, Mr. Big Heart...
for all the love you bring to my life,
for a better life you give to me,
to be by my side,
through the joy and the pain...

...in a committed relationship...


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, July 14, 2009

feeling GUILTY


akhir-akhir ini aku merasa kacau...
aku semakin sulit mengontrol emosi...

aku tak ingin seperti ini,
melukaimu, dan melukaimu lagi...

kamu yang begitu pengertian,
mungkin hanya kamu yang ber-benar mengenalku utuh, dan masih tetap menyayangiku...

alam PIKIRAN, HATI dan JIWAku kini terpencar,
mereka mengikuti hasratnya masing-masing...

kamu yang masih tetap setia,
MAAFkan saja aku, lagi dan lagi...

untuk rasa bersalah,
yang tak pernah mampu kuucap,
sekalipun saat kau sedang terbuai dalam mimpi indahmu...


"You're the only ONE who really knew me at all..."

= menyayangimu... =


~ Jejak Bintang ~

Monday, March 30, 2009

S I N


Sapuan waktu, jejak langkah kaki…setahun terakhir, dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya… kehampaan hidupku ternyata tak hanya ‘dunia’… aku telah melupakan Sang Khalik. Aku telah mengagungkan ‘kehidupan’ yang sementara. Aku teringat lagi,”…aku jauh, Engkau jauh…aku dekat, Engkau dekat…hati adalah cermin…tempat pahala dan dosa berpadu…”

Aku telah ‘jauh’ dariNya…dengan tetap menjalankan ibadah yang ‘rutin’, namun melupakan makna ibadah itu sendiri, dan aku tenggelam dalam kesombonganku sebagi manusia, selalu merasa ‘cukup’ dengan ‘sholat’ dan ‘sedikit amal’. Aku lupa…barangkali aku telah berbuat riya…

Mungkin seseorang mulai membuka kembali hatiku yang mulai tertutup untuk agama. Dimana sejak aku ‘belajar’ sekuler, aku menganggap agama hanya suatu formalitas. Dan betapa berdosanya aku, mengagungkan paham yang aku sendiri belum terlalu pahami, hanya demi sebuah gengsi…dan agar dianggap intelek, dengan menomorduakan nilai sakral agama.

Aku seorang pendosa, dan aku beruntung, telah datang seseorang mengingatkanku atas kekeliruan besarku. Semoga aku menemukan titik terang dalam kesesatanku ini…amin…



~ Jejak Bintang ~
22-09-02