Friday, July 29, 2011

welcoming ramadhan


ketika perputaran bulan Hijriyah
kembali hadirkan Ramadhan...

seiring langkah kaki yang mulai mengkhianati waktu,
meninggalkan kekosongan, menyelimuti hasrat
atas keinginan-keinginan dari dasar hati
yang belum terwujudkan...

bisakah...
gulir waktu menghentikan hasrat
untuk mengikuti arusnya...?

mari...
kita belajar dari kesalahan
yang telah terlewati, terabaikan,
dan sulit untuk diperbaiki,
di belakang sana...

terlebih untuk kesalahan
yang sering kali terulang kembali,
seolah kita telah gagal untuk ‘belajar’...

mari...
kita belajar untuk senantiasa
meningkatkan kesabaran di dalam diri,
hingga kita menemukan kedamaian yang sejati,
bersemayam di dalam jiwa karenanya...


... mari kita belajar memaafkan,
sebagaimana kita ingin dimaafkan ...



~ Jejak Bintang ~

Monday, July 25, 2011

Cinta, mungkin benar juga...


kepada kamu, rindu itu
tak pernah bisa aku diamkan anganku
untuk tidak berhenti pada bening dua matamu
mengunci binar kegembiraan pada keteduhan
yang mengusir lelahku

di batas pengertian yang menggugat ragu
di batas tanya yang menguruk sendiriku
hanya kepadamu, keluh-kesah itu kualamatkan
dan kusandarkan....

mengeja wajahmu di alam kekosongan
dalam lebur ragu yang mencetak guratan kehampaan
mungkinkah adaku telah kau nafikkan dari adamu...?
membuatku sempoyongan dihimpit seribu tanya
ada dan tiada bagimu,
aku hanya ingin hadir ditimang pangkuanmu
itu saja...!

inginku terlelap dan rebah di bahumu malam ini
meski hanya di ruang perjamuan mimpi
tak apa...!

bersanding hujan semalam tanpamu
kupeluk rindu – lagi dan lagi
- di pagi terangku

hidup semestinya menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan
serba kebetulan dan terjerembab dalam ruang “tiba-tiba”
seperti halnya cinta
tiba-tiba datang dan pergi tanpa permisi
lalu datang lagi, pergi lagi
dan datang lagi...!


kepada kamu, cinta itu...
ingin kuawalkan
- dan kuakhirkan




*) taken from a book: Cinta Itu, Kamu by Moammar Emka

Monday, July 18, 2011

Perjumpaan


Stasiun kereta ini kian terasa dingin. Tak terasa sudah 48 jam aku berada di tempat ini. Aku menanti kedatanganmu dengan sabar, Nak... Sekalipun waktu telah menjadikan hatiku terasa tawar, sebab terus menerka-nerka parasmu sekarang. Kau pasti cantik seperti namamu, nama yang dititipkan ibuku tersayang sejak kau masih dalam kandunganku, beberapa hari sebelum beliau akhirnya berpulang kepangkuan-NYA. Ah, betapa sedihnya jika mengenang beliau yang selalu mengusap-usap perutku, berharap usia sempat menghadirkan perjumpaan denganmu, Nak... Namun Tuhan berkata lain...

Tak ubahnya takdir kita juga, Nak... yang hanya mengizinkan aku untuk menimangmu selama 40 hari saja, kemudian mereka merampasmu seperti merasa lebih berhak memilikimu daripada aku, ibumu...

Kini, sudah dua dasawarsa kita terpisahkan oleh takdir. Aku masih tak percaya doaku telah di-ijabah oleh-NYA, Nak... tatkala DIA izinkan aku untuk melihatmu lagi...

Sejak dua malam yang lalu sudah kuuntai berjuta kata untuk menyambutmu, namun semua kata hanya menjadikanku terdiam membisu. Berjuta menjadi beribu, beribu menjadi beratus, beratus menjadi berpuluh, dan berpuluh menjadi tak ada... sebab apa yang bisa kuucap, sedangkan parasmu masih terasa maya dalam benakku, Nak...?

Ah, keretanya datang... semoga kali ini benar keretamu... tidak seperti sembilan kereta yang sudah lewat di jalur ini sebelumnya, dan tak satu pun membawa serta dirimu kedalam pelukanku... Kuperhatikan satu persatu wajah penumpang perempuan remaja. Ah, betapa bodohnya aku, mana mungkin aku dapat mengenali wajahmu, perawakanmu saja seperti apa kini aku tak tahu, yang aku tahu, aku hanya mengandalkan naluri keibuanku untuk mengenalimu dintara lautan manusia di stasiun kereta ini...

Ibu...?”, terdengar suara bergetar dari balik punggungku, kutolehkan wajahku perlahan sambil tertunduk, aku hanya berani melihatmu dari ujung sepatu keds-mu yang lusuh, kemudian naik ke tanganmu yang memegang secarik foto usang milikku. Oh, rupanya foto itu yang membuatmu mengenali wajahku, seraya menepuk pundakku, Nak... Perlahan kuberanikan kedua mataku untuk menatap wajahmu... dan... untaian kata tak ada yang mampu terucap dari sudut bibirku yang mengering dan kelu, Nak...

Sebab, untaian kata telah menjelma aliran sungai yang beriak di pelupuk mataku, dan sisanya menetes melalui anak sungai dihadapanku, kemudian bersama-sama mengalir menuju satu muara...

Aku seperti melihat cermin di masa silam, sebab parasmu tak ubahnya pantulan wajahku sendiri, di hadapan cermin... Dulu, dulu sekali, Nak...


# Corat-Coret (belajar menulis)

~ Jejak Bintang ~

Wednesday, July 13, 2011

missing my childhood


my childhood was the time when I was innocent
when the world seemed to be fair
when my universe was around my toys

my childhood was the time when I lived in dreams
when everyone was selfless
when everyone appeared to be a friend

my childhood was the time when my life was full of colours
when sorrows never knocked my door
when smile was gift presented to everyone

my childhood was the time when love was pure
when there were no obligations
when tenderness prevailed

my childhood was the time which is long gone
tears flow from my eyes when i go back in my childhood
my childhood will never come back but
the child in me will never go


(My Childhood; taken from poemhunter.com)

Aku rindu pada gelak tawaku sendiri, di masa kanak-kanak.. kini tawa lepas tak lagi menemaniku seperti dulu, sebab sudah banyak tawa berubah dalam keseriusan, menjelma dalam wujud persoalan-persoalan hidup yang selalu datang dan pergi.. seiring aku semakin beranjak dewasa.. dewasa dalam arti bertambahnya usiaku, dan dewasa dalam pemikiran dan sikapku..

Terkadang aku merindukan masa-masa yang telah terlewati, untuk satu alasan, atau bisa saja tanpa alasan apapun.. hanya RINDU saja..

Namun rindu itu selalu hanya sebatas angan, yang mustahil ‘tuk jadi nyata.. Ya, siapa juga yang mau mengulang sejarah, dalam skenario yang sama...? Tentu saja aku tak mau.. biarkan RASA RINDU itu menjelma sejenak di sanubari, biarkan hati berkecamuk, dan pikiran menjalankan rekaman-rekaman kisah lama yang ‘tlah berlalu..

Setelahnya, aku hanya akan menyunggingkan senyuman, untuk kunikmati sendiri, sebab hanya aku yang dapat memaknainya..

Hidup selalu ke depan, pagi selalu dengan matahari...”, kata seorang pujangga.. dan aku setuju..


~ Jejak Bintang ~

Monday, July 11, 2011

Cinta Matematis


Ketika CINTA mulai dipasangi ARGOMETER, ia tidak akan berhenti MENGHITUNG, MENGIRA-NGIRA, MENAFSIR, dan memberi LABEL HARGA pada setiap RASA. Ia akan jadi seperti TENGKULAK yang serakah meminta, namun ketika harus MEMBERI, ia pura-pura lupa. Atau seperti ASURANSI yang memeras POLIS, tapi tak ada GARANSI bahwa TABUNGAN hati itu akan kembali. Cinta yang seperti itu adalah IMITASI.

Dan ketika cinta bersembunyi di balik punggung RASIONALITAS, ia tak akan berhenti mencari ALASAN, PEMBENARAN, KAUSALITAS, dan RUJUKAN ILMIAH untuk seluruh RASA. Ia akan memuja LOGIKA, tanpa mengindahkan bahwa hati bukanlah ILMU EKSAK yang bisa dipecahkan dengan RUMUS-RUMUS FISIKA, KIMIA, atau MATEMATIKA. Cinta yang seperti itu hanyalah MAYA.

Pada saat cinta mulai disandingkan dengan KALKULATOR, ia kan mulai MENJUMLAHKAN, MENGURANGI, MENGALIKAN, dan MEMBAGI dalam setiap kesempatan. Ia akan membentangkan NERACA RUGI LABA di atas meja. Seperti AKUNTAN atau AUDITOR KEUANGAN yang selalu menemukan SELISIH di setiap laporan. Cinta yang seperti ini pun tak akan sanggup bertahan.

Membicarakan CINTA berarti membahas MAKHLUK TAK KASAT MATA yang bisa menjadi BENALU atau menyaru jadi HANTU. Tidak ada satu JURNAL ILMIAH pun yang bisa membelah dan mencacah untuk menemukan bentuk aslinya. Jadi, untuk apa kita harus susah-susah...?

MEMBEBANI CINTA dengan segala macam PERHITUNGAN LOGIKA akan membuat ia terbebani dan kita hanya akan mendapat AMPAS tanpa bisa menemukan ESENSInya. Mengapa harus repot-repot melabeli hati kita sendiri dengan gantungan harga, sedangkan cinta itu tak pernah sekalipun peduli akan FLUKTUASI PASAR. Ia memberi hanya karena ingin memberi. Menerima hanya karena harus menerima. Tak ada keterpaksaan, tak ada pamrih, dan tak ada perhitungan macam manapun.

MENILAI SESEORANG yang kita cintai dari status sosialnya, jabatannya, harta warisannya, tingkat pendidikannya, pendapatan per tahunnya, dan segala pertimbangan materi hanya akan membuat kita sakit jika yang pasangan kita miliki ternyata tak sesuai dengan kriteria.

REALISTIS adalah mencoba menilai segala sesuatu tanpa menutup-nutupi, tanpa menyembunyikan, tanpa menimbang-nimbang. CINTA ya CINTA. Terlepas dari segala macam pertimbangan. Karena kepemilikan, pernikahan, pacaran, dan sebagainya adalah fungsi turunan dari cinta, dan sangat berbeda.

Coba rasakan betapa melelahkan saat kita harus mengekang makhluk yang kita tahu tak bisa dikekang. Lepaskan ia, biarkan ia menyelimuti Anda dengan segala macam rasa yang ia bawa. Tugas Anda adalah meRASAkan, bukan berjibaku dengan keputusan.

Jika cinta hadir, terimalah ia dengan sukarela. Pun jika ia pergi, antarlah ia ke depan pintu dan ucapkan selamat jalan. Tak ada yang patut disesali atau ditangisi.

HATI kita bukan ARGOMETER atau CASH REGISTER. Hati kita bukan KOMODITAS yang patut diperjualbelikan. Biarkan ia bebas merasa. Bebas mengecap cinta.

==
Notes: ini bukan filsafat


Skylashtar-maryam from Kompasiana

Thursday, July 07, 2011

sudah tidak ada


di negeri ini orang sudah tidak peduli
bahwa dusta itu dosa
fitnah itu keji
mencuri itu nista

di negeri ini orang sudah tidak bisa membedakan
persahabatan dengan pengkhianatan
kesetiaan dengan hujatan
kejujuran dengan perekayasaan
kebenaran dengan kemunafikan
kebersamaan dengan persekongkolan
kesederhanaan dengan kehinaan

di negeri ini sudah tidak ada kosakata putih kasih
percaya hormat sabar tekun mawas-diri


yang ada tinggal hitam benci dengki tamak jalan-pintas
mau menang sendiri

barangkali waktu harus membasuh darah mereka dengan
embun pagi dan menyeka mata mereka dengan
purnama


karsono h. saputra

Wednesday, July 06, 2011

.R.E.T.A.K.


ANGIN bertiup semakin menjauh
Mengantarkan aroma kesunyian
Menebarnya ke setiap sudut yang ia lewati
Adakah satu tempat yang tak tersentuh…???

Relung hati yang sunyi
Kini begitu gersang, tak tersiram hujan…
Jauh dari cahaya… dan mulai ditumbuhi LUMUT
Yang semakin menjalar, dan berakar...

Bil ia tanah, ia telah RETAK,
Dan jiwanya terdiam jauh di dasar bumi,
TAK BERNAFAS

Jalinan yang dulu begitu ERAT,
Dinaungi CAHAYA, dan teduh bak sebatang POHON,
Disirami oleh hujan…bila musimnya tiba,
Tak pernah merasa kekurangan...

Retak... terbelah menjadi bagian-bagian
yang saling terpisah,
TAK ADA IKATAN…TERLEPAS…

Jiwa…yang tersembunyi di balik
Jubah kesunyian…
Tak lagi terlihat parasmu yang CERIA
Atau SUARAMU yang terdengar mengalun merdu…
Kemanakan perginya…?

Ada yang bilang :
DUA TUBUH SATU JIWA
Namun kini tak tampak,
Tak terdengar lagi…

Terpecah menjadi dua dan terpencar,
Masing-masing berkelana mengembara
Ke tempat-tempat terasing…
Jangan tanyakan SALAH SIAPA
TAKDIR mungkin yang MENARIK GARIS…!!!

24 februari 2003

Maafkan…bila aku tiada lagi di sisi, KITA terpisah RUANG dan WAKTU


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, July 05, 2011

MATA jendela HATI


Tak ada yang tahu RAHASIA HATI setiap insan yang TERSEMBUNYI, jauh dari APA YANG TAMPAK pada senyum, ekspresi, tutur kata, intonasi suara, semua masih bisa MENGECOH... dan sama sekali TIDAK MENJADI JAMINAN bahwa semua itu sungguh-sungguh mengungkapkan ISI HATI...

Kedekatan dengan seseorang, bisa sangat berarti, namun hati jua lah yang menterjemahkan makna kedekatan itu... KATA-KATA cenderung sebagai SENJATA, namun tak pernah pasti apakah semua itu benar dari hati...

Ada hubungan yang membingungkan, ada kedekatan yang jauh, ada pula jarak membentang namun tetap terasa dekat saja, semua kembali pada hati. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan akan benar-benar terasa jujur apabila kita bisa memahaminya dengan sepenuh hati...

Ada penyair yang mengatakan ”MATA adalah jendela hati”, mungkin pepatah ini ada benarnya, senyuman, ekspresi, tutur kata, intonasi suara, semua masih bisa menyembunyikan KEPALSUAN HATI, namun tatapan mata jarang sekali berdusta, itulah sebabnya orang biasanya berbicara dengan perasaan yang berat, mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya berlawanan dengan apa yang ada di dalam hati, namun tetap harus mengungkapkan yang sebaliknya dari perasaan, cenderung tidak berani menatap dengan tegas kepada lawan bicaranya.

Tapi mungkin dengan berkembangnya ragam komunikasi massa, seperti literatur, buku, surat kabar, tabloid, bahkan perkembangan teknologi informasi seperti internet, semua sepertinya sudah mengalami pergeseran makna, termasuk tatapan mata sudah tidak lagi menjadi jaminan, orang sudah semakin pandai memanipulasi lewat tatapan mata, aku juga mengakui aku mampu melakukannya, meskipun sebagian besar aku yakin apa yang aku ungkapkan dengan tatapan mata adalah kejujuran yang datang dari hati, tapi siapa tahu semua itu juga tidak selalu mampu meyakinkan lawan bicara, karena mata juga bisa sebagai sarana advertising, biasanya digunakan untuk meyakinkan orang lain akan kesungguhan kita, misalnya saat interview mencari kerja, mata sudah umum menjadi ’senjata’.

Jadi, mungkin dapat disimpulkan sedikit disini bahwa pada masa sekarang ini KEJUJURAN HATI sudah merupakan barang langka, yang bahkan belum tentu kita dapatkan melalui kedekatan dengan orang lain atau intensitas pertemuan kita dengan orang lain, tak ada yang bisa menjamin...

Kejujuran adalah 100% rahasia hati dari sumbernya, tak lagi terjangkau, tersentuh dan teridentifikasi, hanya bila sudah datang waktunya baru akan terungkap. Lebih baik menyembunyikan apa yang tersimpan rapih di dalam hati, daripada mengungkapkannya bila hanya akan membuat keadaan menjadi ’berbeda’.

Biarlah ISI HATI tetap menjadi RAHASIA, yang hanya akan diungkapkan bila itu adalah sungguh-sungguh KEJUJURAN...


~ Jejak Bintang ~

Friday, July 01, 2011

Alienasi


Dewasa ini para ilmuwan sosial, filusuf dan ahli agama sering berbicara tentang ALIENASImerasa terasing, kesepian dan kehilangan keakraban- pada manusia modern; “Instead of affection, acceptance, love and joy resulting from being with others, many people feel alone, rejected, ignored and unloved”. (William D. Brooks & Phillip Emmert)