Monday, July 18, 2011

Perjumpaan


Stasiun kereta ini kian terasa dingin. Tak terasa sudah 48 jam aku berada di tempat ini. Aku menanti kedatanganmu dengan sabar, Nak... Sekalipun waktu telah menjadikan hatiku terasa tawar, sebab terus menerka-nerka parasmu sekarang. Kau pasti cantik seperti namamu, nama yang dititipkan ibuku tersayang sejak kau masih dalam kandunganku, beberapa hari sebelum beliau akhirnya berpulang kepangkuan-NYA. Ah, betapa sedihnya jika mengenang beliau yang selalu mengusap-usap perutku, berharap usia sempat menghadirkan perjumpaan denganmu, Nak... Namun Tuhan berkata lain...

Tak ubahnya takdir kita juga, Nak... yang hanya mengizinkan aku untuk menimangmu selama 40 hari saja, kemudian mereka merampasmu seperti merasa lebih berhak memilikimu daripada aku, ibumu...

Kini, sudah dua dasawarsa kita terpisahkan oleh takdir. Aku masih tak percaya doaku telah di-ijabah oleh-NYA, Nak... tatkala DIA izinkan aku untuk melihatmu lagi...

Sejak dua malam yang lalu sudah kuuntai berjuta kata untuk menyambutmu, namun semua kata hanya menjadikanku terdiam membisu. Berjuta menjadi beribu, beribu menjadi beratus, beratus menjadi berpuluh, dan berpuluh menjadi tak ada... sebab apa yang bisa kuucap, sedangkan parasmu masih terasa maya dalam benakku, Nak...?

Ah, keretanya datang... semoga kali ini benar keretamu... tidak seperti sembilan kereta yang sudah lewat di jalur ini sebelumnya, dan tak satu pun membawa serta dirimu kedalam pelukanku... Kuperhatikan satu persatu wajah penumpang perempuan remaja. Ah, betapa bodohnya aku, mana mungkin aku dapat mengenali wajahmu, perawakanmu saja seperti apa kini aku tak tahu, yang aku tahu, aku hanya mengandalkan naluri keibuanku untuk mengenalimu dintara lautan manusia di stasiun kereta ini...

Ibu...?”, terdengar suara bergetar dari balik punggungku, kutolehkan wajahku perlahan sambil tertunduk, aku hanya berani melihatmu dari ujung sepatu keds-mu yang lusuh, kemudian naik ke tanganmu yang memegang secarik foto usang milikku. Oh, rupanya foto itu yang membuatmu mengenali wajahku, seraya menepuk pundakku, Nak... Perlahan kuberanikan kedua mataku untuk menatap wajahmu... dan... untaian kata tak ada yang mampu terucap dari sudut bibirku yang mengering dan kelu, Nak...

Sebab, untaian kata telah menjelma aliran sungai yang beriak di pelupuk mataku, dan sisanya menetes melalui anak sungai dihadapanku, kemudian bersama-sama mengalir menuju satu muara...

Aku seperti melihat cermin di masa silam, sebab parasmu tak ubahnya pantulan wajahku sendiri, di hadapan cermin... Dulu, dulu sekali, Nak...


# Corat-Coret (belajar menulis)

~ Jejak Bintang ~

No comments: