Friday, May 27, 2011

The Rebound


Sandy (Catherine Zeta-Jones), seorang ibu rumah tangga yang telah dikarunia dua anak, menemukan kenyataan pahit bahwa suaminya berselingkuh. Dengan segera ia menggugat cerai suaminya, kemudian pindah ke New York untuk memulai hidup baru bersama kedua anaknya. Ia menyewa sebuah apartemen yang dekat dengan coffe shop dimana Aram Finklestein (Justin Bartha) bekerja. Aram adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang masih bimbang dengan tujuan hidupnya, padahal ia telah meraih gelar sarjana yang berkaitan dengan studi perempuan dan feminisme. Sebelumnya, ia sempat bertemu Sandy di tempat pelatihan bela diri khusus kaum perempuan, dimana ia ‘merelakan’ dirinya untuk menjadi semacam sparring partner disana. Ketika itu Sandy mendapat ‘kesempatan’ untuk meluapkan segala kekesalannya pada mantan suaminya dengan Aram sebagai ‘sasaran’.

Mereka bertemu untuk kedua kalinya di coffe shop tempat Aram bekerja, ketika Sandy dan kedua anaknya sedang menanyakan alamat apartemen yang akan mereka tempati, ternyata letaknya tidak jauh dari coffe shop. Singkat cerita, selanjutnya Aram menerima tawaran Sandy untuk menjadi pengasuh bagi kedua anaknya. Awalnya part time, kemudian menjadi full time ketika Sandy mendapatkan pekerjaan di sebuah stasiun TV terkemuka di New York.

Hubungan yang terjalin antara Aram dengan kedua anak Sandy berkembang semakin erat dan mulai terasa chemistry diantara mereka, termasuk antara Aram dan Sandy. Dalam waktu dua bulan, mereka sudah seperti keluarga kecil baru yang bahagia. Sandy dan Aram pun menjadi sepasang kekasih. Hingga suatu hari Sandy telat datang bulan, dan berpikir kalau dirinya hamil. Di luar dugaan, Aram sangat senang mendengar berita itu dan bersedia menerima anak mereka kelak. Tentu saja Sandy terkejut dan senang atas reaksi Aram atas berita kemungkinan hamil dirinya. Namun sayang, setelah diperiksa, dokter menyatakan Sandy tidak hamil, namun di usianya yang sudah 40 tahunan, dokter menyatakan dia masih bisa hamil di lain kesempatan.

Sandy merasa dirinya sangat bodoh karena telah berfikir akan memiliki anak dari seorang pemuda ingusan berusia 25 tahun. Dan mengingat Aram yang belum memiliki pekerjaan tetap, Sandy tiba-tiba menjadi sangat pesimis akan hubungan mereka di masa mendatang. Pertengkaran pun tak dapat dielakkan, dan Sandy memutuskan hubungan dengan Aram.

Setelah putus dari Sandy, Aram mencoba menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan yang pernah ia tolak demi menjadi pengasuh anak-anak Sandy. Namun tiba-tiba saja Aram teringat kata-kata Sandy saat mereka masih bersama, “Tidakkah kau ingin pergi keliling dunia, sebagaimana umumnya dilakukan oleh pemuda seusiamu, daripada menghabiskan waktu bersama wanita yang usianya 15 tahun diatasmu dan sudah punya dua anak...?”. Dulu Aram menjawab bahwa Sandy dan kedua anaknya adalah hidupnya. Dan kini Aram mulai berpikir untuk mewujudkan ‘saran’ Sandy untuk melakukan perjalanan keliling dunia.

Sementara Sandy mulai menjalani peran sebagai single parent dengan mengasuh sendiri kedua anaknya sambil tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik. Lima tahun kemudian, Sandy mendapatkan promosi. Dan ketika ia merayakan promosinya bersama kedua anaknya dan seorang rekan kerjanya di sebuah restoran, dia bertemu kembali dengan Aram.

Keduanya sama-sama canggung. Sandy sempat takjub melihat penampilan Aram yang baru, tampak sudah lebih dewasa. Aram pun berkelakar, “Usiaku sekarang 30 tahun, lho...”. Sandy merasa malu mengingat dia pernah menuding Aram sebagai ‘brondong’ dihari mereka putus. Padahal batinnya mengakui bahwa Aram sangat dewasa di usianya yang masih muda. Sandy sempat terkejut ketika muncul seorang anak lelaki kecil yang diperkenalkan Aram sebagai anaknya, namun betapa leganya ia setelah mengetahui bahwa itu anak adopsi yang ditemukan Aram ketika di Bangladesh, dan, hmmm... Aram masih tetap single. Kemudian Sandy meminta Aram untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan, dan Aram yang ketika itu juga sedang mengajak serta kedua orangtuanya tak kuasa menolak.

Di meja makan, Sandy yang duduk berdampingan dengan Aram tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya yang masih menyayangi Aram, ketika anak-anak mereka sedang asik saling berkenalan, Sandy menggenggam tangan Aram perlahan di balik meja makan, dan Aram pun menyambutnya dengan kehangatan yang sama. Selanjutnya, silakan penonton berimajinasi sendiri aja kali yaaa bagaimana kelanjutan ceritanya...

Penampilan Catherine Zeta-Jones di film ini menurutku keren banget. Figur seorang wanita modern di usia matang yang sangat dewasa, ibu yang sangat menyanyangi anak-anaknya, serta seorang pekerja yang tekun. Benar-benar satu karakter wanita yang sempurna. Dan memang pas banget gitu kalo diperankan oleh doi. Dan satu pujian lagi buat si mature woman ini, even udah cukup berumur, body-nya masih sexy aja gitu. Ckckck... *ngiri banget gue*

Kalau Justin Bartha si pemeran Aram, gue baru ngeliat dia di film ini. Tapi aktingnya oke juga memerankan tokoh Aram, chemistry nya sama Catherine juga dapet banget. Lagian kalo diliatin lama-lama, lumayan cute juga... Yukmareee... :D


~ Jejak Bintang ~

Thursday, May 19, 2011

hidup berlandaskan kenyataan


Suatu hari, ketika aku menulis status yang sama di Blackberry Messenger (BBM) dan Facebook (FB), yaitu "Saat ini hidupku sangat berlandaskan kenyataan...". Beberapa teman komen di FB, dan sebagian bertanya lewat BBM.

Ya, hidup berlandaskan kenyataan mungkin terdengar agak janggal, hehehe... Tapi beginilah hidupku sekarang. Aku ingin memilah kembali koleksi mimpi-mimpiku yang belum terwujud. Aku ingin membuat daftar skala prioritas dalam melanjutkan hidupku ke depan. Aku sungguh lelah karena terlalu lama terlena dalam buaian angan-angan yang membuatku semakin jauh dari kenyataan yang ada di hadapanku.

Kini, saatnya aku membuka pikiran seluas-luasnya terhadap segala kemungkinan, dan menggung segala akibat dari perbuatanku yang terdahulu. Aku mulai mengerti dimana letak kesalahanku, namun biarlah semua itu tetap menjadi rahasiaku sendiri.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuka hati dan pikiranku untuk melihat lebih dalam akan makna hidup ini. Terima kasih atas kebaikan-MU menganugerahkan orang-orang baik disekelilingku, yang takkan meninggalkanku disaat aku rapuh. Kehidupan ini terlalu indah untuk disia-siakan sambil terlelap dalam impian-impian semu. Marilah kita jalani hidup yang berlandaskan kenyataan saja... ^^


~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 10, 2011

Penerimaan


RINDU bergejolak dalam kesendirian, tanpamu. Hati seumpama mengukur kadar cinta dan kesetiaan yang tengah diuji...

RESAH dan gelisah dalam ketidakhadiranmu di dekatku. Entah harus berkata apa nanti... otakku seperti berkarat, dan tak terlintas sepatah kata pun yang layak kupersembahkan untukmu...

BOSAN kilas balik masa lalu, masa kini dan masa depanku, bersamamu, disisimu...

RENUNGAN tak henti menjalari keinginan yang mengusik kalbuku... laksana tiang penyangga hubungan ini adalah AKU, dan semua tergantung “bagaimana aku”...

KETULUSANMU telah terlanjur teruji waktu. Kau terima sifat, sikap, hingga pandangan hidupku yang kerap berseberangan denganmu...

Ah, MALU aku ‘tuk melangkah maju, menghambur kedalam pelukanmu, yang selalu tersedia saat ku rapuh...


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, May 04, 2011

Tatkala Letih Menunggu


MENUNGGU ada kalanya terasa mengasyikkan,
banyak waktu kita miliki untuk berfikir
SENDIRI seringkali sangat kita perlukan,
MENEROPONG MASA SILAM yang telah terlewat

Mungkin ada apa yang kita CARI,
masih TERSEMBUNYI
di LIPATAN WAKTU yang tertinggal

Mungkin ada apa yang kita KEJAR,
justru TAK TERJAMAH saat kita MELINTAS

MENUNGGU lebih terasa BEBAN yang MEMBOSANKAN,
banyak WAKTU kita TERBUANG tergilas cuaca
SENDIRI seringkali sangat MENYAKITKAN,
MENEROPONG MASA DEPAN dari sisi yang gelap

Mungkin ada apa yang KITA TAKUTI,
justru telah MENGHADANG
di lembaran hari-hari NANTI

Mungkin ada apa yang KITA BENCI,
justru telah menerkam
MENEMBUSI SELURUH JIWA kita

Memang seharusnya,
kita tak membuang SEMANGAT MASA SILAM,
bermain dalam dada,
setelah usai MENGANTAR kita
TERTATIH-TATIH sampai di sini



*) a song by Ebiet G. Ade

Tuesday, May 03, 2011

pergi, lupa, diam dan batas


...tak harus PERGI
untuk MELUPAKAN...

karena belum tentu,
dengan PERGI, akan LUPA...

...tak harus DIAM
untuk MEMBATASI...

karena belum tentu,
DIAM itu adalah BATAS...

kelak...
kita semua akan PERGI dan TERLUPAKAN
dalam DIAM yang tak BERBATAS


~ Jejak Bintang ~