Showing posts with label contemplation. Show all posts
Showing posts with label contemplation. Show all posts

Tuesday, May 02, 2017

Fana.. Waktu..


waktu, hamparan tak berujung
dalam pasir waktu
jejak-jejak langkah menghilang 
dan tak pernah kembali...

kenangan bergulir
kenyataan saling bergumul
tenggelam dalam jurang
berabad-abad lamanya...

berjalan tertatih,
tergilas zaman,
hilang, dan kemudian dilupakan

di relung yang abadi
dari pasir waktu tak berujung
perjalanan hidup begitu singkat
dan fana...


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, September 21, 2016

Circle of Life

Life is a circle of happiness, sadness, hard times, and good times. If you are going through a hard time, know that good times are on the way.

Sunday, September 11, 2016

Ada dan Tiada

Menguraikan benang-benang rasa yang meliliti hati, dalam untai pemikiran...

Manusia dengan pikirannya, dan DIA dengan rencanaNYA...

Manusia, dimanapun berada, pada hamparan bumi ini, pada dasarnya memiliki kesamaan dalam pemikiran, yaitu, akan senantiasa mencari makna.

Sebab pandangan mata tak sejauh logika, juga tak seluas hati, sehingga jika sesuatu itu tak nampak, maka bukan berarti sesuatu itu tak ada.

Kehadiran tak melulu dimaknai eksistensi raga seseorang senantiasa berada di sekeliling kita. Namun esensinya lebih kepada "kehadiran" yang "nyata" kita rasakan melalui perhatian-perhatian yang sejuk mengalir bagai riak sungai menuju muara hati kita.


~ Jejak Bintang ~

Monday, February 29, 2016

Kepada Puteriku

Sudah hampir satu dasawarsa usiamu, Nak. Begitu pesat pertumbuhanmu, dalam pendampingan kami, orangtuamu. Begitu banyak sudah kami mencoba mengajarkan padamu tentang hakikat hidup ini. Bahwa hidup adalah perjuangan dan meniti pengalaman.

Beruntunglah kamu lahir ke dunia ini tanpa ikut merasakan perihnya perjuangan kedua orangtuamu dalam upaya mencukupkan semua kebutuhanmu. Kamu hanya tinggal menikmati kesenangan yang kami sajikan. Insya Allah tak kekurangan sesuatu apa.

Mama menyadari, pada beberapa fase penting usiamu, kehadiran Mama tidaklah maksimal sebab harus menyesuaikan waktu dalam tuntutan pekerjaan. Dan waktu tak pernah menunggu siapa pun, Nak. Usiamu terus beranjak, pun usia Mama dan Papa.

Dalam hadir dan alpa Mama, dalam kelembutan dan kerasnya Mama mendidikmu, dalam terang dan gelap sisi kehidupan yang kita lalui, terkadang cahaya mentari menghangatkan, terkadang ombak menggulung mendatangkan badai. Ini hanyalah sebagian hal yang belum kamu pahami, Nak.

Maafkan bila Mama selama ini terlalu membuaimu dalam segala kesenangan, sehingga Mama lupa mengajakmu melihat sisi lain dunia yang keras dan penuh perjuangan. Bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung kita, yang hidupnya serba kekurangan.

Kini, tak lagi kami turuti semua keinginanmu, agar kau belajar, bahwa hidup tak selalu indah. Namun rasanya kami sedikit terlambat, Nak. Kamu telah terbiasa mendapatkan segala keinginan, dari berbagai penjuru yang menyayangimu.

Begitu sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan, sebab lantas kau abaikan. Hati ini menangis. Bukan karena kamu, Nak. Lebih menangisi diri sendiri yang tak sempurna dalam mendidikmu, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.

Kini kau Mama dorong keras untuk belajar, rajin membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hidup prihatin, rajin mengaji, dan lain-lain. Mama mulai membandingkan dan mengukur kamu dengan Mama saat seusiamu dulu. Mengapa kamu tak bisa seperti Mama, Nak? Mama dulu begini dan begitu.

Begitu sulitnya mendisiplinkan kamu, Nak. Mengajarkan padamu bagaimana rutinitas keseharian semestinya berjalan dalam keteraturan. Ah, kamu sudah terbentuk sedemikian rupa, Nak. Betapa sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan. Maka aku pun mulai mendidikmu dengan tegas.

Memupuk semangat belajarmu dengan motivasi ternyata tidaklah semudah itu. Kuajak kamu menonton film-film dengan pesan moral, namun kamu belum memahami. Aku pun menghela nafas panjang. Sebab memahami semua ini lebih salahku dibanding salahmu, Nak. Aku mulai merenungkan begitu banyak hal.

Mari kita samakan persepsi dulu tentang pentingnya rutinitas belajar di rumah, Nak. Sesuatu yang dulu begitu aku senangi. Bisakah kamu juga? Seiring usiamu nanti, Nak. Aku tak ingin kamu menyesali sesuatu tentang belajar. Bahwa ketika kelak kamu melihat "dunia" dalam pandangan luas. Sekeras apapun upaya kita yang belajar dalam banyaknya keterbatasan (fasilitas, dll), belumlah sanggup bersaing dengan "mereka" yang memiliki segalanya. Ketika "dunia" sudah banyak "menuntut" peranmu kelak, Nak.. kamu akan merindukan usia dimana kamu hanya perlu belajar dan belajar saja..

Kemudian kamu akan ingat bagaimana aku "memaksamu" untuk belajar dengan ikhlas hati, bahwa belajar adalah perbekalanmu kelak di masa depan. Haruskah menunggu hingga saat itu tiba, untuk mengajarkan padamu bahwa pembelajaran hidup dimulai sejak usia sekolah, Nak. Dimulai dari menguasai pelajaran-pelajaran di sekolah, Nak. Kamu akan menghadapi pelajaran kehidupan kelak. Bagaimana agar kamu memahami ini, Nak?

~ Jejak Bintang ~


Monday, January 04, 2016

Loyalitas Seorang #LEO

"A Leo can be your BEST FRIEND or WORST ENEMY. There's no in-between. You're either WITH them or AGINST them".

Quote yang aku temukan ini, memang ada benarnya juga, sih. Sebagai seorang Leo, aku ngga suka plin-plan. Bagi aku, ngga boleh ada seorang pun bermain double-role-play denganku. Well, I hate hypocrites. So, kamu harus memilih salah satu diantara kedua pilihan tadi.


Namun ternyata seiring bergulirnya waktu, dinamika kehidupan yang kujalani, dan lajunya usia, semua berubah. Dalam panggung kehidupan, adakalanya kita duduk diantara lawan dan saling bersikap layaknya kawan,pun adakalanya kita duduk diantara kawan dan saling bersikap layaknya lawan.


Kini aku sudah tidak dapat mengistimewakan seorangpun sebagai sahabat sejati. Sebab sahabat sejati ternyata hanyalah letupan-letupan emosi semata yang bagaikan gejolak jiwa muda semata. Seiring laju usia, mungkin hanya keluarga saja yang akan tetap setia menerima diri kita utuh, apa adanya. Mungkin.


Mengagungkan persahabatan juga bisa mengecewakan di kemudian hari. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku mencoba menjadi sahabat terbaik bagi mereka, namun begitu mudah mereka melupakan semua ketika kebahagiaan lain datang menyapa. Apakah ungkapan ini artinya aku tidak tulus? Hmmm... tentu saja aku tulus, namun ketulusan bukan berarti tidak boleh memiliki kekecewaan, bukan?


Akhirnya aku melangkah ke depan. Dengan atau tanpa mereka, hidup ini akan terus bergulir. Dan seleksi alam kelak menunjukkan siapa yang akan selalu benar-benar ada untuk kita, yang bukan hanya ada di saat-saat terbaik dalam hidup kita, melainkan mereka yang tetap ada di saat-saat terburuk hidup kita.


Terima kasih atas semua pelajaran dan pengalaman ini. Semoga 'kan menjadikan aku manusia yang lebih bijak di waktu ke depan. Amin.



~ Jejak Bintang ~

Wednesday, October 07, 2015

It's CLOSED


Aku telah menghapusnya
Jejak-jejak yang memang sudah kutinggalkan
Dan aku tak akan kembali lagi ke sana,
...for any reason

Biarlah lembaran itu pergi menjauh
seiring langkah yang terus ke depan
Menjadi sejarah yang tak perlu dikenang
atau dikisahkan kelak kepada anak-cucu

Ternyata kehidupan yang sejati karuniaNYA
adalah yang terindah dibandingkan
gemerlap panggung sandiwara

Selamat jalan, Alter Ego, selamat berpisah
Denyut nadi, aliran darah, tarikan nafas,
kini milikku sendiri, 
dan aku takkan membaginya lagi

Rabb... padaMU kubersujud mohon ampunan
atas segala keangkuhanku, kekhilafanku
Aku kembali hanya di jalanMU


Jejak Bintang
- pada serpihan-serpihan masa lalu yang temaram,
menggenggam pasir, untuk melepaskannya ke samudera -

Laa ilaaha illallah...

Saturday, August 22, 2015

Act the part, and you will become the part

Bagaimana agar kita diterima oleh suatu lingkungan atau situasi dimana kita berada...? 

Untuk menjadi bagian atau berada di tengah-tengah suatu lingkungan yang baru, kita harus bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan mereka. Kita cenderung akan sulit diterima ketika kita "berbeda". Setidaknya, apabila kita memang benar-benar "berbeda", kita harus berpura-pura sama seperti mereka, agar dapat menjadi bagian dari mereka.

Aku sudah pernah menerapkan hal ini beberapa kali, dalam beberapa kesempatan di hidupku. Kalau hendak memasuki lingkungan "Komunitas Membaca", misalnya, tidak mungkin bagi mereka yang tidak suka membaca, karena akan tidak nyambung ketika komunitas ini banyak membicarakan buku, dan buku. Setidaknya perhatikan jenis buku yang mereka minati, cari 1-2 buku diantaranya yang paling populer, cobalah membaca dan memahaminya. Cukup segitu saja, kamu akan masuk ke dalam "mereka" tanpa merasa menjadi orang asing.

Selanjutnya, perhatikan pola dan kebiasaan mereka, kemudian cobalah untuk menyesuaikan. Sekedar menunjukkan bahwa kamu sama dengan mereka, dan proses yang akan menuntunmu ke tahap berikutnya. Proses memperoleh kepercayaan, untuk menggali dan mendapatkan informasi yang dikehendaki, apakah itu berkenaan dengan komunitas secara garis besar, atau seseorang dalam komunitas, secara khusus.


~ Jejak Bintang ~

Wednesday, July 08, 2015

GADGETaholic


Sebuah perenungan tentang GADGET...

Mungkin sekitar tahun 2009 aku menggunakan smartphone untuk pertama kali. Saat itu Blackberry yang sedang booming dengan aplikasi BBM andalannya. Kemudian seiring waktu aku pun bergonta-ganti smartphone. Hingga akhirnya aku membeli android Samsung yang harganya cukup mahal.

Alih-alih untuk menunjang kebutuhan pekerjaan, itulah alasan pertama aku menggunakan smartphone. Untuk mempermudah akses komunikasi dan informasi secara update, kapan saja, dimana saja. Hingga kemudian "kebutuhan" itu menjalar menjadi "kecanduan" yang tak terbendung lagi.

Maraknya aplikasi dari mulai social media, chat service, perbankan, hingga beragam game mulai menjadi trend dan "memaksa" aku mendownload. Semakin lama ketergantungan untuk "berinteraksi" dengan gadget pun semakin tinggi. Belum lagi aplikasi berbagai macam kamera dan trend selfie. Semakin dahsyat gadget ini menjadi benda paling penting bagi banyak orang, termasuk aku.

Entah disadari atau tidak, akhirnya peran gadget ini pun menggeser begitu banyak interaksi sosial yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Perubahan-perubahan drastis yang aku rasakan antara lain:

1)  Dulu, setiap ulang tahun, aku sebagai seseorang yang memiliki banyak saudara, teman dan kolega, senantiasa kebanjiran telepon dan SMS ucapan selamat ulang tahun. Rasanya menyenangkan menerima telepon-telepon itu, bahkan sebelum ada handphone, telepon rumah tak berhenti berdering, sampai saudara dan sahabat yang di luar Jakarta rela telepon interlokal sekedar untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Kini, orang cenderung memilih memberikan ucapan lewat facebook wall, atau sekedar pasang display picture di BBM disertai status "happy birthday to you". Well, kalau sekedar "masih untung dia ingat", bagiku tetap saja esensinya beda. Rasanya beda. Touching-nya beda.

2)  Di rumah, seluruh anggota keluarga menjadi semacam kehilangan chemistry satu sama lain. Seusai dari mana-mana, pulang ke rumah bukannya saling berkomunikasi satu sama lain, malah buru-buru nyamber gadget untuk update status "CAPEK". Terkadang anak pun diabaikan. Dan parahnya untuk menebus rasa bersalah pada anak karena keasikan tenggelam dalam dunia gadget, malah membelikan gadget juga untuk anak. Kita yang sudah dewasa (kalau enggan disebut tua) saja, tidak bisa mengendalikan diri dari gadget addict, apalagi anak-anak kita kalau harus "kenal" gadget sejak usia dini? Haduh...!

3)  Percakapan absurd orang zaman sekarang.

A: Eh, kamu udah tahu kalau papanya Ardi meninggal semalam? 
B: Innalillahi. Belum. Ardi ngabarin kamu, ya? 
A: Ngga. Kan rame tuh di facebooknya. 
#Glek!

atau ada versi lainnya begini,

A: Besok kamu mau datang ke pernikahan Rani dan Ivan, ngga? 
B: Hah? Emang udah mau nikah ya? Kapan? Kok aku ngga diundang? 
B: Diundang kok, kan kita di-tag di facebook, emang belum lihat notifikasi? 
A: Waduh, makasih deh kalo cara ngundangnya begitu, mendingan ngga usah datang aja.
#Glek!

Jujur, aku secara pribadi juga tidak berkenan diundang dengan cara demikian, karena kesannya ngga tulus banget, apa beratnya telepon kalau memang ngga bisa kirim undangannya? Dulu, masih ada metode dititipkan ke teman, atau telepon minta alamat, kemudian undangannya dikirim. Kini, social media telah sukses membuat banyak orang merasa "malas" melakukan semua hal yang "klasik" itu. Huft...!

4)  Acara kumpul-kumpul seperti arisan keluarga, silaturahmi, reuni, termasuk juga kongkow-kongkow dengan teman, dan lain sebagainya menjadi kehilangan makna tatkala semua orang yang tengah berkumpul malah asik dengan gadget masing-masing, dan bukannya mengobrol satu sama lain dengan melakukan eye contact. Bahkan sambil ngobrol, terlalu sering mata sambil melirik gadget. Hmmm...

Itu hanya beberapa contoh. Terlalu banyak bila dijabarkan contoh-contoh lainnya. Intinya, kita sungguh kekurangan interaksi sosial yang nyata dengan orang-orang di sekeliling kita. Banyak orangtua zaman sekarang cenderung lalai mengikuti perkembangan anaknya karena lebih sibuk memperhatikan gadget. Bersyukurlah kita sebagai generasi yang dibesarkan oleh orangtua di era yang belum mengenal gadget dan social media.

Berapa lama kita hidup di dunia, tidak pernah ada yang tahu. Aku ingin mulai mengurangi atau membatasi interaksi dengan gadget. Waktu yang berharga, baiknya dihabiskan dengan bercengkerama bersama suami/istri, anak-anak, orangtua, dan saudara, serta sahabat, teman, dan orang-orang di sekeliling kita.

Semoga belum terlambat untuk membatasi interaksi kita dengan gadget, juga anak-anak kita di rumah. Jangan pernah meminta dimaklumi oleh orang-orang yang kita sayangi ketika kita asik dengan gadget. Justru gadget harus "mengalah" ketika kita sedang bersama orang-orang tersayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.


~ Jejak Bintang ~



Sunday, June 07, 2015

Tersingkir

Kadang ada suatu masa
dimana kita merasa tersingkirkan
dari lingkungan tempat kita berada

Bila itu terjadi, rasanya seperti
ingin segera lenyap ke tempat
dimana semestinya kita berada
Tapi... apakah itu cukup...?

Rasanya, ada saat dimana
terkadang kita terpaksa menjalani
sesuatu di luar kehendak kita

Tapi... berapa lama kita dapat bertahan
dalam situasi yang sesungguhnya
tidak kita harapkan dan inginkan
...sama sekali

Tangerang, 23 Oktober 2000
Jejak Bintang

Thursday, May 21, 2015

this life in #abstract

Terkadang, kita harus bisa 'keras' terhadap diri kita sendiri, sebab bila kita tidak dapat bersikap demikian, maka dunia yang akan bersikap keras terhadap kita. Terkadang menyenangkan ketika segala sesuatu yang kita jalani, diberikan kemudahan olehNya. Namun, sesekali kita memang perlu kejutan, agar hidup lebih berwarna.

Lebih baik berpikir bagaimana cara menikmati hidup, daripada mengendalikan hidup. Karena pada prinsipnya kita tidak akan pernah bisa mengendalikan sesuatu yang bukan milik kita, yaitu kehidupan, yang mutlak adalah milikNya.

Berhenti memanjakan diri. Baiknya kendalikan diri dan perasaan. Sebab perasaan merupakan bagian diri kita. Perlu kita kendalikan agar bukan ia yang mengendalikan diri kita.


#Abstrak

~ Jejak Bintang ~

Tuesday, May 19, 2015

2015

dan kemudian...

di tahun ini bergulir berbagai peristiwa, begitu banyak, mengaduk-aduk perasaan dan emosi, menguji kematangan diri, menuju proses pendewasaan...

semoga...

rahmat dan hidayah-MU mengalir beriringan dengan langkah-langkahku, menuju ridho-MU... sebab aku takut akan ENGKAU, kebesaran-MU menggetarkan sukma dan sanubari... aku semakin merasa kecil dihadapan-MU... dan semakin kupaham hanya ENGKAU tempatku berharap dan memohon...

bahwa...

HIDUP dan MATI-ku hanya untuk-MU...

Laa Ilahailallah... Maha Suci Engkau dalam Kebesaran-MU...



~ Jejak Bintang ~

Friday, April 17, 2015

Gerbang 30

USIA semestinya mematangkan unsur-unsur dalam diri. Pemikiran, sikap, dan tentu saja batin. Bagaimana mengelola "anger management" atau tingkat kesabaran. Bagaimana semestinya tingkat kesabaran itu semakin tinggi. Dan ego perlahan ditekan.

Seusai berakhirnya satu episode kehidupan, muncul episode berikutnya. Tentunya dengan pemeran-pemeran baru dan kisah-kisah yang baru. Permasalahan-permasalahan baru. Sebab tanpa gejolak, hidup ini takkan diibaratkan bagai roda yang berputar.

Aku duduk termenung dalam keheningan ini. Kilas balik kerap menemani alam pikiran dan relung jiwaku. Aku enggan berdiam menjadi orang yang sama, dengan pemikiran yang sama, sementara waktu terus bergulir dan menghentakkanku untuk terus bertumbuh.

Kadang aku dihadapkan kembali oleh sesuatu yang aku sudah enggani. Aku kerap bertanya, "Mengapa?". Namun ku teringat bahwa Allah kadang menguji kita dengan hal-hal yang kita hindari atau tidak kita sukai. Ya, dan bagaimana kita bisa menjalaninya kembali, dengan hasil yang lebih baik.

Kurasa aku kini sedang terengah menuju ke sana. Sebab terlalu banyak scene yang cepat berganti. Terlalu banyak wajah di lintas waktu, di koridor panjang, gerbang ke-30. Ini seperti sebuah game petualangan. Dimana setiap naik level, semakin berat tantangan dan rintangannya.

Semoga aku tak melupa Engkau, Ya Rabb.. yang tak pernah melupakanku. Sujud syukurku, senantiasa Kau hadirkan orang-orang pilihanMu menyertai dalam perjalanan ini. Semoga kelak perjalanan waktu mematangkan aku dengan kadar yang Kau kehendaki. Dan semoga yang Kau kehendaki adalah "kesempurnaan" untukku. Amin.


~ Jejak Bintang ~

Saturday, March 07, 2015

LINDEN

Pohon LINDEN di India, boleh dikatakan sebagai pohon yang membuka pemikiran dan pemahaman bagi Umat Buddha, dan disebut pohon pengetahuan.

Pohon LINDEN ini agak berbeda dengan pohon lainnya. Pohon ini disebut pohon ilmu pengetahuan, jadi, ditanam di sekolah-sekolah.

Pamanku pernah berkata bahwa pohon LINDEN memiliki kesan romantis yang kuat, maka disebut juga pohon cinta. Di tempat yang tak ada pengetahuan, tak akan ada cinta. Karena orang pembenci tak akan memahami pasangannya. Kalau kita memahami seseorang, kita tak akan membencinya.

Di tempat yang tak ada pengetahuan, tak akan ada cinta. Cinta dimulai dari tempat yang diketahui. Kalau begitu, kalau ada pengertian, mungkin kebencian akan sirna.


June 19th, 2004

Wednesday, February 04, 2015

Kabut

Secepat kabut, jiwa menyelimuti mimpi, membakar semua yang tersisa dari kefanaan, menuju keremangan alam yang tersembunyi, jauh melintasi pikiran duniawi, tak tentu arah...

dan... kelembutan sang hati menyeka peluh sang amarah untuk bertenang dalam ruang yang penuh cahaya kehangatan yang memancarkan kedamaian ke seluruh kehidupan...

June 30th, 2004
Jejak Bintang

Sunday, February 01, 2015

Secercah HARAP

Semua... mungkin suatu saat akan pergi dariku, meninggalkan istana hatiku yang kian diliputi kesunyian...

Tapi mentari esok pasti menjemput diam-diam, setiap hati yang diliputi kabut keresahan jiwa... dan menyinari kekelaman malam menjelma cahaya rembulan perak...

Jangan takut, meski gelap malam pasti menyapa lagi, tetap simpan cahaya mentari di redupnya hati, sebab... diantara hati yang kesepian masih menyisakan ruang untuk cahaya kecil bernama "HARAPAN"...

Semoga kita selalu mau bangkit setelah kegelapan... Insya Allah...

April 17th, 2005
Jejak Bintang

Monday, January 12, 2015

Perubahan

Mengagungkan cinta, bukan berarti tidak 'bermain' didalamnya. Suatu perasaan yang hadir terkadang tak dapat ditolak begitu saja. Persahabatan terkadang memang diatas segalanya, bahkan di atas cinta. Dan memang, tak ada suatu kesinambungan yang abadi, di atas realita yang menjulang tinggi, menyiratkan suatu kesan keangkuhan yang mendalam.

Dan, di dalam diri ini, telah tertanam sesuatu yang terus tumbuh seiring dengan berjalannya sang waktu. Mungkin akan tetap begitu, sampai suatu hari nanti, sesuatu yang lain datang untuk menghentikannya.

Goresan kata takkan mampu mengungkapkan, sekalipun 'sesuatu' yang lain itu bukanlah hal yang asing ataupun baru dikenal. Dan sang jiwa akan terus tertidur, dalam lelapnya pesona kehidupan yang terpancar jauh sebelum peradaban. Segala yang indah mungkin 'kan sirna, kecuali sang kehidupan itu sendiri, yang 'kan terus berlanjut, behkan setelah kematian...

Entahlah, setiap orang bebas menterjemahkan 'makna' tulisanku ini. Bahkan aku pun terkadang butuh 'kesadaran penuh' untuk memahaminya.

*) sesuatu yang lain = suatu perubahan

January 18th, 2002
Jejak Bintang

- Kau tak akan temukan apapun yang terindah dalam hidup ini yang melebihi kehidupan itu sendiri -

Wednesday, January 07, 2015

Friendship is No Limit

Ada satu hal.. hari ini akhirnya gue berani ngebakar surat-surat devil.. Yah, gue rasa juga buat apa gue simpen luka yang kian berkarat..? Yang ada gue sakit hati sendiri tiap liat amplop coklat gede yang terukir indah nama "DEVIL" yang ditulis Exotic-D kurleb tiga setengah tahun yang lalu.

Gue bahkan ngga rela untuk ngebaca lagi tulisan-tulisan Innocent-D, baik yang buat gue atau Exotic-D. Terlalu sadis menurut gue. Dan juga surat-surat gue yang buat Innocent-D, it's just 'too high', but ternyata cuma dianggap bullshit pula sama orang yang gue tuju.

Dan diantara "serpihan" itu ternyata gue temukan dua kartu yang ngga gue bakar, kartu Exotic-D yang pertama dan ketiga buat gue. Ternyata ada something appreciate from her to me that so sweet and meaningful. Ternyata keberadaan gue sangat dihargai oleh Exotic-D. Dan ternyata selama ini gue buta. Exotic-D lebih menghargai persahabatannya dengan gue dibandingkan "surat-surat Innocent-D".

Entahlah, manusia terkadang emang khilaf dan lupa. Dan betapa ngga adilnya gue dulu sama Exotic-D. Meski begitu, ngga ada manfaatnya gue untuk nyesel sekarang. Sekarang buat gue: yang udah lewat ngga akan kembali. Yang ada cuma perbaikan yang bisa dimulai dari sekarang for the future. No more FLASHBACK, 'coz it's just wasting my time..

Innocent-D adalah sahabat yang hilang, yang rasanya cuma kuasa Allah SWT yang bisa kembaliin dia ke dalam hidup gue. Bahkan gue pun udah putus asa dan berhenti berharap. Biar Allah SWT dan waktu yang menentukan dan memberi jawaban kelak.

Dan Exotic-D adalah sahabat gue lainnya di SMU, dan masih sahabat gue 'till now. Mungkin dulu gue udah bersikap ngga adil, atau seperti itulah. Gue akan mulai memperbaikinya, meski gue udah starting mulai awal 2004 ini, gue rasa itu jelas-jelas ngga cukup. Karena buat gue, "Friendship is No Limit". Ngga ada takaran dalam persahabatan.

Gue tahu rasanya kecewa dan terlantar. Gue berharap masih diberi kesempatan oleh para sahabat yang saat ini masih gue miliki, to be a better person for them. Sekarang saatnya menarik garis untuk membedakan antara "sahabat" dan "teman".

Exotic-D, adalah teman SMU yang jadi 'backing' gue saat pertama masuk Zhie-Gho. Gue jadi ngerasa ngga sendirian dan punya seseorang yang bisa gue andalkan a whole three years there, and even more.

Ipuss, long story to have a nice relationship with her. Yang pasti dia 'merubah' cara pandang gue tentang hidup dan menuntun gue untuk lebih realistis dalam menyikapi setiap persoalan hidup. Meski awalnya sering berantem. Hehehe...

Widi, My Big Sister. The one who knows me the best since I was a child. The wise one. Tempat curhat dan minta saran no. 1. My very best friend. Sejak kecil, gue sering berharap kaya di sinetron gitu, wishing that ternyata dia sama gue masih ada hubungan sodara. Sekarang sih, "Best Friend" jelas-jelas udah melebihi sodara.

Ami, Si Anak Kecil. My best friend dari SD juga. Insya Allah dia juga my true friend. Dia tau banget gue, dan sebaliknya. Ami saingat berat gue di school dulu, but we're so close di luat pelajaran, 'till now.

Mba Anna, seseorang yang so many experienced of life. Tempat bertukar pikiran yang asik dan nyambung untuk topik apa aja. Dewasa dan ngemong. Gue selalu pengen punya figur kakak perempuan. Urusan curhat, doi asik banget.

Aies dan Jande, close friend di UBK. Deket dari Semester 1. Sering bareng, cabut bareng, lucu juga ternyata proses dewasanya bareng. Hope we'll ever after in this friendship.

Dompu, udah gue anggep adik. Dari SD selalu minjem buku pelajaran gue, sampe SMU bareng gue. Mulai beranjak dewasa, sering nanya pendapat gue tentang apa aja. And I still care of her. Dia berjasa besar dalam hidup gue karena comblangnya gue sama 'Mr. Big Heart'. Thanks, Pu..!

Yah, kira-kira merekalah sahabat istimewa gue hingga saat ini. Di luar itu masih ada juga sih beberapa orang yang deket, tapi ngga kaya mereka ini. Semoga para sahabat istimewa ini akan bertahan to be my best friends 'till the end. Amin. Insya Allah gue akan bersikap lebih baik lagi sama mereka.


Friendship is No Limit

September 19th, 2004
Jejak Bintang

Friday, December 05, 2014

ketika belantara enggan memaknai kasta

adalah lisan yang tak terjaga
mengalir deras dihempas gelombang

adalah sikap yang bernaung
di tempurung keangkuhan
menerjang batas kesantunan

adalah ratu,
dari balik dinding batu
melupa jubah sudah tertanggalkan waktu

seraya menjelma
figur yang bukan dirinya
meraja di belantara ramai
yang terpana...

kini ia tertunduk dalam haru
seusai dibuai kidung sunyi
yang membelai telinga,
mengaliri angkuh dinding hati

sudahlah,
pertunjukan usai
kini bergantilah kostum
duhai baginda ratu


ketika belantara enggan memaknai kasta
~ Jejak Bintang ~



Monday, July 14, 2014

Sajak-Sajak Empat Seuntai

/1/

kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka --
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/

ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana --
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/

bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya --
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/

apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/

apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan --
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/

dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang --
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang


1989
Sapardi Djoko Damono
#HujanBulanJuni

Monday, April 07, 2014

Seumpama Ada...

Seumpama ada,
keajaiban di depan mata
yang menghapus garis
yang selama ini terbentang
diantara takdirmu dan takdirku,
itu karena Allah...

Seumpama ada,
lilitan benang kusut dalam pikiran kita,
kemudian ia lurus kembali,
dan kita merasa lega,
itu karena Allah...

Seumpama ada,
kesalahan di masa lalu
yang terus mengekori langkah kita,
rasa menyesal di sepanjang hidup kita,
rasa putus asa yang menyelimuti diri,
maka kembalilah hanya kepada Allah...

Jadikan Allah sebagai satu tujuan
atas kehidupan yang kita jalani


March 27th, 2005
Jejak Bintang