Monday, February 29, 2016

Kepada Puteriku

Sudah hampir satu dasawarsa usiamu, Nak. Begitu pesat pertumbuhanmu, dalam pendampingan kami, orangtuamu. Begitu banyak sudah kami mencoba mengajarkan padamu tentang hakikat hidup ini. Bahwa hidup adalah perjuangan dan meniti pengalaman.

Beruntunglah kamu lahir ke dunia ini tanpa ikut merasakan perihnya perjuangan kedua orangtuamu dalam upaya mencukupkan semua kebutuhanmu. Kamu hanya tinggal menikmati kesenangan yang kami sajikan. Insya Allah tak kekurangan sesuatu apa.

Mama menyadari, pada beberapa fase penting usiamu, kehadiran Mama tidaklah maksimal sebab harus menyesuaikan waktu dalam tuntutan pekerjaan. Dan waktu tak pernah menunggu siapa pun, Nak. Usiamu terus beranjak, pun usia Mama dan Papa.

Dalam hadir dan alpa Mama, dalam kelembutan dan kerasnya Mama mendidikmu, dalam terang dan gelap sisi kehidupan yang kita lalui, terkadang cahaya mentari menghangatkan, terkadang ombak menggulung mendatangkan badai. Ini hanyalah sebagian hal yang belum kamu pahami, Nak.

Maafkan bila Mama selama ini terlalu membuaimu dalam segala kesenangan, sehingga Mama lupa mengajakmu melihat sisi lain dunia yang keras dan penuh perjuangan. Bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung kita, yang hidupnya serba kekurangan.

Kini, tak lagi kami turuti semua keinginanmu, agar kau belajar, bahwa hidup tak selalu indah. Namun rasanya kami sedikit terlambat, Nak. Kamu telah terbiasa mendapatkan segala keinginan, dari berbagai penjuru yang menyayangimu.

Begitu sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan, sebab lantas kau abaikan. Hati ini menangis. Bukan karena kamu, Nak. Lebih menangisi diri sendiri yang tak sempurna dalam mendidikmu, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.

Kini kau Mama dorong keras untuk belajar, rajin membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hidup prihatin, rajin mengaji, dan lain-lain. Mama mulai membandingkan dan mengukur kamu dengan Mama saat seusiamu dulu. Mengapa kamu tak bisa seperti Mama, Nak? Mama dulu begini dan begitu.

Begitu sulitnya mendisiplinkan kamu, Nak. Mengajarkan padamu bagaimana rutinitas keseharian semestinya berjalan dalam keteraturan. Ah, kamu sudah terbentuk sedemikian rupa, Nak. Betapa sulitnya kini menasihatimu dalam kelembutan. Maka aku pun mulai mendidikmu dengan tegas.

Memupuk semangat belajarmu dengan motivasi ternyata tidaklah semudah itu. Kuajak kamu menonton film-film dengan pesan moral, namun kamu belum memahami. Aku pun menghela nafas panjang. Sebab memahami semua ini lebih salahku dibanding salahmu, Nak. Aku mulai merenungkan begitu banyak hal.

Mari kita samakan persepsi dulu tentang pentingnya rutinitas belajar di rumah, Nak. Sesuatu yang dulu begitu aku senangi. Bisakah kamu juga? Seiring usiamu nanti, Nak. Aku tak ingin kamu menyesali sesuatu tentang belajar. Bahwa ketika kelak kamu melihat "dunia" dalam pandangan luas. Sekeras apapun upaya kita yang belajar dalam banyaknya keterbatasan (fasilitas, dll), belumlah sanggup bersaing dengan "mereka" yang memiliki segalanya. Ketika "dunia" sudah banyak "menuntut" peranmu kelak, Nak.. kamu akan merindukan usia dimana kamu hanya perlu belajar dan belajar saja..

Kemudian kamu akan ingat bagaimana aku "memaksamu" untuk belajar dengan ikhlas hati, bahwa belajar adalah perbekalanmu kelak di masa depan. Haruskah menunggu hingga saat itu tiba, untuk mengajarkan padamu bahwa pembelajaran hidup dimulai sejak usia sekolah, Nak. Dimulai dari menguasai pelajaran-pelajaran di sekolah, Nak. Kamu akan menghadapi pelajaran kehidupan kelak. Bagaimana agar kamu memahami ini, Nak?

~ Jejak Bintang ~


No comments: