Wednesday, August 24, 2011

U S I A


sepanjang musim,
kita tak mampu musiumkan rinai hujan
yang kertap resap di atap
seperti gegas senja genap
garis jalan bahkan bukan lurus
tidak juga liku
hanya rotasi



Fitri Wahyuni; Kompas, 11 September 2010

Friday, August 05, 2011

di batas mimpi


...dan kepalaku berkunang-kunang...

Kulihat seribu bintang berkeliling disana. Seribu bayangan hitam berkelebat. Seribu peri menari-nari dengan indahnya. Ah, bohong. Tentu saja bohong. Kapasitas otakku tak mungkin mampu menampung sedemikian banyaknya. Hanya omong kosong. Meregang jasad. Kemudian jiwa terlihat menyeberangi sebuah jembatan. Melintasi perbatasan magis, antara ruang mimpi dan alam nyata.


Astaghfirullah aladzim...



~ Jejak Bintang ~

Thursday, August 04, 2011

Buntu


Aku tak ingin menelikung jalan itu lagi. Cukup sudah. Perasaan yang teramat sangat menyiksa bathin ini. Ingin kutikam jantungku sendiri. Hingga berdarah-darah. Jika saja hal itu dapat menukar waktu yang telah mengantarkanku berjalan menuju gerbang tak kasat mata. Dan memasukinya dengan segenap kesadaran. Ampunilah aku, Ya Rabb. Mungkin aku memang tak sempurna. Dan takkan pernah menjadi sempurna.



~ Jejak Bintang ~

6 Tipe Pasangan dan Model Hubungan


KOMPAS.com - Setiap hubungan berpasangan memiliki keunikan. Kenali tipe pasangan agar hubungan lebih terjaga keharmonisannya. Para psikolog mengatakan, dengan mengidentifikasi tipe pasangan, Anda dan dia memiliki hubungan yang bahagia karena adanya saling pengertian dan kemampuan memahami kebutuhan pasangan.

Konsultan hubungan, Val Sampson mengatakan tipe hubungan yang dijalankan pasangan dipengaruhi pola asuh orangtua. "Anak-anak menyerap banyak informasi dari orangtua dan keluarganya. Karenanya perilaku seseorang saat dewasa sangat dipengaruhi pengasuhan pada masa anak-anak," jelasnya.

Kenali enam tipe pasangan dan seperti apa hubungan yang dijalankan masing-masing tipenya.

Tipe anjing dan kucing

Tipe pasangan ini sering bertengkar, bahkan di tempat umum. "Tipe pasangan ini bahkan bisa saling meneriaki di depan orang lain. Pertengkaran seperti menjadi kebiasaan. Namun mereka tak menjadikan pertengkaran sebagai alasan untuk berpisah," jelas psikoterapis Avi Shmueli.

Pasangan model ini saling tertarik satu sama lain karena mereka menikmati siklus pertengkaran. Mulai adu mulut hingga akhirnya berbaikan. Biasanya saat berbaikan, keduanya menikmati hubungan seksual penuh hasrat.

Kesulitan terbesar pada pasangan ini adalah ketika salah satu pasangan berselingkuh atau berkhianat. "Hubungan menjadi berantakan. Pertengkaran yang terjadi dipicu rasa tak nyaman dalam hubungan, dan pasangan tipe ini berpisah dengan cara tak menyenangkan," kata psikolog hubungan berpasangan Susan Quilliam.

Tipe tarik ulur

Pasangan tipe ini mengambil dua peran secara bergantian, sebagai orang yang membutuhkan dan dibutuhkan. Jika Anda berada dalam posisi mengejar-ngejar pasangan, maka si Dia akan menjaga jarak. Sebaliknya, jika si dia berada di posisi yang mengejar Anda, maka Anda bersikap sebaliknya, karena merasa dibutuhkan.

"Satu orang pura-pura tidak peduli, namun yang satunya lagi justru menikmati kesenangan ini. Keduanya saling bergantian memainkan peran tadi. Keduanya tak ingin terlihat membutuhkan pasangannya", jelas Susan Quilliam, menambahkan pada akhirnya pasangan ini bisa berjalan sendiri-sendiri, mandiri dengan hidupnya, namun tetap berkomitmen.

Tipe orangtua-anak

Pasangan ini memperlakukan satu sama lain dengan penuh perhatian seperti orangtua ke anak. "Mereka merasa bertanggungjawab untuk mengasuh pasangannya," jelas Val Sampson.

Tipe pasangan ini biasanya mulai dialami suami-istri setelah punya anak. Atau jika salah satu pasangan berada dalam posisi yang lemah, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan.

"Pasangan yang bertindak sebagai orangtua merasa dengan memberikan perhatian, pengasuhan kepada suami atau istrinya, ia merasa memiliki tujuan hidup," jelas Susan Quilliam. Sementara pasangan yang bertindak sebagai anak biasanya memiliki penghargaan diri yang rendah. Ia berada dalam penguasaan pasangan yang terbiasa memiliki kuasa di lingkungan pekerjaannya misalnya.

"Padahal pengasuhan bukan sekadar merawat dan memperhatikan, namun juga mengontrol," tambah Quilliam.

Tipe idola dan fans

"Semuanya serba hitam putih bagi pasangan ini," kata Quilliam. "Satu orang baik dan hebat dalam segala hal, namun satunya lagi mengaguminya," lanjutnya.

Faktanya, pasangan ini keduanya sama-sama sukses. Namun salah satu pihak berada dalam posisi si pemberi pujian untuk meningkatkan harga diri pasangannya. Pada beberapa pasangan, orang yang berperan sebagai idola akan membesarkan hati pasangannya. Si idola akan mengatakan kepada si fans, bahwa ia takkan pernah bisa menemukan orang lain yang bisa mencintai seperti pasangannya.

Hubungan tipe pasangan ini cenderung pendek, karena keduanya tak bertumbuh. Ketika si fans tak lagi menunjukkan sikap memuja kepada si idola, maka si idola akan dengan mudah berkata "Kamu tidak menghargai saya lagi, jadi saya cari orang lain yang bisa menghargai saya," jelas Quilliam menyontohkan.

Tipe pelindung

Pasangan tipe ini selalu berbagi dalam segala hal, pendapat, hobi, bahkan pakaian. "Dua individu ini merasa nyaman dan aman karena memiliki kesamaan," kata Susan Quilliam.

Quilliam menambahkan, bisa jadi mereka pernah disakiti dalam hubungan di masa lampau. Sehingga mereka merasa perlu untuk menemukan kesamaan dalam berbagai hal untuk mendapatkan perasaan aman.

Pasangan tipe ini sangat fokus pada satu sama lain, sehingga sulit bagi orang luar untuk masuk dalam kehidupan mereka. Mereka terkesan kompak dan akur, namun hubungan dalam pasangan ini seperti kurang bumbu.

Tipe dewasa

Pasangan tipe dewasa ini menjalani hubungan yang sifatnya fungsional. Pasangan tipe ini cenderung minim konflik dan tak ambil pusing dengan perbedaan.

"Mereka sensitif dan akomodatif satu sama lain. Kesannya ideal, tetapi harus diwaspadai," jelas Quilliam.

Pasangan ini tak pernah menjalani sesuatu secara spontan atau sesuatu yang menantang. "Hubungan mereka cenderung tenang dengan sedikit gejolak," tambahnya.


*) taken from : KOMPAS FEMALE

Tuesday, August 02, 2011

Wanita dan Curhat.com


Kaum PRIA cenderung lebih banyak menggunakan LOGIKA, dan kaum WANITA cenderung lebih banyak menggunakan PERASAAN. Ya, statement yang udah basi banget, kaleee... Semua orang juga udah tau, hehehe...

CURHAT a.k.a. Curahan Hati memang lebih populer di kalangan wanita, mengingat karakteristik wanita yang cenderung lebih sensitif dan peka perasaannya dibandingkan pria, membuat mereka merasa selalu membutuhkan teman bicara untuk sekedar hanya ingin didengarkan, hingga meminta saran atau pendapat atas persoalan yang dihadapinya. Begitulah wanita.

Aku merasa sudah biasa dijadikan tempat curhat oleh teman-teman dan sahabat-sahabat sejak zaman ABG dulu. Yang tema curhatannya masih cupu alias ngga jauh-jauh dari persoalan-persoalan seputar sekolah, orangtua yang keras, pertengkaran antar kakak-adik di rumah, dan tentu saja, cinta monyet.

Dulu aku sempat bertanya-tanya, kenapa begitu banyak teman yang memilih aku sebagai media curhat mereka...? Namun kini aku paham, sepertinya alasan utama mereka adalah karena aku termasuk kategori anak pendiam yang tidak banyak omong. Seems like I could be a secret keeper for them. Pada masa-masa rentan dunia remaja, umumnya mereka curhat semata-mata karena butuh didengarkan, atau dibesarkan hatinya. Sebab persoalan-persoalan remaja itu tidak jauh dari proses pencarian jati diri, krisis kepercayaan diri, pubertas tahap pertama dan kelabilan, dimana mereka selalu butuh second opinion pada hampir setiap jengkal persoalan hidup yang dialami.

Waktu pun bergulir. Masa-masa remaja yang indah telah berlalu dari hadapan. Dalam dua tahun terakhir, aku banyak dihubungi oleh teman-teman terdekatku dari masa ke masa. Aku menyebutnya SAHABAT, karena kedekatanku dengan mereka yang telah teruji waktu. Seiring laju usia, persoalan yang dihadapi sudah semakin kompleks. Sebagian yang sudah menikah mulai dihadapkan dengan berbagai persoalan rumah tangga dan repotnya mengurus anak. Tentunya mereka sudah tidak lagi semata-mata hanya butuh untuk didengarkan, tapi juga butuh diberikan pandangan-pandangan, saran dan masukan yang tepat atas persoalan yang dihadapi.

Seringkali aku menghela nafas panjang, setiap satu dari mereka mulai membuka cerita, yang tentunya tidak ingin diketahui oleh orang lain, selain aku. Ada beban berat disana, berada diantara rahasia orang, kepercayaan dan tanggung jawab untuk mampu merahasiakan semua itu, plus memberikan pandangan-pandangan yang dapat membesarkan hati mereka. Biasanya orang yang sedang dalam persoalan, akal sehatnya tidak mampu berfikir dengan jernih.

Sementara, aku hanyalah seorang wanita biasa saja. Pola pikir, dan bahkan terkadang sikapku, masih sangat jauh dari istilah atau kategori “matang”. Lalu bagaimana aku semestinya memposisikan diri dihadapan mereka yang mengharapkan pandangan-pandangan dan bahkan solusi dariku atas persoalan-persoalan yang sedang dihadapi...?

Setelah kutelusuri lebih jauh, ternyata menjadi tempat curhat telah membuka pandangan-pandangan yang lebih luas bagi diriku. Ragamnya permasalahan para sahabat, secara tidak langsung telah menorehkan nilai-nilai kehidupan yang baru, dan memberikan dampak yang positif dalam proses pematangan sikap, pikiran dan jiwaku. Ketika pikiranku sedang sibuk mencerna persoalan yang dijabarkan, hatiku berusaha merangkumnya, untuk kemudian aku “harusmenghasilkan kata-kata yang paling tidak dapat memberikan ketenangan, jika ternyata keterbatasan pikiranku tak kuasa untuk menghadirkan solusi.

Selain itu, sekian lama menjadi tempat curhat, sedikit banyak juga berpengaruh dalam membangun rasa percaya diriku, dimana selama ini aku orangnya minderan. Kini aku merasa, semakin banyak sahabat yang datang untuk curhat, artinya mereka telah menaruh kepercayaan padaku. Bagi mereka, aku bukanlah hanya teman dalam kesenangan, tetapi aku juga orang yang paling tepat untuk mereka datangi untuk membagi kesedihan dan air mata. Dan mereka percaya, bahwa aku memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Bagiku personally, menjadi tempat curhat dapat kujadikan sebagai media untuk introspeksi diri, karena sahabat adalah cermin.

So... jadi tempat curhat...? Siapa takuuutt...?! Lebih baik kita menikmatinya, dan tidak menjadikannya sebagai beban. Anggap saja sebagai sarana untuk menambah wawasan jika sewaktu-waktu menghadapi persoalan yang sama. Setidaknya kita sudah punya gambaran langkah-langkah penyelesaiannya. Dan satu lagi, anggaplah hal ini sebagai bagian dari ibadah, karena keberadaan kita sebagai tempat curhat, Insya Allah dapat meringankan beban bathin bagi para sahabat tercinta. Sekalipun kita tidak selalu bisa memberikan solusi, at least mereka merasa plong karena telah menumpahkan unek-uneknya kepada kita. Selamat berbagi curahan hati dengan sahabat, yaaa... :)



~ Jejak Bintang ~