Wednesday, July 08, 2015

GADGETaholic


Sebuah perenungan tentang GADGET...

Mungkin sekitar tahun 2009 aku menggunakan smartphone untuk pertama kali. Saat itu Blackberry yang sedang booming dengan aplikasi BBM andalannya. Kemudian seiring waktu aku pun bergonta-ganti smartphone. Hingga akhirnya aku membeli android Samsung yang harganya cukup mahal.

Alih-alih untuk menunjang kebutuhan pekerjaan, itulah alasan pertama aku menggunakan smartphone. Untuk mempermudah akses komunikasi dan informasi secara update, kapan saja, dimana saja. Hingga kemudian "kebutuhan" itu menjalar menjadi "kecanduan" yang tak terbendung lagi.

Maraknya aplikasi dari mulai social media, chat service, perbankan, hingga beragam game mulai menjadi trend dan "memaksa" aku mendownload. Semakin lama ketergantungan untuk "berinteraksi" dengan gadget pun semakin tinggi. Belum lagi aplikasi berbagai macam kamera dan trend selfie. Semakin dahsyat gadget ini menjadi benda paling penting bagi banyak orang, termasuk aku.

Entah disadari atau tidak, akhirnya peran gadget ini pun menggeser begitu banyak interaksi sosial yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Perubahan-perubahan drastis yang aku rasakan antara lain:

1)  Dulu, setiap ulang tahun, aku sebagai seseorang yang memiliki banyak saudara, teman dan kolega, senantiasa kebanjiran telepon dan SMS ucapan selamat ulang tahun. Rasanya menyenangkan menerima telepon-telepon itu, bahkan sebelum ada handphone, telepon rumah tak berhenti berdering, sampai saudara dan sahabat yang di luar Jakarta rela telepon interlokal sekedar untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Kini, orang cenderung memilih memberikan ucapan lewat facebook wall, atau sekedar pasang display picture di BBM disertai status "happy birthday to you". Well, kalau sekedar "masih untung dia ingat", bagiku tetap saja esensinya beda. Rasanya beda. Touching-nya beda.

2)  Di rumah, seluruh anggota keluarga menjadi semacam kehilangan chemistry satu sama lain. Seusai dari mana-mana, pulang ke rumah bukannya saling berkomunikasi satu sama lain, malah buru-buru nyamber gadget untuk update status "CAPEK". Terkadang anak pun diabaikan. Dan parahnya untuk menebus rasa bersalah pada anak karena keasikan tenggelam dalam dunia gadget, malah membelikan gadget juga untuk anak. Kita yang sudah dewasa (kalau enggan disebut tua) saja, tidak bisa mengendalikan diri dari gadget addict, apalagi anak-anak kita kalau harus "kenal" gadget sejak usia dini? Haduh...!

3)  Percakapan absurd orang zaman sekarang.

A: Eh, kamu udah tahu kalau papanya Ardi meninggal semalam? 
B: Innalillahi. Belum. Ardi ngabarin kamu, ya? 
A: Ngga. Kan rame tuh di facebooknya. 
#Glek!

atau ada versi lainnya begini,

A: Besok kamu mau datang ke pernikahan Rani dan Ivan, ngga? 
B: Hah? Emang udah mau nikah ya? Kapan? Kok aku ngga diundang? 
B: Diundang kok, kan kita di-tag di facebook, emang belum lihat notifikasi? 
A: Waduh, makasih deh kalo cara ngundangnya begitu, mendingan ngga usah datang aja.
#Glek!

Jujur, aku secara pribadi juga tidak berkenan diundang dengan cara demikian, karena kesannya ngga tulus banget, apa beratnya telepon kalau memang ngga bisa kirim undangannya? Dulu, masih ada metode dititipkan ke teman, atau telepon minta alamat, kemudian undangannya dikirim. Kini, social media telah sukses membuat banyak orang merasa "malas" melakukan semua hal yang "klasik" itu. Huft...!

4)  Acara kumpul-kumpul seperti arisan keluarga, silaturahmi, reuni, termasuk juga kongkow-kongkow dengan teman, dan lain sebagainya menjadi kehilangan makna tatkala semua orang yang tengah berkumpul malah asik dengan gadget masing-masing, dan bukannya mengobrol satu sama lain dengan melakukan eye contact. Bahkan sambil ngobrol, terlalu sering mata sambil melirik gadget. Hmmm...

Itu hanya beberapa contoh. Terlalu banyak bila dijabarkan contoh-contoh lainnya. Intinya, kita sungguh kekurangan interaksi sosial yang nyata dengan orang-orang di sekeliling kita. Banyak orangtua zaman sekarang cenderung lalai mengikuti perkembangan anaknya karena lebih sibuk memperhatikan gadget. Bersyukurlah kita sebagai generasi yang dibesarkan oleh orangtua di era yang belum mengenal gadget dan social media.

Berapa lama kita hidup di dunia, tidak pernah ada yang tahu. Aku ingin mulai mengurangi atau membatasi interaksi dengan gadget. Waktu yang berharga, baiknya dihabiskan dengan bercengkerama bersama suami/istri, anak-anak, orangtua, dan saudara, serta sahabat, teman, dan orang-orang di sekeliling kita.

Semoga belum terlambat untuk membatasi interaksi kita dengan gadget, juga anak-anak kita di rumah. Jangan pernah meminta dimaklumi oleh orang-orang yang kita sayangi ketika kita asik dengan gadget. Justru gadget harus "mengalah" ketika kita sedang bersama orang-orang tersayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.


~ Jejak Bintang ~



No comments: