Kemarin, aku berbincang dengan Innocent, sahabatku. Awalnya sekedar mengobrol tentang masa-masa dan teman-teman SMA kami. Tentang perubahan-perubahan yang bergulir seiring waktu. Begitu banyak hal.
Hingga Innocent menyebut satu nama, seorang kontributor utama tunggal atas skenario kejam yang meretakkan persahabatan kami di masa lampau. Ya, teman kuliah Innocent itu hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Innocent, dan bagiku itu hak dasar setiap orang untuk memilih dengan siapa ia ingin berteman, atau masih ingin berteman setelah mengetahui tabir hitam yang tersembunyi. Yang terpenting, semua telah terungkap. Ternyata selalu tentang waktu, dan "semua" 'kan indah pada waktunya. Insya Allah.
Intinya, Innocent sambil lalu menanyakan apakah ada kemungkinan hubunganku dengan "dia" (kata ganti orang ketiga tunggal) bisa kembali membaik? Aku bilang, apa yang dahulu "dia" lakukan padaku terlalu meninggalkan luka yang dalam, sehingga akan sangat sulit bagiku mempercayainya lagi. Untuk apa berteman (dalam makna yang sesungguhnya) tanpa dilandasi rasa percaya? Innocent cuma menanggapi, "Ah, kaya sinetron aja, sih".
Entah apakah Innocent paham, bahwa "permasalahan" yang dulu teramat sangat "besar", menyangkut kepercayaan yang hilang makna. Menyangkut persahabatan kami yang ternoda oleh "dia". Dan miris rasanya mengingat bahwa akulah yang membuka gerbang perkenalan bagi mereka berdua, dimana aku terlebih dahulu berkawan dengan "dia" karena lokasi rumah kami yang berdekatan. Barangkali Innocent menganggapnya tinggal sejarah, yang tak perlu di-"permasalahkan" lagi? Entahlah. Namun apabila ada wacana "memaafkan itu mudah, melupakan yang sulit", lalu bagaimana bila memaafkan saja rasanya sulit, apalagi melupakan :)
Mungkin saja suatu saat nanti waktu 'kan menguraikan semuanya... mungkin... Namun peristiwa itu terlalu lekat di kepala. Ibarat sebuah bingkai yang retak, maka pecahannya masih tertinggal di sana. Untungnya bingkai itu masih ada, walau retakannya tentu merefleksikan citra yang sudah tak lagi sama.
Waktu, dan momentum. Biarkan mengalir saja.
~ Jejak Bintang ~
No comments:
Post a Comment