Tuesday, March 29, 2011

Suddenly I realize something...


MENYEBALKAN...!!

Kemarin malam adalah rute pulang kantor yang TERPANJANG dan TERLAMA dalam sejarah.

Pertama, niat untuk pulang TENG-GO terhalang oleh Mrs. Boss yang mendadak kedatangan tamu yang tak diundang alias belum terjadwal sebelumnya, namun terpaksa diterima beliau karena terlanjur berpapasan di pintu, bertepatan dengan saat beliau mau pulang. Ggggrrrhhh....!! Awas saja deh itu tamu kalau sampai datang lagi besok-besok...!! *kesal sambil jambak-jambak rambut sendiri*

Akhirnya pukul 17.25 WIB, Mrs. Boss resmi meninggalkan kantor. Tidak terbayang malasnya aku untuk keluar kantor pada jam segitu. Pasti antrean penumpang di tempat biasa menunggu bus sudah sangat padat merayap. Caaappeeeddeeehh...!! Dan dengan penuh rasa terpaksa, aku tetap keluar kantor juga.

Setelah penuh perjuangan membawa tentengan yang cukup berat, akhirnya aku tiba juga dengan sukses di tempat biasa menunggu bus. Tanpa direkayasa, disana aku bertemu Ink, sahabatku yang selalu memaksaku untuk naik omprengan bareng setiap kali kami bertemu secara tidak sengaja di tempat itu. Aku pun harus ikhlas membiarkan bus Patas AC langgananku melintas begitu saja di hadapan mata, padahal kelihatannya bus itu tadi agak sepi, alias tersedia banyak tempat duduk kosong. Biasanya, jarang sekali bus itu kosong pada jam-jam seperti sekarang. Yah, mau bagaimana lagi, memang sudah nasipku harus bertemu Ink disana... *tepuk jidat*

Seharusnya, tidak menjadi masalah sekalipun aku harus naik omprengan bareng Ink, sebab biasanya memang seperti itu kalau kami pulang bareng. Biasanya aku tinggal telepon Mr. Big Heart untuk menjemputku, dan Big Heart selalu rela untuk menjemputku dimana pun, dan jam berapa pun.

Setelah duduk manis di dalam omprengan, di tengah kemacetan jalan raya ibu kota jam orang-orang pulang kantor seperti biasanya, dan ditengah cuap-cuapnya Ink yang memang akhir-akhir ini sedang mengidap semacam syndrome keranjingan curhat jika sedang didekatku, aku menelepon Big Heart. Betapa kagetnya aku mendengar suaranya lirih di seberang sana. Big Heart sakit...?!

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening, aku hanya setengah menangkap dari keseluruhan isi cuap-cuapnya Ink. Aku merasa panik. Selain memikirkan Big Heart yang sedang sakit di rumah, aku juga memikirkan ‘kesulitan-kesulitan’ di hadapan mataku karena harus menerima kenyataan tidak dijemput dia malam itu. Pertama, bawaanku yang cukup berat. Kedua, karena naik omprengan, rutenya menjadi lebih jauh dan harus menyambung tiga kali kendaraan lagi. Ketiga, karena sudah sangat ketergantungan dijemput selama ini, aku merasa ketakutan membayangkan harus menunggu angkot malam-malam sendirian di dua lokasi yang harus kutempuh sendirian setelah nanti berpisah dengan Ink. Suddenly I realize something.

Tahap selanjutnya setelah turun dari omprengan, aku harus menyebrang jalan sambil menenteng bawaanku yang berat itu, plus jalan kaki sampai ke tempat angkot ngetem. Huft...!! Kemudian, turun di lokasi yang remang-remang untuk menyambung angkot berikutnya, plus menunggu angkotnya ngetem kurleb setengah jam sebelum akhirnya jalan. And then, melewati jembatan penyebrangan jalan yang selalu padat oleh orang-orang, plus banyaknya pengemis dan pedagang di sepanjang jembatan. Terakhir, naik ojek. Harus berhadapan dengan serbuan beberapa tukang ojek yang rebutan penumpang, pakai acara kena colek tukang ojek iseng segala. Aaarrrggghhh....!! Pasti aku tinju tukang ojek sialan itu kalau aku ngga menenteng bawaan seberat ini...!! Ggggrrrhhh....!!

Pukul, 20.55 WIB, tiba di rumah tercinta. Takjub ketika menyadari waktu tempuh kantor rumah yang kurleb tiga jam lamanya, dan mengingat betapa penuh perjuangannya perjalanan pulang malam itu.

Kuhampiri Big Heart yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Badannya panas dan wajahnya pucat. Aku tanya apakah dia sudah makan dan minum obat...? Jawabnya sudah. Dalam kondisi yang demikian, sempat-sempatnya dia ‘mengurusi’ aku, “Kamu pasti capek, kalau mau mandi air hangat, masak sendiri, ya... soalnya Si Mbak juga lagi sakit. Kalau kamu belum makan, dadar telur aja dulu. Dan jangan lupa sholat, doakan aku biar cepat sembuh ya...Ffffiiiuuuhhh....!!

Oya, di saat yang bersamaan, memang pembantuku juga sedang sakit. Jadi malam itu aku benar-benar self service. Biasanya aku kan manja, apa-apa minta diambilkan dan dirapihkan oleh pembantuku. Belum lagi kalau malam-malam ingin makan ini-itu, Big Heart masih harus kurepotkan membelikan aku makanan. Malam itu, keduanya sedang tidak available untuk menuruti segala keinginanku.

Tiba-tiba aku jadi menyadari sesuatu. Selama ini sepertinya aku terlalu asik dengan dunia dan kehidupanku sendiri. Aku seringkali tidak ingat pada orang-orang yang selalu berada dibelakang rutinitasku. Ya, dalam menjalani rutinitas yang kadang terasa begitu menjemukan dan memuakkanku, sepertinya aku lupa bahwa ada orang-orang yang selalu peduli untuk memberikan dukungan moril dalam menjalani semua itu. Dan selama ini tampaknya aku kurang menghargainya. Padahal tanpa mereka, mungkin segala yang kujalani tidaklah sepraktis selama ini. Semua terasa begitu teratur dan sempurna berkat mereka. Maafkan aku, jika selama ini aku telah begitu egois.


Guess I could never imagine, how do I live without you, Mr. Big Heart...?


~ Jejak Bintang ~

2 comments:

Saint Shiryu said...

NIce Post buddy ;)
Get well soon Mr. Big Heart....

Jejak Bintang said...

thank you, buddy... ^^