Usiaku menjelang senja,
setiba matahari di atas kepala.
Belum sempat cuci muka,
belum juga belajar
bagaimana cara tersenyum yang manjur,
atau menggumam sebait doa yang jujur.
Terburu aku terbang dipaksa mencumbu langit.
Katanya, semua ini akan mempertemukan kita.
Mau juga aku percaya
dengan desir angin terkutuk itu,
yang terbiasa membiarkan petaka demi petaka runtuh.
Menyelami tubuh demi tubuh.
a poem by :
I Putu Gede Pradipta
No comments:
Post a Comment