Friday, November 18, 2011

Lorong Berpasir


Aku duduk terdiam dalam hening. Jiwa mulai beranjak menjauhi pikiran, menenggelamkan diri dalam timbunan pasir waktu. Menggali yang tersembunyi dan luput dari pengamatan inderaku. Menjelajahi jejak-jejak yang memancarkan cahaya di kedalaman misteri-Nya yang tak terbaca dalam pandangan berkabut. Menelusuri rahasia-rahasia di balik setiap kata yang pernah dilantunkan bibir ini, dan segala tindak-tanduk kelima inderaku. Jiwaku berputar-putar memasuki dimensi lain lorong waktu, semakin dalam.

Di lorong berpasir itu kutemukan cermin-cermin pantulkan beragam rupa diriku dalam kostum dan topeng beraneka, bak pemain kabaret beraksi di atas panggung megah berlatar mimpi, namun tak mengenali sejatinya karakter setiap peran yang dimainkan.

Jiwaku tertegun membatu terhempas diantara dinding-dinding lorong berpasir. Oh, ingatkah aku pada-Mu, Ya Rabb, ketika aku berlenggak-lenggok di atas panggung itu...? Adakah keselarasan memadukan akal dan perasaan yang kerap kali berperang, hingga jiwa ini terguncang meronta...?

Kau hadirkanku ke dunia sebagai sebutir permata. Kini ku terlempar terserak diantara celah bebatuan hitam yang tersembunyi di indah ladang cinta-Mu. Bergeser-geser perlahan dan lemah mencoba menggapai kilau cahaya-Mu, tak ingin pekat ini menaungiku, meredupkan pijar kilauku, Ya Rabb.

Jiwaku pun melemah, lelah bergeser mendekati-Mu Yang Maha Tinggi. Perlahan menghitam terbias bayang bebatuan di lorong berpasir yang kian menghimpit umurku. Dalam puncak kepasrahan kurasakan cahaya-Mu berkilau menembus kisi-kisi hatiku. Membisikkan sabda lembut melantun hantarkan jiwaku ringan melayang menjauhi pekat celah bebatuan hitam.

Berputar-putar dalam kecepatan tinggi menembus dimensi, terhuyung terhempas kembali ke bumi. Denyut jantung yang tak beraturan mulai menemukan kembali iramanya. Sayup-sayup terdengar melafadzkan asma-Mu yang lama tak bergema disana. Semilir angin dari ruang tak berwujud mulai menyatu dengan udara yang kuhirup. Kutemukan diriku yang telah lama hilang tenggelam dalam ingar-bingar gemerlap megah dunia semu nan tiada abadi.

Engkaulah kebadian yang sejati. Terimalah kembali sembah sujudku yang sempat kehilangan makna, sebab lama tak menyapa-Mu lewat lantunan dzikir maupun ayat-ayat Qur’an di tahun-tahun yang penuh kekosongan. Semoga tak semata menorehkan kesia-siaan.



~ Jejak Bintang ~
Kusesap hikmah di penghujung langkah dalam keterombang-ambingan...

No comments: