Thursday, August 02, 2012

Ramadhan, hikmah (2)


Saat masih duduk di bangku sekolah, aku kerap berangan seandainya terlahir dari keluarga berada, menjadi anak pejabat atau anak direktur. Dengan kata lain aku beranggapan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan banyak harta, tentulah hidupnya lebih bahagia, karena tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun. Mereka bisa membeli apa saja dan pergi kemana saja.

Mamaku adalah single parent. Dengan penghasilan pas-pasan, beliau harus berjuang sendirian membesarkan tiga anaknya. Kehidupan yang kujalani begitu sederhana dan apa adanya. Aku tidak bisa memiliki barang-barang bagus dan mahal seperti mereka yang berkecukupan. Sesekali aku merajuk pada mama, “Ma, aku pingin deh makan di restoran itu” atau “Ma, aku pingin punya komputer di rumah”. Jawaban mama selalu sama, “Nanti kalau kamu sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, kamu bisa membeli apa aja yang kamu mau, dan bisa makan enak di restoran manapun. Sekarang kamu belajar yang rajin supaya pintar, sambil berdoa sama Allah agar diberi kemudahan dalam menyerap ilmu, nanti ilmu yang kamu miliki bisa mengantarkan kamu menjadi orang sukses, Insya Allah, ngga akan sulit mencari pekerjaan”.

Perkataan beliau terus tertanam dalam benakku seiring waktu berjalan. Aku selalu giat belajar. Prestasi di sekolahku pun selalu lumayan baik dari waktu ke waktu. Sebab aku memiliki tujuan. Ingin segera bekerja, punya penghasilan, dan bisa memenuhi keinginan-keinginan yang selama ini kuinginkan. Jika semua itu sudah kuraih, maka aku akan bahagia. Begitulah pikirku.

Kebahagiaan. Hal-hal apa sajakah yang mendatangkan kebahagiaan bagi manusia...? Harta/kekayaan, pangkat/jabatan, kesehatan, kemuliaan, status sosial dalam masyarakat, pengetahuan/wawasan yang luas, dan lain-lain. Namun benarkah, dengan memiliki semua itu, maka kita sudah pasti akan bahagia...?

Memiliki begitu banyak keinginan sifatnya memang manusiawi. Namun manusia cenderung tak pernah puas. Ketika satu keinginan telah terpenuhi, keinginan lainnya akan muncul, dan begitu seterusnya. Contohnya, dulu saat harga handphone masih relatif tinggi, dan untuk memiliki handphone tidaklah semudah dan semurah saat ini, rasanya jika bisa memiliki yang termurah pun tak apa, yang penting punya. Kemudian saat orang-orang memakai yang terbaru dan handphone kita sudah ketinggalan zaman, kita pun menggantinya. Dan begitu seterusnya, sebab teknologi akan selalu berinovasi. Demikian pula halnya dengan keinginan-keinginan duniawi lainnya.


~ Jejak Bintang ~


Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari: 6446 dan Muslim: 1051).

Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari: 6436)


...to be contineu

No comments: