
Kaum PRIA cenderung lebih banyak menggunakan LOGIKA, dan kaum WANITA cenderung lebih banyak menggunakan PERASAAN. Ya, statement yang udah basi banget, kaleee... Semua orang juga udah tau, hehehe...
CURHAT a.k.a. Curahan Hati memang lebih populer di kalangan wanita, mengingat karakteristik wanita yang cenderung lebih sensitif dan peka perasaannya dibandingkan pria, membuat mereka merasa selalu membutuhkan teman bicara untuk sekedar hanya ingin didengarkan, hingga meminta saran atau pendapat atas persoalan yang dihadapinya. Begitulah wanita.
Aku merasa sudah biasa dijadikan tempat curhat oleh teman-teman dan sahabat-sahabat sejak zaman ABG dulu. Yang tema curhatannya masih cupu alias ngga jauh-jauh dari persoalan-persoalan seputar sekolah, orangtua yang keras, pertengkaran antar kakak-adik di rumah, dan tentu saja, cinta monyet.
Dulu aku sempat bertanya-tanya, kenapa begitu banyak teman yang memilih aku sebagai media curhat mereka...? Namun kini aku paham, sepertinya alasan utama mereka adalah karena aku termasuk kategori anak pendiam yang tidak banyak omong. Seems like I could be a secret keeper for them. Pada masa-masa rentan dunia remaja, umumnya mereka curhat semata-mata karena butuh didengarkan, atau dibesarkan hatinya. Sebab persoalan-persoalan remaja itu tidak jauh dari proses pencarian jati diri, krisis kepercayaan diri, pubertas tahap pertama dan kelabilan, dimana mereka selalu butuh second opinion pada hampir setiap jengkal persoalan hidup yang dialami.
Waktu pun bergulir. Masa-masa remaja yang indah telah berlalu dari hadapan. Dalam dua tahun terakhir, aku banyak dihubungi oleh teman-teman terdekatku dari masa ke masa. Aku menyebutnya SAHABAT, karena kedekatanku dengan mereka yang telah teruji waktu. Seiring laju usia, persoalan yang dihadapi sudah semakin kompleks. Sebagian yang sudah menikah mulai dihadapkan dengan berbagai persoalan rumah tangga dan repotnya mengurus anak. Tentunya mereka sudah tidak lagi semata-mata hanya butuh untuk didengarkan, tapi juga butuh diberikan pandangan-pandangan, saran dan masukan yang tepat atas persoalan yang dihadapi.
Seringkali aku menghela nafas panjang, setiap satu dari mereka mulai membuka cerita, yang tentunya tidak ingin diketahui oleh orang lain, selain aku. Ada beban berat disana, berada diantara rahasia orang, kepercayaan dan tanggung jawab untuk mampu merahasiakan semua itu, plus memberikan pandangan-pandangan yang dapat membesarkan hati mereka. Biasanya orang yang sedang dalam persoalan, akal sehatnya tidak mampu berfikir dengan jernih.
Sementara, aku hanyalah seorang wanita biasa saja. Pola pikir, dan bahkan terkadang sikapku, masih sangat jauh dari istilah atau kategori “matang”. Lalu bagaimana aku semestinya memposisikan diri dihadapan mereka yang mengharapkan pandangan-pandangan dan bahkan solusi dariku atas persoalan-persoalan yang sedang dihadapi...?
Setelah kutelusuri lebih jauh, ternyata menjadi tempat curhat telah membuka pandangan-pandangan yang lebih luas bagi diriku. Ragamnya permasalahan para sahabat, secara tidak langsung telah menorehkan nilai-nilai kehidupan yang baru, dan memberikan dampak yang positif dalam proses pematangan sikap, pikiran dan jiwaku. Ketika pikiranku sedang sibuk mencerna persoalan yang dijabarkan, hatiku berusaha merangkumnya, untuk kemudian aku “harus” menghasilkan kata-kata yang paling tidak dapat memberikan ketenangan, jika ternyata keterbatasan pikiranku tak kuasa untuk menghadirkan solusi.
Selain itu, sekian lama menjadi tempat curhat, sedikit banyak juga berpengaruh dalam membangun rasa percaya diriku, dimana selama ini aku orangnya minderan. Kini aku merasa, semakin banyak sahabat yang datang untuk curhat, artinya mereka telah menaruh kepercayaan padaku. Bagi mereka, aku bukanlah hanya teman dalam kesenangan, tetapi aku juga orang yang paling tepat untuk mereka datangi untuk membagi kesedihan dan air mata. Dan mereka percaya, bahwa aku memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi. Bagiku personally, menjadi tempat curhat dapat kujadikan sebagai media untuk introspeksi diri, karena sahabat adalah cermin.
So... jadi tempat curhat...? Siapa takuuutt...?! Lebih baik kita menikmatinya, dan tidak menjadikannya sebagai beban. Anggap saja sebagai sarana untuk menambah wawasan jika sewaktu-waktu menghadapi persoalan yang sama. Setidaknya kita sudah punya gambaran langkah-langkah penyelesaiannya. Dan satu lagi, anggaplah hal ini sebagai bagian dari ibadah, karena keberadaan kita sebagai tempat curhat, Insya Allah dapat meringankan beban bathin bagi para sahabat tercinta. Sekalipun kita tidak selalu bisa memberikan solusi, at least mereka merasa plong karena telah menumpahkan unek-uneknya kepada kita. Selamat berbagi curahan hati dengan sahabat, yaaa... :)
~ Jejak Bintang ~
No comments:
Post a Comment