Tuesday, February 08, 2011

Serba Salah (alkisah...)


Teringat masa-masa waktu masih kuliah dulu, aku bekerja sambil kuliah. Pagi aku bekerja, sorenya aku kuliah. Jam kuliah teorinya selalu jam 5 sore, tapi pelaksanaannya lebih sering ba'da maghrib. Selain nungguin dosen yang (katanya) kena macet di jalan, juga nungguin para mahasiswa/i yang sekitar jam 5 sore itu baru pada keluar kantor masing-masing or masih on the way ke kampus juga. Well, pastinya kalo cuma ada satu mata kuliah, selesainya sekitar jam 7 s.d. 7.30 pm, kalo nyambung satu mata kuliah lagi, bisa selesai jam 8.45 s.d. 9 pm.

Dulu, kalo pulang malem gitu aku ada barengan, sahabatku Ink, kebetulan kami pulangnya searah. Tapi sejak Ink kost dekat kampus, aku jadi terpaksan pulang sendiri. Nah, cowokku, Mr. Big Heart, ngga tega membiarkan aku pulang sendirian malem-malem, takut akunya diculik, hihi... padahal sih bilang aja takut aku banyak tawaran dianter pulang sama cowok-cowok kampus, ya... *GR mode: on

Tiap pulang melintasi jalan komplek, selalu ada geng bokap-bokap yang (plis deh udah selarut itu kurleb jam 11.00 pm) masih haha-hihi sambil main kartu, mereka selalu saling kasih kode ke temennya yang lain tiap kita lewat... kesannya kita abis keluar dari semak belukar gitu dech... dan kalo kita sapa baik-baik, "Permisi, Pak.....", mereka lebih sering pura-pura ngga denger, besok-besoknya jadi males negor deh. Eh... giliran ngga ditegor, ada aja yang nyeletuk, "Punten... mangga... punten... mangga....". Iiiihh... maunya apa sih mereka...???

Akhirnya, pas aku lagi ikut pengajian, aku tanya sama guru ngajiku (waktu itu lagi membahas sopan santun kaitannya yang muda menyapa yang tua kalo papasan di jalan), "Pak Ustadz, kalo kita udah berusaha sopan, tapi tidak mendapatkan feedback yang semestinya dari orang tersebut, gimana...? Malah terkesan orang yang kita sapa memandang kita negatif aja. Ngeliat saya pulang malem dianter cowok saya, kesannya saya tuh abis keluar dari semak belukar. Padahal kan saya pulang kuliah... bla... bla... bla..."

Guru mengajiku menjawab, "Alkisah... ada seorang ayah, seorang anak laki-laki dan seekor keledai dalam suatu perjalanan. Sang anak menunggangi keledai, dan sang ayah berjalan di sisinya. Ketika melewati sebuah dusun, terdengar bisik-bisik warga yang mereka lewati, 'Sssstttt... lihat anak itu, tidak tahu diri ya, ayahnya dibiarkan berjalan sementara dia naik keledai. Ayah yang malang, punya anak tidak berbakti'. Sang anak yang mendengar perkataan itu lantas turun dari keledai dan berganti ayahnya yang menaiki keledai. Mereka melanjutkan perjalanan dan kembali singgah di dusun yang lain. Kembali terdengar ada yang berucap, 'Ayah macam apa itu, enak-enakan naik keledai, sementara anaknya yang malang berjalan kaki sedemikian jauhnya'. Ayah dan anak itu saling pandang, akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan tanpa seorangpun menunggangi si keledai. Ketika mereka berdua kembali melewati dusun lainnya, kembali terdengar bisik-bisik orang yang melihat mereka, 'Alangkah bodohnya ayah dan anak itu, ya... Ada keledai bersama mereka, bukannya ditunggangi, malah dibiarkan menganggur, biar tahu rasa kaki mereka kelelahan...'. Dan sekali lagi mereka termakan oleh omongan orang dan memang mereka berdua juga mulai kelelahan, sehingga ditunggangilah si keledai oleh mereka berdua. Apa yang mereka dengar selanjutnya...? 'Keledai yang malang, tubuhnya yang kecil itu harus menahan berat tubuh dua orang manusia yang tak punya belas kasihan terhadap binatang...'. Akhirnya, karena tidak tahan dengan keadaan yang serba salah tersebut, ayah dan anak itu memutuskan untuk menggendong keledai itu sepanjang perjalanan selanjutnya, dan mereka semakin dicemooh di dusun berikutnya, karena para penghuni dusun yang mereka melintasi sudah tidak lagi berbisik-bisik, melainkan dengan suara lantang berteriak ke arah mereka sambil menunjuk (pastinya di keramaian), 'Hey, lihat dua orang bodoh ini...!!! Bukannya menunggangi keledainya, malah menggendong keledai ini berdua... Hahahaha.....!!!', tawa orang itu diikuti 'penonton' lain yang ikut menyaksikan..."

Aku dan teman-teman mengajiku tentu saja ikut tertawa, sampai akhirnya Sang Guru berkata, "Selama kita hidup berdampingan dengan orang lain, Allah akan selalu menguji kita dengan mereka. Maka jalanilah hidup ini dengan pikiran yang sederhana, tidak perlu takut akan pendapat orang lain terhadap kita, karena apa yang BENAR di mata manusia, belum tentu BENAR dimata Allah..."

Wallahu alam bisawab...


~ Jejak Bintang ~

No comments: