Wednesday, March 17, 2010

Sang Malam, Langit Kelam dan Gugusan Bintang


Kutelusuri malam yang dingin
di tempat yang tak kukenal
dan tak mengenalku...

Halusinasi berpendar diantara pekat langit
diwarnai putih asap, kepulan mega
Yang samar-samar tampak seperti kabut
yang menyelimuti malam...

Adakah diantara gugusan bintang,
jalan untuk kembali ke masa lalu…?

Tentu saja dalam perenungan,
masa lalu, masa kini dan yang akan datang
berbaur dalam satu aroma kudus
disesap dalam ratusan hirupan
oleh indera penciumanku...

Tak ayal kurapatkan kedua tanganku
Mendekap di dada, membiarkan sesak itu semakin terasa dan aliran darah yang mendidih semakin bergejolak di dalam tubuh yang mulai membeku, menggigil, kedinginan…

Perlahan kubuka kedua katup mataku memandang langit kelam,
Tampak di atas sana gugusan bintang nan indah berkilau menghiasi kelamnya langit
Kucari satu bintang yang kukira mengikutiku sampai sejauh ini, dari kampung halamanku tercinta… ternyata tak ada…

Yang bertebaran di atas sana hanya bintang-bintang milik tanah tempatku berpijak, sehingga kembali aku lantas merasa kesepian…

Bintangku tak ada, dia tak setia mengikuti langkahku sejauh ini… lalu aku pun bersedih…

Sampai kudengar hatiku berbisik perlahan, “Tidakkah itu baik bagimu, Bintangmu akan tetap berpijar dengan indah di tempat semestinya… Karena terkadang kamu memang harus melangkah sendirian tanpanya… Tapi, lihatlah gugusan bintang lainnya menaungi langit di atas kepalamu saat ini, mereka juga indah, memahkotai sang langit kelam… maka berhentilah berfikir bahwa bintangmulah satu-satunya yang indah… kamu belum ke mana-mana, di belahan bumi lainnya barangkali akan kau temukan cahaya bintang yang lain, yang akan menemani malam-malam sepimu… maka biarkanlah bintangmu setia pada langitnya, dan langkah kakimu juga tidak akan tertahan karenanya… Janganlah kau bawa terus sesuatu yang indah dari satu tempat, untuk terus mengikutimu kemanapun kau pergi, sebab keabadian bukanlah milik manusia… begitupun suka dan duka, begitupun kesenangan dan luka…”.

Seperti kata Gibran dalam Sang Nabi "...Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran..."

Bathinku bergumam, “Jika memang demikian… Jika bintangku bisa tetap disana sementara aku berada di tempat lain yang begitu jauhnya… Maka bolehkah, jika kutinggalkan lukaku disini, membiarkannya membeku, lantas terbunuh oleh dinginnya suhu di tempat ini, bolehkah demikian…?”

Tak ada jawaban, hanya ada semilir angin yang berhembus mengembalikan kesadaranku, dari buaian malam yang mencekam, dalam kesendirian hanya bertemankan langit kelam dan gugusan bintang…


tapi akhirnya disanalah aku menemukan jawaban


Terima kasih, wahai malam… langit kelam… gugusan bintang… percakapan kudus antara hati dan pikiran… dan tentu saja, Sahabatku… atas segala pengertian, kesabaran dan dukungan yang masih terus kau berikan, dalam bentangan jarak dan perbedaan waktu yang tak tertempuh…



~ Jejak Bintang ~
*) Coldy Distant Place

No comments: