Thursday, February 11, 2010

sahabat adalah cermin


Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya” (Rectoverso: 8)


Namanya Shiryu, dan ini hanya sepotong kisah tentang pertemanan kami (jika memang terlalu cepat untuk menyebutnya persahabatan). Aku berkenalan dengannya di dunia maya, melalui perantara seorang teman. Selanjutnya, seperti aliran sungai yang bermuara ke laut, demikianlah ikatan pertemanan itu terjalin, mengalir begitu saja, tanpa ada rasa keterpaksaan maupun embel-embel lainnya. Begitu murninya pertemanan ini, aku merasa seperti menemukan keteduhan di bawah sebatang pohon yang rindang, diantara sengat matahari yang panas membara. Seiring waktu kami semakin saling mengenal karakter masing-masing, dan tentu saja seperti pertemanan pada umumnya, terkadang terjadi salah paham diantara kami, mengenai banyak hal. Kami memiliki sudut pandang yang berbeda tentang hidup, kami juga banyak berseberangan pendapat, tapi sejauh ini masih dapat saling menerima dan menghargai prinsip hidup masing-masing.

Shiryu bukan tipikal orang yang banyak bicara, ia cenderung pendiam dan introvert, tak banyak bercerita tentang dirinya di awal perkenalan. Justru akulah yang tampak seperti ember tumpah atau genderang bising yang memekakkan telinganya, karena ceritaku tak pernah ada habisnya. Bagusnya, ia selalu bersedia mendengarkan.

Entah atas dasar pertimbangan apa, akhirnya si introvert itu seiring berjalannya waktu, mulai mau membuka dirinya, dan bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya, tentu saja dengan intonasi yang lebih tenang dan tidak tergesa-gesa sepertiku.

Ya, tergesa-gesa… mungkin memang aku tergesa-gesa dalam pertemanan ini, seperti pernah kutuangkan dalam sebuah tulisan di blog pribadiku tentangnya:

Aku tahu, aku belum terlalu lama mengenalmu. Namun, kita telah dipertemukan Tuhan pada satu titik kehidupan, dimana kita (seharusnya) adalah dua manusia dewasa yang sudah banyak meretas pengalaman hidup diatas jalan takdir kita masing-masing, sebelum kita satu sama lain dipertemukan. Aku sungguh ingin mempercayaimu

Shiryu hanya berkomentar singkat :

Perjalanan masih panjang, Sobat. Pertemanan ini masih akan banyak ujian… Semoga saja mampu bertahan…! Karena berat ketika kau terlalu banyak tahu… hanya ada satu pintu masuk, telah dihapus pintu keluar… Siap-siap saja melihat pantulan dirimu apa adanya karena aku hanya cermin biasa…”


hanya cermin biasa

ya, tentu saja tak ada yang istimewa



~ Jejak Bintang ~

1 comment:

Saint Shiryu said...

jadi terharu...hiks...hiks..
trims atas tulisannya ;)