Wednesday, December 01, 2010

tentang AYAH (inspiring by a friend o'mine)



Rasanya baru hari Minggu kemarin, sahabatku, Innocent Devil bercerita tentang ayahnya disepanjang perjalanan kami menuju Mal Ciputra. Innocent dan aku sama-sama merupakan anak korban perceraian orangtua sejak kecil. Mungkin itulah salah satu faktor yang kemudian mendekatkan kami selama masa SMU.

Innocent sudah sejak usia SD tidak pernah lagi bertemu ayahnya, sama seperti aku. Dulu, kami sama-sama merasa menjadi anak yatim. Bedanya, mamaku menikah lagi, mamanya Innocent tidak. Tapi kami sama-sama merasa tidak memiliki figur ayah yang sejati dalam menjalani hidup ini, ada banyak cerita yang kami bagi seputar kisah ayah-ayah kami yang sama-sama 'terasa' tidak lagi mempedulikan kami. Entahlah...


"Seminggu yang lalu, gue ketemu bokap gue...", Innocent membuka percakapan.

"Oya, kok bisa...? Emang sengaja mau minta doi jadi wali buat merit tahun depan...?", tanyaku sambil menggodanya. Innocent memang sudah berencana untuk menikah, Insya Allah tahun depan dan beberapa waktu lalu aku memang pernah menanyakan kabar ayahnya ini.

"Ngga. Adiknya bokap gue telepon nyokap gue, ngasih tau kalo bokap udah sakit parah, minta semua kesalahannya dimaafin..."

"Terus reaksi nyokap gimana...?"

"Yaa, nyokap kaget juga, udah lama ga ada kontak sama keluarga doi, tau-tau sekalinya ngubungin malah ngasih kabar kaya gitu. Akhirnya nyokap cerita sama paman gue, dan paman gue ngajakin nyokap sama semua anaknya kesana, nengokin. Ternyata selama ini doi tinggal di Jakarta..."

"Hmmm... gimana perasaan lo ketemu doi...?"

"Ngga tau, aneh aja, udah beda banget sama image terakhir yang terekam di memory gue dulu... udah tua banget... badannya bengkak karena penyakitnya, tapi pas keluarga gue dateng, doi sok-sok yang maksain duduk, padahal keliatan banget badannya lemah. Mungkin doi ngga nyangka kalo anak-anaknya mau dateng semua, kali...", ujar Innocent dengan ekspresi wajah yang haru, dan kulihat tatapannya menerawang jauh, seperti melintasi waktu masa kecilnya dulu, saat keluarga mereka masih utuh.


Lalu Innocent mulai bercerita panjang tentang pertemuan dengan ayahnya itu, aku merasa terharu mendengarnya, ketika sang paman menyampaikan bahwa anaknya akan menikah tahun depan, Innocent bilang mata beliau berkaca-kaca. Dan saat melihat adik bungsu Innocent, sang ayah tampak haru, karena terakhir sang adik masih bayi saat orangtuanya bercerai. Innocent juga mulai bercerita tentang kenangan-kenangan masa kecilnya yang tidak cukup banyak bersama ayahnya. Selama ini Innocent tumbuh tanpa beliau, sejak kanak-kanak. Sekalipun selama ini Innocent 'tampak' tidak menghiraukan ketidakhadiran sang ayah, namun ada haru ketika Allah SWT secara 'ajaib' mempertemukan lagi mereka dalam kondisi seperti itu.


------------------------------------------------------------------------

Pagi ini, aku sedang sarapan di meja kerjaku ketika ada SMS masuk, dari Innocent


"Yan... bokap gue meninggal kemarin... alhamdulillah gue udah sempat ketemu..."


Singkat, padat jelas. Ada rasa kehilangan yang mendalam tersirat dalam kata-katanya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku teringat ayahku. Selama ini aku begitu membenci ayahku, karena aku merasa Ia tidak punya 'peran' sedikitpun dalam hidupku dan adikku yang Ia tinggalkan sejak kecil. Membaca SMS Innocent membuatku tertegun sesaat. Aku seperti dapat merasakan suatu perasaan yang ia rasakan di dalam hati, tentang ayahnya. Perasaan yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Sarapanku pun tak habis, karena tiba-tiba saja perutku kenyang. Kubalas dengan segera SMS-nya dengan kalimat yang menenangkan, sesingkat dan sepadat mungkin namun jelas menyiratkan simpatiku yang terdalam.

Aku pun membathin kepada diriku sendiri, "Hey, ayahku... mungkin dirimu selama ini terlalu banyak alpa dikehidupanku, tapi aku pun menyadari, tanpa dirimu, aku mungkin tak ada... dan jika waktu masih memadai untuk kita, mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti mengabaikan semua telepon dan SMS masuk darimu... ternyata menjadi seorang anak perempuan tanpa ayah telah membuatku angkuh untuk memaafkanmu selama ini... maafkan aku..."

Terima kasih, sahabatku Innocent... Kudoakan, semua ini akan memberikan satu pelajaran berharga bagi kita... Semoga ayahmu diterima disisiNYA, dan mendapatkan tempat yang lebih baik, amin...

~ Jejak Bintang ~

...............................................

"... Ayah, dalam hening sepi kurindu ...

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
..."

(a song by Ebiet G Ade)

No comments: