Thursday, December 24, 2009

manusia & kendaraan


Pengalaman ini mulai kudapatkan semenjak aku membeli sepeda motor Honda Beat, sepulang aku dinas luar negeri pertamaku, April 2009 ke Thailand. Saat itu alhamdulillah aku mendapatkan rizki lebih dariNya. Aku belajar motor hanya dalam waktu relatif singkat. Satu bulan, aku sudah berani bawa motor ke kantor. Alhamdulillah aku belum pernah terjatuh dari motor, kalau disenggol, ditabrak, atau bahkan sedikit nabrak ketika kendaraan didepanku mengerem mendadak, itu pernah.

Ketika di atas motor, aku merasa cepat sekali menguasai kecepatan, atau lebih tepatnya mengatur kecepatanku. Aku termasuk nekat memang, senang menyalip kendaraan lain didepanku jika kurasakan mereka berjalan terlalu lambat. ketika diatas motor, satu sisi egoku merasa menguasai jalan, aku tak sabar menunggu mereka yang bergerak lambat didepanku. Mungkinkah ini namanya keangkuhan…?? Tapi, di sisi lain aku juga mulai mempelajari karakter manusia-manusia lain ketika berkendara, atau lebih spesifik, orang-orang Indonesia (Jakarta). Betapa angkuhnya mereka di atas kendaraan mereka, salip sana, salip sini, senggol, tabrak, klakson, hingga makian telah menjadi pemandangan yang biasa di jalan raya ibukota. Entah siapa yang patut disalahkan kalau sudah begini.

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, peraturan berkendara di negeri ini teramat sangat tidak professional. Misalnya untuk pembuatan SIM saja, mereka yang mampu membayar, sekalipun NOL BESAR dalam menguasai peraturan lalu lintas, atau hanya memiliki kemampuan berkendara sekedarnya (asal mesin bisa nyala, bisa belok kanan, belok kiri, ngegas, ngerem) sudah bisa mengantongi SIM. Akibatnya, di jalan raya mereka bisa berbuat semaunya, entah atas dasar merasa segalanya dapat dibeli dengan uang atau atas dasar apa. Kedua, pola pikir masyarakat perkotaan yang culas, “yang namanya naik motor, kalo nggak nabrak ya ditabrak”. Mengerikan sekali ketika menyadari kenyataan bahwa kecelakaan motor itu seperti berita biasa bagi masyarakat Jakarta. Kalau kita ugal-ugalan, ya paling nabrak orang. Kalau kita baik-baik aja, ya paling ditabrak sama yang ugal-ugalan. Manusia GILA…..!!!

Ketiga, suasana jalan yang ricuh, polusi bertebaran di udara menyebabkan para pengendara stress, pusing, pengap sehingga mereka semua ngga betah berhenti lama-lama di lampu merah atau berdesakan di jalan raya yang padat polusi. Di mindset semua orang sepertinya “HARUS NGEBUT”, harus secepat kilat sampai ditempat tujuan, yang penting ngebut aja, yang lelet senggol aja, siapa suruh lelet jalan di tengah, kayak orang baru belajar naik motor aja. Jangan marah kalau kamu disenggol, diserempet, siapa suruh lelet….!!! (SADISSS)

Well, kira-kira itu adalah gambaran umumnya. So, pikir masak-masak kalau mau berkendara sendiri di Jakarta, sebab otak pengendara memang brutal….!!


WASPADALAH…. WASPADALAH….!!!!!


~ Jejak Bintang ~

2 comments:

Anonymous said...

teriakan keprihatinan seorang warga negara...jadi ingin bertanya saat anda bikin sim, ikutan nembak juga ga ??

Jejak Bintang said...

hehehehe.... menurut anda....??