Tuesday, May 05, 2009

Somewhere I Belong

I wanna heal, I wanna feel what I thought was never real
I wanna let go of the pain I’ve held so long
(Erase all the pain till it’s gone)
I wanna heal, I wanna feel like I’m close to something real
I wanna find something I’ve wanted all along
Somewhere I belong

I will never know myself until I do this on my own
And I will never feel anything else, until my wounds are healed
I will never be anything till I break away from me
I will break away, I'll find myself today

(Somewhere I Belong : Linkin’ Park)

RELATIONSHIP, segala yang berhubungan dengan hal ini memang serumit para pelakunya sendiri, yaitu manusia. Lagu ‘somewhere I belongby Linkin’ Park ini, sebenarnya tersirat satu makna yang bagus banget kalau kita mau mencernanya, terlepas dari jenis musiknya yang terlalu ‘keras’ bagi telinga orang-orang yang udah ngga ABG lagi. Kembali ke relationship tadi, sebenarnya ini sebuah catatan yang sangat personal. Aku pernah kehilangan seorang sahabat lewat cara yang sangat tidak pernah terbayangkan olehku, yaitu diadu domba secara keji dan licik oleh pihak ketiga, seorang (yang saat itu) temanku juga, yang juga mengenal sahabatku ini.

Peristiwa itu terjadi pada bulan April 2004 silam, dan akan selalu membekas dalam ingatanku, karena aku merasa sangat didzolimi olehnya, seakan dia tidak mengeti kalau aku dan sahabatku telah menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk sampai pada titik ‘persahabatan’ ini, dan dia memutuskan ikatan ini hanya dalam hitungan detik (well, sebenarnya sih lewat rencana panjang yang matang, barangkali).

Sejak peristiwa itu, aku merasa hidupku hancur, luluh, lantak, berantakan, dan sebagainya. Aku merasa sangat depresi dibuatnya. Bagaimana tidak, antara aku dan sahabatku ini telah terbangun kepercayaan sampai tingkat yang sangat ekstrim, ‘no secret between us’, kira-kira begitu. Berarti, betapa hebatnya skenario si orang ketiga ini sampai-sampai dinding kepercayaan yang (kukira sebelumnya) kokoh, bisa runtuh tak berbekas begitu saja, seharusnya orang ini mendapat nominasi oscar untuk penulis skenario terbaik, weks…!!!

Intinya, persahabatan kami hancur (nyaris) tak berbekas, dan aku melalui hari-hari yang diselimuti penyesalan karena terlalu mudah percaya pada si ‘evil’ itu, betapa hancurnya perasaanku karena si ‘evil’ ini pun sebenarnya seorang teman yang sudah kukenal cukup lama, dan tempatku curhat, sampai minta advice….”how could you do that to me….???”.

Sejak kehilangan sahabatku itu, aku merasa separuh diriku ikut hilang, aku merasa jiwaku tidak lagi penuh, aku merasa enggan melangkah ke depan tanpanya, karena aku merasa tak diberi kesempatan sedetikpun untuk ‘membela diri’, memang, peristiwa tersebut bukan sepenuhnya salah si ‘evil’, ada juga kesalahanku, aku telah ‘membagi’ rahasia sahabatku itu dengan si ‘evil’, mengingat bahwa si ‘evil’ selama ini selalu bisa diandalkan sebagai salah seorang teman yang juga cukup dekat denganku dan dengan sahabatku itu. Bahkan saat hubunganku denga sahabatku mulai merenggang, si ‘evil’ pernah ‘berjanji’ akan membantu memperbaikinya, namun syaratnya sangat ‘berat’, konsekuensinya ternyata sangat besar, dia ‘memancing’ diriku untuk membuka ‘sedikit’ rahasia, yang akhirnya malah menghancurkan semuanya.

Dan, kaitannya dengan lagu ‘somewhere I belong’ ini, sejak peristiwa itu aku selalu mengutuki diriku karena tidak bisa menjaga rahasia orang terdekatku, aku mulai kehilangan self esteem atas diriku sendiri, aku terus berfikir kalau diriku hanyalah seorang pecundang yang tak layak menjaga rahasia siapa pun, aku terus hidup dalam gelombang perasaan bersalah yang menekan emosiku sampai ke titik yang paling dalam, aku merasa diriku telah kehilangan segalanya, seakan segala hal-hal lain yang kumiliki tak pernah sebanding dengan persahabatanku yang hilang itu. Lalu, kudengar lagu ini untuk pertama kalinya di stasiun radio yang sering ku putar untuk menemani waktu luangku yang tak pernah ‘santai’. Karena aku memang sudah menyukai Linkin’ Park sejak album pertama mereka, dan aku juga sudah punya kasetnya (album pertama), maka aku memutuskan untuk membeli kaset album keduanya ini, ‘Meteora’, kuresapi lirik lagu ‘somewhere I belong’ ini yang terasa sangat dekat dengan kehidupanku, dan aku mulai menyadari kebodohanku yang terus tenggelam dalam keadaan yang sama sekali tidak menguntungkanku. Maka, aku mulai menata kembali kehidupanku, merelakan ‘perpisahan’ yang kurasa sangat dipaksakan, merelakan si ‘evil’ menari-nari di atas penderitaanku, dengan satu keyakinan, suatu hari ia akan mendapatkan balasan dari Yang Maha Tahu, dan mulai menghargai keberadaan hal-hal lain yang masih kumiliki, masih menemaniku dalam keadaan terberat dalam hidupku, merekalah sahabat-sahabatku yang lain, teman-temanku, keluargaku, dan tentu saja kekasihku. Kupikir, “no matter what happen, the show must go on…”.

Kalau kita ingin keluar dari keadaan yang terasa begitu menyiksa diri kita sekian lama, kita tidak akan pernah berhasil jika hanya terus berpangku pada waktu yang terus berlalu tanpa mau menunggu kita meski hanya untuk satu detik saja. Kita harus berani melepaskan diri dari tempat yang telah membelenggu hati dan pikiran kita untuk terus melanjutkan perjalanan dan melangkah ke depan. Dan, hanya kita yang paling memahami sedalam apa luka dalam hati kita, tak seorang pun bisa mengobati luka yang ada di dalam hati orang lain, ingat pepatah “dalamnya laut bisa di ukur, dalamnya hati siapa tahu”, jadi sangat impossible kalau orang lain yang (bahkan) tak bisa menyelami kedalaman hati kita, bisa menyembuhkan luka itu. “I will never know myself until I do this on my own, and I will never feel anything else, until my wounds are healed”, begitulah kira-kira.

Setelah kita berhasil mengobati sendiri semua luka yang (sebenarnya) diakibatkan oleh ‘kelalaian’ diri kita sendiri, kita semestinya sudah menapakkan langkah ke arah yang kelak lebih mendewasakan kita, ke arah yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Semoga pengalaman ini akan menjadikan diri kita lebih berhati-hati dalam melangkahkan kaki ke depan. Amin.


~ Jejak Bintang ~
*) Story flash back, on August 24th 2008

No comments: