
Aku mulai muak dengan semua yang kubaca dan merasa jenuh. Sepertinya hampir semua ide-ide penulisan terlalu digambarkan bersifat general dalam penerapan suatu penulisan dan terasa tidak spesifik. Apakah sepanjang masa semua penulis selalu berkiblat pada tulisan-tulisan terdahulu dan tak melahirkan ide-ide baru...? Aku mulai bosan mencerna isi buku yang menonjolkan budaya barat beserta keyakinannya yang sesat yang terlalu berlebihan seakan merasa sempurna.
Lalu kemana perginya kebudayaan timur yang dulu begitu kental dan mengedepankan kesucian...? Tampaknya perkembangan zaman telah merenggut kesucian budaya timur dan menginjak-injaknya, seakan tergilas zaman.
Penerapan kebebasan yang tak terbatas (liberalisme) milik budaya barat rasanya ’kurang sesuai’ dengan keadaan negeri ini. Dan mengapa bangsa kita cenderung meniru budaya barat yang negatif padahal bergitu banyak sisi positif yang bersifat universal yang diabaikan seakan dianggap ’ketinggalan zaman’...?
Aku merasa... tak ada pergerakan yang positif pada bangsa ini. Semua semakin brutal dan menggila. Terasa kedamaian semakin jauh meninggalkan bangsa ini yang semakin diperbudak modernisasi dan westernisasi yang cenderung berdampak negatif.
Bosan membaca, surat kabar selalu memberitakan tindak kriminal sadis sebagai berita utama. Tak ubahnya radio dan televisi, semakin tidak mendidik, membawa kekhawatiran yang lebih besar dibanding sebelumnya. Acara hiburanpun mengekor saja, tak lebih kreatif, membuat segalanya terasa monoton dan sama sekali kurang variatif. Membosankan...
Dibanding segala media aku lebih merasa membaca adalah kegiatan yang benar-benar bermanfaat, terutama buku-buku karangan pujangga besar maupun ’orang-orang hebat’ dari Barat. Tapi akhir-akhir ini entah mengapa aku mulai tertarik membaca buku mengenai ’teologi’. Mungkin aku mulai berminat untuk mempelajari perbandingan agama. Namun semakin aku membaca keyakinan yang bukan keyakinanku, membuatku merasa beruntung terlahir sebagai keturunan MUSLIM.
Tapi suara di dalam diriku berteriak mengapa mereka yang dipuja dunia karena pemikiran, penemuan dan kejeniusannya di bidang ilmu pengetahuan internasional begitu buta untuk melihat dan menerima kenyataan tentang ISLAM ?
Dan dari banyaknya buku yang kubaca, ada satu yang paling menyentuh kedalam jiwaku melebihi yang lain yang pernah kubaca seumur hidupku. AL-QUR’AN, atau tepatnya TAFSIR QUR’AN.
Aku merasa semua jawaban atas semua pertanyaan dalam hidup kutemukan disini, dan mampu memberi ketenangan kedalam perasaan dan jiwaku di saat-saat yang sulit dalam hidup.
Tapi selalu saja aku merasa berdosa dan terus berulang, karena aku merasa masih begitu ’senang’ berbuat dosa yang jelas-jelas kusadari keburukannya. Mengapa...?
Apakah aku ini memang munafik...?
Seperti ada perasaan yang menggelayuti hati, pikiran dan jiwa ini pada satu waktu, Ingin Kembali Ke Fitrah, tapi sulit rasanya. Seperti masih ada penghalang yang menghadang. Berulang-ulang kutanyakan pada diriku sendiri, penghalang apakah itu...?
Ternyata jawabannya sangat membuatku tertekan ”Penghalang Itu Adalah Sifat Jahat Dalam Diriku Sendiri” yang tak akan pergi jika tidak ’benar-benar’ didorong oleh kemauan dan usaha yang keras. Bagaimana menepisnya...? ”Dengan Meningkatkan Keimanan Dalam Diri”.
”Tapi Nafsuku Tak Mau Kalah...!”, ”Jangan beranggapan lemah terhadap dirimu sendiri, sama saja dengan memanjakan setan di dalam dirimu, dan akan sulit untuk menang” .
”Masa depan itu seperti cermin yang tak tembus pandang. Semua orang yang mencoba melihat kedalamnya tak akan melihat apa-apa tapi hanya sebuah kerangka dari sebuah wajah lama yang cemas”
(Jim Bishop)
(Jim Bishop)
~ Jejak Bintang ~
catatan April 2005
No comments:
Post a Comment